NarasiLia.com

Berbagi Pengalaman dan Tips Gaya Hidup

3.5.14

Ayo Berobat, Batuk Tuberkulosis Bisa Sembuh.



Serial #3: TB Bisa Disembuhkan

Ayo Berobat, Batuk Tuberkulosis Bisa Sembuh.. “Uhuk..uhuk..uhuk.. UHHUKK..!!” Ahai, batuknya. Dengarnya pun terasa tersiksa. Terasa sangat gatal di tenggorokan.
“ Mas, besok berobat saja yuk. Siapa tahu mas kena batuk TB,” ajak Minah, sang istri.

“ TB apa itu? Tekanan Batin?” tanya suaminya sinis
“ Itu lho, singkatan dari Tuberkulosis. Yang batuknya lama dan ada darah dari mulut.“
“ Wah bilang saja TBC. Kenapa mesti disingkat lagi jadi TB? Biar keliatan keren?” dengus lelaki itu.
“ Ya, enggak tahu. Pokoknya kemarin Minah baca di koran ya begitu. Batuk mas itu lama sekali sembuhnya. Minah curiga, jangan-jangan benar. “
“ Halah, enggak usah. Wong ini batuk biasa aja kok. Orang yang kena TBC itu biasanya ya lama sembuhnya akhirnya meninggal,” jawabnya pesimis.
“ Ih mas, kok ngomong begitu. Memangnya mas mau mati?. Sekarang di Puskesmas ada pengobatan gratisnya. Masa gak mau coba untuk berobat. Ayolah, besok Minah antar ya. Minah pengen mas sembuh. Kasihan anak-anak, kalau tertular bagaimana?.”

Penanggulangan dan Penyembuhan Tuberkulosis di Indonesia

Kondisi cerita seperti itu di atas mungkin juga lebih banyak ditemukan di tempat yang lain. Indonesia adalah negara ketiga terbesar yang terkena masalah TB, menjadi penyebab kematian ketiga setelah penyakit Jantung dan pernafasan akut. Sebagian besar penderita adalah masyarakat yang berusia produktif yaitu usia 15-55 tahun. 
Pemerintah telah mencanangkan rencana strategi penanggulangan penyakit ini dengan memberikan obat gratis melalui Puskesmas dan Rumah Sakit Umum. Serta adanya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) tentu saja untuk memudahkan masyarakat berobat. 
Indonesia menjadi contoh di dunia sebagai negara yang berhasil memerangi TB. Banyak hal yang telah dicapai dalam penanggulangan TB di Indonesia, salah satunya sejak tahun 2010 angka kesembuhan pasien mencapai 87 %. Dan pada tahun 2013 terdapat angka keberhasilan pengobatan menunjukkan adanya nilai > 90% pada beberapa tahun ini.


Namun kenyataannya setiap tahunnya masih terdapat seperempat juta orang tertular. Penemuan kasus baru TB ini masih sekitar 52%. Mengapa? Karena masyarakat belum banyak mengetahui, tak peduli, bahkan menolak atau malas untuk melakukan pengobatan minimal 6 bulan itu. Padahal beberapa Rumah Sakit Umum seperti RSUP Persahabatan membuka layanan 24 jam untuk pasien yang terkena secara gratis. Amat disayangkan. Seperti lingkaran hitam yang berputar-putar tak kunjung selesai  jika penyakit TB tidak ditanggulangi dari kita sendiri.

Pasien Patuh, Tuberkulosis Sembuh.

Teringat dulu aku pernah mengobrol dengan adik sepupu yang sempat terkena penyakit ini, kayanya sih pada tahun 2008. Dia adalah ibu rumah tangga beranak satu saat itu. Entah darimana dia tertular. Mungkin dari ventilasi yang buruk ketika berada di tempat kontrakannya dahulu sebelum dia pindah menempati rumah baru. Bisa juga karena memang kondisi tubuhnya yang lemah dan lelah, jadi seringkali malas makan bahkan kadang-kadang jajan sembarangan.
Kudengarkan kisahnya, mulai dia berobat hingga akhirnya sembuh. Awalnya dia batuk tak kunjung reda sudah 3 minggu lamanya, dahaknya semakin mengental terutama di pagi hari, dadanya terasa sakit, terkadang terasa demam, berat badannya semakin kurus, tidak nafsu makan, dan berkeringat ketika malam hari. Setelah diperiksa fisik, uji laboratorium sputum dan darah, juga ronsen paru-paru, maka diputuskan memang dia terkena Mycobacterium Tuberculosis.
 Awalnya dia melakukan pengobatan selama 6 bulan, dia diharuskan meminum obat antara lain Isonikotinil hidrazid (INH) yang bersifat tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dan tuberkulosid (membunuh bakteri), Rifampicin, etambutol, streptomycin, dan pirazinamid. Bahkan sudah ada obat khusus TB yang mengandung vit.B6.
 Namun karena hasil ronsen paru-parunya menunjukkan masih belum bersih maka dilanjutkan 3 bulan lagi. Sehingga tepat 9 bulan dia melakukan terapi ini. Setiap pagi dia minum obat, kemudian dilanjutkan siang dan malam. Itu tak boleh putus, harus rutin dan tekun. Tempat makan dan minum dikhususkan, jika sedang batuk dia menggunakan masker. Semua itu demi tidak menularkan kepada anak sulungnya.
Kini dia sudah memiliki dua anak. Dia bisa hamil setahun kemudian setelah pengobatannya selesai. Hei, BENAR, ternyata bisa disembuhkan. Syaratnya? Bisa dibayangkan kan, dia sembuh karena dia patuh.

Tips Agar Pasien Tuberkulosis Sembuh Total
Setelah mengetahui kisah sepupuku tadi, ternyata memang TB bisa disembuhkan. Asalkan rajin menjalani pola hidup sehat dan hindari stress.

Beberapa hal yang perlu diterapkan pasien jika dia ingin sembuh total, antara lain:
1.       Pasien taat pengobatan, tidak putus sampai program 6-9 bulan selesai.
Setelah obat diberikan, segera bulatkan tekad bahwa kita ingin sembuh. Jangan putus meminum obat sedikit pun. Jika perlu pasanglah alarm pengingat minum obat. Karena sekali saja lupa dan putus, kita diharuskan meminum obat lagi dengan kondisi dosis yang harus diubah, karena kuman tersebut menjadi kebal. 
Yakinlah kesembuhan memang dari Tuhan, namun Tuhan juga tak ingin hambaNya berpangku tagan tanpa usaha. Ingat: obat putus, kuman makin tembus ke sel-sel organ lainnya. Ngeriii..

2.       Rajin bangun pagi dan berjemur diri terkena sinar matahari pagi.
Sakit dan lemah memang yang dirasakan oleh pasien, namun jangan menjadi alasan untuk malas bergerak. Bangunlah saat waktunya sholat subuh dan bergeraklah di luar rumah sambil menunggu matahari pagi bersinar. Jemurlah badan kita pada hangatnya sinar itu selama 10-15 menit setiap hari. Hal ini akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, terutama limfosit atau sel darah putih. Untuk terapi TB sangatlah baik karena membantu meningkatkan kekuatan tubuh terhadap serangan kuman. Sinar matahari juga mampu meningkatkan kebugaran pernafasan karena jumlah glikogen akan bertambah setelah berjemur di bawah terik matahari pagi.

3.       Tidak membuang dahak sembarangan.
Memang paling menjijikan dan terkesan jorok jika melihat dahak di jalanan. Hei..hei..tak bisakah kita sopan sedikit?. Mungkin bagi kita membuang dahak di jalanan akan segera hilang tersapu debu. Tetapi tentu saja akan menyebabkan penularan yang lebih cepat. Setidaknya jagalah kebersihan. Buanglah dahak di lubang wc dan siram hingga bersih.

4.       Jauhi Rokok, Begadang, dan Alkohol.
Merokok dapat melemahkan kesehatan paru-paru, ditambah jika kita begadang, tubuh lelah butuh istirahat. Jelas saja jika kuman TB mudah menyerah orang yang lemah. Peminum alkohol juga sangat rentan terkena TB, alkohol yang berlebihan masuk ke dalam tubuh juga akan menurunkan system imun. Tak heran ketiga hal tersebut sebaiknya benar-benar harus ditinggalkan.

5.  Makan makanan Tinggi Karbohidrat dan Tinggi Protein, buah serta sayuran.
Kuman TB membuat tubuh terinfeksi, setidaknya sel-sel tubuh kita pasti ada yang rusak, organ tubuh membutuhkan zat makanan yang baik. Biasanya penderita dianjurkan makan makanan yang tinggi karbohidrat dan tinggi protein. Dan tentu saja menu sayur mayur serta buah-buahan. Diperlukan vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, dan zat besi, sebagai penambah sel darah merah dan mempercepat penyembuhan. Dan jangan lupa minumlah susu secara rutin.



6.       Peran Masyarakat Ikut Membantu.
Seringkali pasien TB akan dijauhi, karena takut tertular. Itulah alasan mengapa pasien  seringkali tutup mulut terhadap penyakit yang dideritanya. Malu. Padahal peranan tetangga dan keluarga sangat diperlukan. Dukungan moril dan tanggap memberikan semangat kepada pasien ini dapat mempercepat penyembuhan. Misalkan saling peduli dan memberikan sumbangsih berupa makanan bergizi, bisa saja kan?
 Apalagi harga bahan makanan terutama buah sudah terbilang mahal. Bagaimana makin menderitanya pasien jika dihadapkan dengan kondisi ini. Libur bekerja karena sakit, makan sehari untuk sekeluarga saja harus dihemat, ditambah kebutuhan pendidikan anak-anak, padahal pasien harus dipenuhi gizinya. Disinilah peran sosial dibutuhkan. Bagaimana mungkin mereka akan sembuh jika kebutuhan fisik dan batinnya tidak terpenuhi. 
Pantas saja TB bukan hanya berarti Tuberkulosis, namun juga seringkali dipelesetkan menjadi Tekanan Batin seperti cerita di atas. Semoga kita terhindar dari hal ini.

***

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua untuk ikut berperan dalam membentuk negara Indonesia bebas Tuberkulosis dan (sssttt..) pengennya sih bebas rokok juga, yuk kita mulai dari sekarang!


Sumber tulisan:
- Tbindonesia, Depkes

3 komentar:

  1. kadang aku mikir, gmn ya mak menghindari TB kalau kita ada di tempat umum? kan kita ga tau dia kena TB atau tdk pas ga sengaja kena cipratan batuknya orang, atau kena asap rokok. hehe.. sukses buat lombanya ya.. jangan sampe TB jadi tekanan batin karena tB bisa disembuhkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah baca semua akan mudah terkena jika kondisi tubuh menurun mak.. Baiknya memang kita sendiri yang harus menjaga pola hidup sehat ya, kita yg harus perkuat imun.. terimakasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. harus patuh kunci utamanya :)

    BalasHapus

Agar tidak spam pada komentar, gunakan akun Google kamu. Atau kirim email ke: info.narasilia@gmail.com. Thank you ❤

Pengikut:

Lia Lathifa's Medium Audience Badge