be a good life and happy family

Dukung Suami Menjadi Ayah Luar Biasa, Bisa!


Dahulu, banyak nasihat yang mengatakan berumah tangga itu indah hanya beberapa bulan pertama saja. Apalagi jika si kecil lahir, ohoo, bersiaplah. Anda akan menemui hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. Kurang kompak dan minim komunikasi antar pasangan akan menyebabkan banyak konflik terjadi dari hal-hal sepele, hmm..

Sepertinya sih benar. Aku pun merasakannya. Apalagi saat kelahiran anak pertama. Agak sulit meminta tolong kepada suami dalam mengurus bayi baru lahir. Hampir pada kenyataannya memang mereka kurang terbiasa. Atau beberapa alasan karena sibuk di kantor, merasa mengasuh anak adalah tugas ibu. 

Minta tolong sama mertua atau orangtua atau sanak saudara? Wah memang asyik tuh, tapi yakin selamanya anda akan begitu?

Peran Ayah Dalam Keluarga
Bagi anda yang tidak dapat bala bantuan dari baby sitter, ibu mertua atau mama kita sendiri, nih saya punya solusinya. Jadikan pasangan kita alias suami menjadi tim yang solid dan kompak. Ternyata penting banget. 


Menurut Ibu Elly Risman, M.Psi psikolog dan penasihat pendidikan yang terkenal itu mengatakan dalam sebuah seminar bahwa Indonesia hampir menjadi negara kehilangan ayah. Peran ayah mendidik anak sudah nyaris dilupakan. Akibatnya banyak kasus yang menyimpang seperti tawuran anak sekolah, sex bebas, narkoba, pencurian bahkan kejahatan yang dilakukan oleh para anak-anak dan remaja. Mereka kehilangan figur ayah. Ayah, kami butuh kalian!

Ih seram banget ya. Yuk ah, kita mulai saja dari keluarga sendiri. Tentunya dukung suami menjadi ayah yang luar biasa. Peran aktif ayah dalam merawat dan mendidik anak sejak awal harus dimulai dari sekarang.

Sulit? Awalnya saja, memang perlu diskusi dan planning. Jangan kaget kalau tidak bisa sepenuhnya terjalani, kenapa? yaa namanya juga dua kepala, isi pendapatnya kadang berbeda, ya kan?
Tapi tenang saja, ada beberapa tips yang saya lakukan dalam menghadapi beberapa kendala-kendala kecil tersebut,  yakin deh, mereka pasti bisa.

antara lain:

- Jangan Menuntut Pasangan-
Beruntunglah anda jika memiliki suami yang siap siaga menyambut sang buah hati. Siap membantu anda kapan saja setelah melahirkan. Apalagi menurut Ibu Anne Gracia, praktisi Neurosains Terapan, peran ayah yang memandikan buah hati dari awal kelahiran dapat membantu dan merangsang IQ bayi menjadi lebih cerdas secara emosional, dapat mengurangi masalah dalam perkembangan sang anak, serta lebih percaya diri. Lengkapnya bisa anda baca Ayah, Mandikan Bayi Yuk.

Stt, tapi dengan teori tersebut, bukan berarti kita harus menuntut suami agar langsung bisa melakukan demikian ya, pelan-pelan saja, perlu adanya komunikasi yang baik. Kembali kepada tips diatas, jangan menuntut orang lain.
Suamiku bukan tipe yang siap memandikan bayi baru lahir. Ngeri katanya, takut leher anak kami kecenglak. Jika anda memiliki kondisi seperti saya diatas, tak perlu berkecil hati. Ternyata dengan sabar, doa, serta tutur kata yag baik dari kita, Alhamdulillah tidak menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan. Mereka masih memiliki gumpalan hati yang bersifat lembut dan penyayang, perlahan bisa berubah dan tetap menjadi pribadi yag didambakan oleh keluarga.
Shidqi usia 8 bulan, takut laut boo..
Suamiku sekarang menjadi idola anak-anak. Dibalik kekakuannya mengurus bayi, diam-diam dia mulai memberanikan diri mengasuh anak-anak dengan caranya sendiri.

Jangan kira saya selalu meminta tolong atau menyuruhnya. Tidak, saya tidak banyak menuntut. Sabar dan terus saja perlihatkan bagaimana kita mengurus bayi dengan baik.
Nyiram tanaman sambil main air
Benar saja, lihatlah perubahannya. Foto-foto di sini adalah gambaran bagaimana kesiapan mental sang ayah terbentuk perlahan-lahan namun pasti. Kita sang istri harus terus mendukung kondisi jiwa suami tersebut.
ceritanya belajar Iqro :)
-Puji dan Dukung Suami Anda-
Teringat saat seminar waktu itu, bersama Dian Sastro, Brand Ambassador Zwitsal, yang mengatakan suaminya tidak bisa memandikan anak-anak mereka. Namun Dian memiliki trik khusus, meliburkan semua babysitter, lalu mencoba sendiri mengurus kedua anaknya. Karena tak tega melihat istrinya begitu, akhirnya suaminya berinisiatif untuk memandikan dan bermain bersama kedua buah hati mereka. Dian seperti diberi hadiah terindah, dan tak lupa memuji serta mendorong semangat bahwa suaminya adalah ayah yang pintar mengurus anak-anak.
andai ada bocengan di ban depan, bunda ikut dong!
Demikian juga saya, tidak cerewet terhadap suami. Sebisanya saya kerjakan sendiri dahulu. Di saat dia dalam keadaan waktu senggang, saya meminta dengan perkataan yang baik untuk mengasuh Shidqi maupun Selma. 

Tetap memberikan petunjuk yang jelas namun tidak menggurui, gunakan intonasi suara yang lembut deh, niscaya suami pun akan luluh dan mendadak terlihat semakin ganteng, ihihi… *ada maunya. 

Kalau sudah begitu, jangan lupa, pujilah dirinya asal tidak berlebihan. Layanilah, buatkanlah makanan atau minuman favoritnya, dan berilah kejutan kecil.
Selma 2 tahun

Sejak kelahiran Selma pun, suamiku secara mengejutkan tak sungkan-sungkan lagi membantu saya mengurus si kecil. Mulai menggendong, memangku, bahkan memandikannya. Tentunya dengan sarana alat mandi seperti Zwitsal yang menjadi celah kedekatan mereka. 

Sejak batita, Shidqi Selma suka banget mandi sambil main busa sabun. Ayah mereka mengambil alih mengasuh sambil ikut main busa sabun dan memandikan mereka. Yaa tentu saja pakai Zwitsal yang aman dan gak pedih di mata, apalagi sekarang Zwitsal kembali ke formula klasik yang tentu sangat lembut dan cocok untuk kulit sensitif karena mengandung ektrak Camomile untuk sabun cairnya dan Canola Oil di dalam shampo untuk mencegah kekeringan kulit kepala. Makin asyik dan bebas mereka bermain busa, hee..


Suamiku gak pernah sungkan mandiin dan membantu Selma saat kesulitan keramas rambutnya yang mulai panjang, lanjut sekalian mandi, badannya digosok ayah, meskipun ia anak perempuan. 

Ada lho yang curhat, suaminya gak pernah membantu memandikan anak perempuannya, karena tabu, atas dasar larangan keluarga besarnya turun temurun, alasannya kurang pasti, takut nanti kenapa-kenapa.
Duh kasian dong, bundanya semua yang urus anak-anak, kalau aku? gak sanggup sendiriaan. Maklum tak punya asisten maupun orangtua yang membantu sejak awal menikah. Yah, sudahlah, cara orang berbeda-beda kan? ambil baiknya saja.

Sehabis dari toko buku

Selma: numpang naik kuda ya yah
-Sabar Dengan Prosesnya-
Sabar bukan berarti nrimo. Saya maksudkan adalah terus lakukan apa pun yang bisa kita kerjakan dengan baik dan benar dalam mengurus anak anda sendiri. Perkaya diri anda dan suami anda dengan ilmu-ilmu baru dalam mengurus kehidupan keluarga. Perhatikan sekeliling kita untuk dijadikan pelajaran. Teruslah berdoa seperti nabi Ibrahim yang selalu meminta kepada Allah untuk kebaikan keluarganya. Perbanyaklah ibadah dan kebaikan sosial.
Anak-anak lebih suka berjalan dengan ayah
 Saya sering memulai diskusi dengan suami, tentunya sehabis dia mandi, makan dan sedang bersantai. Awalnya sih memberikan semacam kasus cerita tentang anak tetangga yang begini begitu. Eh malah menjadi sebuah solusi bagi kami berdua untuk diterapkan kepada Shidqi dan Selma. Akhirnya menjadi kesepakatan berdua dalam mengurus anak-anak.
Slowly but sure!

-Biasa Menjadi Luar Biasa-
Kedua anak kami kini menjelma menjadi anak-anak yang baik dan menjadi penyejuk hati. Shidqi (9 tahun) sudah kelas 4 dan Selma (5 tahun) masuk TK B. Mereka tumbuh semakin percaya diri. 
Tebak mana Shidqi? :)
Terutama Shidqi, semakin besar dia memiliki pribadi yang disukai teman-temannya dan para guru, Alhamdulillah meskipun nilai rata-rata raportnya 89-90 dan bukan juara kelas, namun dia selalu terpilih untuk menjadi perwakilan kelasnya mengikuti aneka kegiatan sekolah. Demikian Selma, menjadi gadis kecil yang sudah mampu bermain sepeda roda dua pada usia 4 tahun tanpa diajari, apapun dia lebih senang belajar sendiri.

Kami selalu berempat (insyallah beberapa bulan lagi berlima). Kemana saja, dimana saja, saya dan suami pergi, anak-anak pasti harus ikut, berdempet-dempetan dalam satu motor tua.

Terkadang ingin sekali menikmati masa-masa berdua, namun yang terjadi malah ikatan emosi suami lebih kuat daripada saya, dia selalu teringat anak-anak. Demikian sebaliknya, tak jarang Shidqi dan Selma selalu saja menanyakan kapan ayah pulang dari kantor.

Pernah suatu kali, saya memiliki dua tiket Kidzania gratis, hadiah lomba dari kampanye produk susu. Dimusyawarahkan akhirnya Shidqi-lah yang mendapat kesempatan menikmatinya. Dan siapakah yang dipilihnya untuk menemani bermain di dalam sana? Ternyata Shidqi memilih ayah. Jreeeng.. sempat iri, kok lebih memilih ayah ya? *kan bunda yang menang lombanya, wuehehe…

Saat duduk berdua dengan Shidqi saya bertanya, “kenapa memilih ayah, nak?”
“Ayah lebih perhatian dan asyik diajak main nanti. Shidqi mau coba permainan pilot, Shidqi mau ngasih tahu ayah di sana. Sayang ya, di sana gak ada profesi masinis,” jawabnya tenang sambil memainkan kereta kesayangan.
“Memangnya bunda tidak perhatian?”, tanyaku penasaran.
“Perhatian sih, tapi bunda sering sibuk sama dagangan, Shidqi gak mau ganggu.”
Nah lho.. 

Ah saya yakin bukan itu jawaban pastinya. Saya merasa memang suamiku itu semakin menjadi sosok yang nyaman dan jarang marah. Makanya dipilih. Hiks.. *masih ngiri.
tuh kan, sama ayah lage :p

Saya memang mengakui, pantaslah Shidqi memilih ayahnya. Saya saja sekarang sering bersandar di bahu suami, karena merasa nyaman. Sudah tak malu begitu di depan anak-anak. Tak perlu tabu memperlihatkan kegiatan itu, tinggal bilang saja: “di dalam rumah ini kita adalah keluarga, saling menyayangi, saling membantu. Boleh bersentuhan, boleh berdekatan. Tetapi tidak dengan orang lain.” Sepertinya mereka mengingat prinsip itu.
***
Kini saya yakin, dengan adanya komunikasi serta sentuhan yang lembut dan sabar, insyaallah semua akan terasa luar biasa. Suami luar biasa, keluarga luar biasa, dan anda pun luar biasa. Serahkan semua kepada ilahi. Inilah anugrah Allah SWT. Semoga terus baik hingga akhir nanti, aamiin.


*Tulisan ini terinspirasi dari Kampanye Zwitsal: Suamiku, Ayah Luar Biasa”.

23 komentar:

  1. kalau suami deket sama anak-anak rasanya memang membahagiakan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, rasanya indah banget :)

      Hapus
  2. Wah sipp..tengkiu tipsnya mbak..bermanfaat nih... :)

    BalasHapus
  3. semoga dengan keluarga kecilnya baik-baik ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. terimakasih ya :-)

      Hapus
  4. Wah hebat...semoga terus menjadi ayah yang mengayomi keluarga ya...langgeng terus mba...Amiiinnnn :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiiin.. iya mbak, alhamdulillah bisa berubah :-)

      Hapus
  5. kaya aku mba aku lebih senang berjalan dengan ayah di bandingkan dengan ibu ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya apa krn ibu lbh cerewet ya?

      Hapus
    2. gak cerewet sih mba, ya aku seneng ajah kemana" bareng sama ayah.. kan aku anak kesayangan ayah hehehe

      Hapus
  6. *tosss suamiku juga jarang marah :") alhamdulillah ya mak..
    semoga bahagia selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. demikian juga buat mak dan rafii :-)

      Hapus
  7. Keren mbak. Kayak suamiku jga ini mah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mak keren juga nih.. alhamdulillah ya :-)

      Hapus
  8. MashaAllah indahnya kebersamaan keluarga ini :) langgeng ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. iya setelah banyak perjuangannya juga mak.. hehe, demikian juga utk keluarga mak di sana, bahagia selalu yaa :-)

      Hapus
  9. semua memang harus dibagi dengan baik ya mak...peran ayah dan ibu seimbang, sehingga anak-anak merasakan kasih sayang yang utuh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mak Indah Purple :-)
      iya bener bgt mak.. Semoga semakin byk ortu yg menyadari peran seimbang dlm mengurus buah hati.

      Hapus
  10. Sosok ayah idola nih, cool banget suamimu Mak. Selamat menyongsong hari bersama buah hati yg ketiga ya Mak, sehat2 selalu bunda dan putra-putrinya... plus ayahnya juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaamiin.. trimakasih byk do’anya maak :-*

      Hapus
  11. seneng ya mbak kalo suami bisa ikut bantu aktivitas rumah tangga. keren banget suaminya mbak bisa telaten ngurus bayi hehe. kalo suami saya baru sebatas bantu nyuci dan masak tapi itu sudah alhamdulillah bangeetttt

    BalasHapus
  12. iya mbak.. butuh proses, nanti suami mbak makin rajin deh :-)

    BalasHapus

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com

Author

Foto saya

Supermom, blogger, publisher, pengelola onlineshop, lulusan bidang nutrisi, mencintai kehidupan sederhana dan harmonis, suka naik kereta, makan rujak, dan penikmat musik klasik. Contact Person: bunda.shidqi@gmail.com

Follow This Blog