NarasiLia.com

be a good life and happy family

Terapi Uap di Rumah Saja


Shidqi itu anak yang paling sering terserang penyakit. Kadang batuk, muntaber, pilek, lama-lama sesak nafas, dahaknya terdengar becek namun sulit keluar, akhirnya keluar dengan sering disertai muntah. Sebalnya jika ini bersamaan ketika dia sedang makan. Setiap makan, batuk, lalu muntah. Sedih dan gregetan melihat badannya makin kurus saja, nafasnya juga tersengal-sengal diiringi demam. 

Sudah tiga hari Shidqi demam tinggi, batuk, pilek berat, dan keliatan sesak nafas. Perut, dada, lehernya kembang kempis, terlihat cekung dalam dan naik turun. Tak tega lihatnya. Kami segera membawanya ke dokter anak

"Anak ibu terkena asma", jawab seorang dokter. Ahhh, semudah itukah anakku dibilang asma? (Kaget, bingung, dan penasaran). "Kan cuma batuk pilek, dok. Kayanya gak ada keturunan asma deh", sanggahku.

"Asma bisa jadi karena alergi debu, dingin, dan kuman", kata dokter sambil menuliskan surat rujukan pada secarik kertas dan memberikannya kepada suster. "Nanti minum obat untuk menghilangkan batuk pileknya".

"Untuk mengatasi gangguan pernafasannya, harus diterapi uap ke fisioterapi, kalau bisa hari ini. Sehari 3 kali ya. Supaya sesak nafasnya berkurang", lanjutnya.

Hari itu saya dan suami masih bingung sebenarnya, belum puas dengan jawaban dokter yang terlihat tergesa-gesa itu. Shidqi hanya dicek melalui stetoskop, tanpa tes darah atau urin, masa langsung dibilang asma?

Tapi karena sudah kasihan melihat Shidqi lemas dan sulit bernafas, kami tak banyak membantah. Dokter bilang setelah diterapi pertama, lalu harus diulang 4 jam kemudian. Kami disuruh balik lagi sore hari.

"Arrggh, dokter, gampang banget ya sarannya. Gak semudah itu harus bolak balik kaleee, jarak rumah kami jauh", gerutuku dalam hati. *Iyalah, mana berani ngomong langsung di depan dokter, yiahaha..

Setelah lama mengantri, kami segera masuk ke ruang fisioterapi. Di atas meja terdapat sebuah kotak berselang masker. Kupikir itu seperti selang oksigen, tapi suster bilang namanya Nebulizer, alat yang dapat mengeluarkan uap obat pelega pernafasan.

Saat terapi uap dimulai, Shidqi malah menangis dan meronta-ronta, mungkin kaget dan takut. Tapi kata suster malah lebih baik menangis, agar uapnya lekas terhirup ke dalam saluran pernafasan sehingga membuat paru-paru ringan bekerja. *Fiuuh, lumayan juga lho megangin anak kecil yang ngamuk gak suka diperlakukan macam begini.

Seharian sudah kami menunggu jadwal terapi dan kami temani Shidqi menjalaninya dengan sabar. Dua tiga kalinya diuap, Shidqi tak lagi takut. Sepertinya dia mulai merasakan efek baiknya.


Bersahabat Dengan Terapi Uap Nebulizer


Dua hari berlalu, kesehatan Shidqi belum juga terlihat baik. Shidqi masih keliatan lemas dan batuknya masih saja berat, menyusahkan. Makan pun masih saja disertai muntah. Aku mulai panik dan membawa kembali Shidqi ke rumah sakit.

Ganti dokter, mencari opini lain.
Masih penasaran Shidqi ini kenapa? pasti ada penyebabnya.
Gak mungkin hanya alergi lalu asma.
Enak aja.. *tetep gak terima.

Benar saja, setelah menjalani tes darah, urin di laboratorium dan foto thorax di bagian radiologi, Shidqi dinyatakan menderita Bronchopneumonia.

Karena kondisinya sudah parah, Shidqi harus segera dirawat intensif masuk ke ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) yaitu ruangan khusus merawat anak-anak secara intensif, diberi bantuan oksigen, antibiotik dosis tinggi melalui infus dan diterapi uap sebanyak 4 kali sehari.


Dokter bertindak cepat, beliau tak ingin Shidqi kehabisan oksigen, hal ini dapat membuat kejang dan menimbulkan kerusakan otak. Lebih fatal akibatnya jika tak segera ditangani. Proses terapi uap dilakukan mulai jam 07.00, kemudian dilanjutkan enam jam kemudian, pada pukul 13.00, 19.00, dan pukul 01.00 tengah malam. Tiap penguapan memakan waktu lebih dari 30 menit.

Dokter Susi meyakinkan diriku bahwa dia memang harus diawasi dengan ketat.

Aku deg-degan, sehari nginep di ruang PICU itu mahal booo..
Bahkan aku geleng-geleng kepala saat disuruh nebus obat antibiotiknya seharga Rp. 600,000 untuk sekali pakai, padahal dia harus pakai 3 x sehari.

Astaghfirullah, pasrah...


Nyeri hati ini, ditambah melihat badan Shidqi banyak lilitan selang. Ada selang oksigen di hidung, selang infus, kabel EKG yang ditempel di dada, dan kabel yang ujungnya menjepit di ujung jempol tangannya.


http://www.narasilia.com/2014/02/terapi-uap-di-rumah-saja.html


Selama enam hari dirawat, Shidqi mulai bersahabat dengan nebulizer. Dia tak takut lagi. Mungkin karena nafasnya semakin nyaman. Deru suara mesin nebulizer yang monoton menjadi musik pengiring tidurnya. Iyap, Shidqi lama-lama akan selalu tertidur jika diuap.

Aku jadi mulai hafal nama dan takaran obat uap yang dituangkan suster ke dalam air tube-nya nebulizer. Bentuknya cairan semua, jika mesin dinyalakan, cairan tersebut berubah seketika menjadi uap.


Dokter Susi Putri Wihadi, Sp.A, MM mengatakan sesak nafas yang dialami Shidqi bukanlah karena dia seorang penderita asma. Namun efek akibat paru-parunya lemah, terdapat kerusakan karena terinfeksi bakteri Pneumonococcus dan menimbulkan banyak lendir dan dahak.

Batuk kencangnya adalah reflek tubuh mengeluarkan benda asing. Namun sayang, dahaknya sudah terlalu banyak, sehingga saluran paru-paru makin terhambat, oksigen tidak dapat masuk tersirkulasi dengan baik. Makanya Shidqi jadi lemas dan sesak nafas.

Ya Allah.
Akhirnya kami merasa tenang. Sabarnya Shidqi menjalani semua ini, dia mulai ceria lagi. Batuknya mulai ringan, lebih-lebih sesak nafasnya sudah tak ada lagi. Bukan asma ya saudara-saudara.


Aku menduga hal ini juga diakibatkan sirkulasi kamar kami yang minim udara bersih, membuat ruangan kamar terasa lembab dan gerah, kipas angin terus memutarkan angin, bisa jadi ini mengakibatkan Shidqi menderita penyakit paru-paru.




Belum lagi memang aku dan suami memiliki tingkat sensitif alergi. Aku alergi udang, sedangkan suami alergi udara dingin. Konon menurut medis hal ini juga menjadi pemicu turunan genetic, Shidqi pun pasti terkena alergi. Lengkap rasanya.. #tepok jidat.


Terapi Uap di Rumah Saja


Total perawatan di rumah sakit sudah menghabiskan biaya lebih dari >8 juta. Sebagian ditanggung asuransi, sisanya kami harus menguras tabungan. Yah, tak apalah yang penting Shidqi sehat. Mau gimana lagi?

Pulang dari rumah sakit, Shidqi tetap harus diterapi uap, kali ini 3x sehari. Aiih, karena capek harus bolak-balik untuk inhalasi dengan nebulizer ke rumah sakit, nekat kami harus punya alat sendiri.

Sebelum pulang, aku dan suami berdiskusi, apakah sebaiknya kita punya alat nebulizer saja sendiri ya?
Bisa gak sih terapi uap sendiri dirumah?
Boleh gak ya oleh dokter?

Kami berhitung dan berfikir positifnya, menghitung sebagai perencanaan keuangan:

  • Berapa biaya yang telah kami keluarkan untuk sekian puluh kali terapi uap.
  • Betapa ngerinya kami mendengar penjelasan dokter jika anak kesulitan bernafas gak segera ditangani.
  • Berapa lama waktu yang kami buang untuk menuju rumah sakit, mengantri, belum lagi Shidqi terlihat lelah diperjalanan.

Nekat, bermodalkan uang THR, kami alihkan beli baju baru dan ketupat untuk membeli sepaket mesin nebulizer seharga Rp. 650.000 (tahun 2009) Merk Omron kami dapatkan. Simple dan mudah dibawa-bawa. 


http://www.narasilia.com/2014/02/terapi-uap-di-rumah-saja.html

Motivasi lainnya ketika uang mulai seret utk bayar fisioterapi uap, kami harus terus berhitung. Bayangkan, sekali terapi bayar 100.000 x 3 dalam sehari. Sudah 300.000 dalam sehari harus kami siapkan. Belum lagi harus dilakukan selama 4 hari ke depan, sampai betul-betul dahaknya bersih. Belum lagi ongkos PP rumah-RS, jajan, makan, minum. 


Satu juta lebih dalam seminggu, hahaha.. *ketawa stress!


Jika punya alat sendiri, kami bisa sedikit berhemat. Tak perlu bolak balik, tidak capek, tdk menghabiskan waktu di jalan. 


Kondisi kami masih sebagai keluarga kecil yang mulai dari nol. Wajarlah jika punya fikiran tips seperti ini.

Sebelumnya kami sudah berkonsultasi dengan dokter anak di RS. Mitra Keluarga Depok tentang keinginan dan tujuan kami. Ternyata dokter mendukung dan memberikan secarik kertas copy resep. 

Kami pun diajari bagaimana dosis yang digunakan nanti. Shidqi pun mendapat resep: 
  • 10 tube Ventolin, untuk 1 tube x 3 kali sehari
  • 10 tube Pulmicort, juga untuk 1 tube x 3 kali sehari 
  • 1 botol Bisolvon HCL tetes, untuk 15 tetes kali pakai

http://www.narasilia.com/2014/02/terapi-uap-di-rumah-saja.html



Jangan lupa, tiap pagi dijemur. Ajak main di bawah sinar matahari pagi, supaya lebih sehat. Dan biasakan olahraga yang dapat melatih paru-paru, seperti bersepeda, berenang, lari pagi.


Bronchopneumonia vs Nebulizer.


Penyakit ini adalah akibat infeksi akut yang menyerang paru-paru bagian bronchus bahkan ke arah broncholius yang disebabkan oleh bakteri streptococcus pneumoniae (pneumococcus)

Radang ini biasanya menyerang dan menyebabkan hambatan reaksi pernafasan yang normal. Penderita nampak kesulitan nafas, dada dan lehernya nyaris kembang kempis cekung saking sesaknya, kalau boleh menghitung sepertinya 50 x per menit kembang kempisnya, makanya sering dibantu dengan alat uap itu deh. 

[Baca : Gangguan Pernapasan Menyiksamu? Cepat Atasi Dengan Terapi Uap Omron Nebulizer ]

Ah, saya bukan ahlinya, cuma sedikit-dikit baca referensi karena rasa penasaran saya terhadap penyakit yang menyerang anakku ini

Terapi Uap di Rumah Saja


Jadi jika dia mengalami batuk dan sesak nafas, alat tersebut masih digunakan, setidaknya pertolongan pertama daripada kami harus panik menemui UGD hanya untuk melegakan pernafasannya. 

Selain itu pun madu habbatussaudah selalu kami persiapkan untuk membantu staminanya dari dalam. Insyaallah, rasa cemas itu berangsur-angsur kembali tenang.

Selain itu kami suka mengajaknya bersepeda dan berenang agar paru-parunya tetap sehat.

Punya alat nebulizer juga bermanfaat sampai Shidqi punya adik. Jika mereka batuk, pilek, alat nebulizer bisa kami gunakan sebagai terapi uap. Kini, hanya do'a dan asa kami panjatkan, semoga anak-anakku selalu sehat dan sukses. 

Aamiin ya robbal aalamiin.




- by.Lia Lathifa

27 komentar:

  1. perawatan sendiri di rumah jauh lebih hemat ya mbak...
    gak perlu panik panik lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ia betul mbak, setidaknya utk P3K

      Hapus
  2. supriatna9/10/2014

    terimakasih informasi nya bu....
    sangat bermanfaat buat anak saya dan keluarga saya

    BalasHapus
  3. Obatnya sendiri pake apa mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. gunakan 1 tube Ventolin, 1 tube Pulmicort, dan 15 tetes Bisolvon HCL. Tiap usia dan berat badan menentukan berapa banyak tetesan Bisolvon. Sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter.

      Hapus
  4. Kalau batuk dahak biasa, apakah tetap pakai obat utk mengencerkan dahaknya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. gunakan uap seperti ini jika si kecil sdh sulit mengeluarkan dahak hingga terlihat sesak dan muka memerah.

      Hapus
  5. wah bisa jadi lebih hemat ni

    BalasHapus
  6. Mulanya terasa mahal ya, Mbak. Tapi kalau dihitung ulang untuk biaya ke rumah sakit dam biaya jasanya sudah berkali-kali lipat dari harga beli alatnya sendiri.

    BalasHapus
  7. Bunda, dari 2014 sudah domain dot.com ?

    BalasHapus

  8. Mau buat sendiri nebulizer sederhana?
    Cocok untuk anak batuk pilek.
    Saya juga baru ketemu caranya...

    BalasHapus
  9. Sama.. anak saya yg ketiga masih baby jg sama persis sakitnya.. ini jg lg nyari referensi nebulizer, mau beli untuk perawatan dirumah.. soalnya klo sudah mukai sesak nafas serem..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga sehat selalu untuk baby-nya

      Hapus
  10. Anonim7/13/2017

    obatnya masing2 harga brp ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang tau kalau sekarang, coba ke apotik saja

      Hapus
  11. Bunda, itu semua obatnya dicampur jadi 1 ya?

    BalasHapus
  12. Anonim8/17/2017

    Rekomendasi banget Bun,,alat nebulizer nya,,anakku kalau batuk serem dengarnya ,,apalagi masih bayi , aku diskusi sm suami untuk beli alat uap ini ,,biar hemat juga ga bolak balik ke dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.. Tujuan ini mmg supaya gak bolak balik

      Hapus
  13. Apakah beli obatnya harus dgn resep dokter mbak???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih baik awalnya konsultasi dokter, biar jadi patokan, selanjutnya saya bisa beli langsung di apotik dengan copy resep

      Hapus
  14. Anonim9/23/2017

    anak saya juga suka sesek nafas, dokter selalu bilang ini asma. oh iya bunda anak nya masih sering kambuh gak brokopenomenia nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dia msh merasa sesak saat batuk pertama.. Selanjutnya sih gak lgi

      Seringkali klw sesak nafas dibilang asma, pdhl hrsnya diperiksa dulu apa penyebabnya, klw aku sih lgsg konsul dokter lain utk cari second opinion

      Hapus
  15. Jadi kepengen ikutan beli mbak. Sgt menginspirasi .

    BalasHapus
  16. heturnuhun bu sangat membantu

    BalasHapus

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com

Author

Foto saya

Supermom, blogger, publisher, pengelola onlineshop, lulusan bidang nutrisi, mencintai kehidupan sederhana dan harmonis, suka naik kereta, makan rujak, dan penikmat musik klasik. Contact Person: bunda.shidqi@gmail.com

Follow This Blog