Kental Manis Bukan Susu: Yuk, Sikapi Bijak Dengan Mindfull Parenting

Kental Manis Bukan Susu: Yuk, Sikapi Bijak Dengan Mindfull Parenting

Kalian tertarik melihat iklan jadul ini? Tak disangka iklan tersebut bisa membentuk persepsi masyarakat terutama di Indonesia bahwa kental manis itu susu. Mungkin pada jaman dahulu iya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Jaman berubah, guys!

Semua orangtua ingin anaknya sukses di masa depan dengan tubuh sehat dan pikiran cerdas, sama sepertiku. Namun sayang, masih banyak orangtua rendah literasi gizi dan kesehatan. Beneran sayang! Masih banyak mamah muda yang galau tidak siap hamil dan tak tau bagaimana cara merawat bayi sejak awal.

Kasus yang sering terdengar masih banyak yang membuang kolostrum yang berwarna kekuningan yang dianggap 'ASI basi'. Atau masih banyak ibu atau nenek yang memberikan kental manis sachet untuk pengganti ASI dan susu.

Aduh, sedih banget deh, padahal kini KENTAL MANIS BUKAN SUSU. Itu hanyalah topping "penyedap" makanan selingan. Komposisi kental manis lebih banyak gula dan krimer, dibanding kandungan susu.

Fakta ini disampaikan oleh Arif Hidayat SE., MM, Ketua Harian YAICI pada Webinar bersama @sahabatYAICI hari Selasa kemarin. Ada sekitar 26.1% anak usia 3 - 4 tahun diberikan kental manis, sehingga banyak anak yang gizi buruk, menyebabkan anak-anak gagal tumbuh (stunting), kurus layu, overweight, diabetes tingkat 1, anemia.

Kental Manis Bukan Susu: Yuk, Sikapi Bijak Dengan Mindfull Parenting

Akibatnya apa??

Menurut Dr. Ali Alhadar, SpA(K) Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, stunting bukan saja ditandai dengan tumbuh pendek, namun perkembangan emosional dan daya pikirnya pun tertinggal. Stunting itu bukan cebol, bukan keturunan. Belum tentu ayahnya pendek, anaknya pendek. Jika asupan gizinya baik, anak akan tetap bertubuh tinggi meski orangtuanya pendek.

Akibat buruk lainnya, jika anak overweight, ke depannya akan lebih mudah terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes, jantung, hipertensi, kepercayaan diri rendah, dampak buruknya lebih banyak akibat kondisi ini. Kamu tahu kan berapa biaya berobat kalau sudah kena penyakit diabetes atau jantung?

Indonesia masih membutuhkan generasi yang berkompeten dan sehat, sehingga anggaran kesehatan dapat diminimalisir, mencegah pengangguran, dan ekonomi pun membaik. Lalu apa jadinya kalau generasi muda sudah banyak yang sakit?

Lalu, bagaimana jika Kental Manis ini tetap disukai para anak dan ibu-ibu dan peredarannya pun masih banyak di warung, minimarket, bahkan di beberapa tempat jajan? Menyikapi hal ini, kita semua tetap harus bijak. Ayo, bangunkan kesadaran gizi keluarga melalui "Mindfull Parenting."


Mindfull Parenting Pertama: Asuhan Nutrisi Anak Sejak 1000 Hari Pertama

Dokter Ali mengharapkan bahwa penggunaan kental manis ini tidak diberikan lagi pada ibu hamil dan anak balita. Sebaiknya ada kerjasama antara tenaga kesehatan, posyandu, dan masyarakat untuk menyadarkan bahwa kental manis bukanlah susu.

Semua ibu maupun calon ibu, ayo mulai banyak belajar agar mengetahui dan memantau perkembangan dan kesehatan anak sejak 1000 hari pertama yang terhitung sejak kehamilan hingga usia balita, bukan sejak bayi lahir. Di waktu inilah perkembangan sel-sel otak sangat berkembang pesat.

Lakukan hal-hal berikut ini agar anak terlahir dengan sehat:

• ketika hamil, selalu periksakan diri dan konsultasi gizi agar asupan makanan bergozo tercukupi, sehingga dapat mencegah anemia, pendarahan, atau cacat lahir.

• Sejak lahir pantau TB, BB, Lingkar Kepala bayi hingga balita dengan tepat. Tidak menimbang dengan baju dan pampers. Catat dan cek di buku KIA.

• Berikan ASI Eksklusif selama 6 bulan, dan lanjutkan MPASI, serta lakukan imunisasi dasar lengkap

• Sajikan makanan mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Jika pemberian pola makan sudah baik, maka anak pun tidak akan meminta susu.

• Tidak memberikan kental manis sebagai minuman. Ingat, #KentalManisJanganDiseduh ya! Itu hanya untuk penambah rasa pada kue dan cemilan.

• Berikan porsi kecil tapi sering, artinya jangan memberikan makanan terlalu banyak, namun berikan dengan variasi menarik dan porsi yang sesuai dengan usia anak.

Kental Manis Bukan Susu: Yuk, Sikapi Bijak Dengan Mindfull Parenting

Aku pun setuju dengan pemaparan dokter Ali, kalau anak makannya kenyang, maka tak ada lagi rengekan minta permen atau makanan manis termasuk Kental Manis. Makanya aku suka bikin variasi cemilan yang sehat dan enak untuk memenuhi nutrisi anakku.

Contohnya puding daun singkong paya. Hehe, pasti kamu kaget ya, kok bisa? Ya bisa dong, buktinya anakku suka banget. Untuk menghilangkan getahnya, remas-remas dulu daunnya, lalu cuci bersih dengan air hangat, diblender, dan masak dengan puding instan rasa melon, tak lupa berikan susu formula agar lebih sempurna rasanya.


Mindfull Parenting Kedua : Mendidik Anak Dengan Welas Asah, Asih, Asuh.

Selain asupan gizi, ibu Melly Kiong founder Komunitas Menata Keluarga (EMKA) mengatakan, untuk membentuk karakter anak yang baik dan sehat diperlukan welas asih dari keluarga, terutama ibu.

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Jika anak merengek, jangan langsung dimarahin, tapi ajak dulu diskusi, "begini lho nak, bunda tak bisa kasih kamu kental manis ini atau es krim itu, karena nanti kamu akan mengalami bla, bla, bla". Hal ini akan membentuk karakter anak akan lebih berfikir dan mau mendengar.

Kental Manis Bukan Susu: Yuk, Sikapi Bijak Dengan Mindfull Parenting

Lakukan pengasuhan yang kompak bersama suami, mertua, tetangga. Bahkan dalam penyampaian kita sesuaikan dengan usia anak. Pastinya sebelum menuntut anak menjadi baik, alangkah baiknya ibu dan ayah harus mencontohkan agar menjadi sosok yang:
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
2. Tidak langsung menghakimi
3. Pengendalian emosi diri
4. Adil dan bijak
5. Welas asih

Dalam hal ini kita bisa menjadi teman dan partner anak sejak dini. Seperti kami ini, suka bermain dan olahraga bareng di pagi hari. Manfaatnya kita jadi semakin dekat, hati gembira dan tubuh pun sehat. Men sana in corpore sano, jiwanya kuat, badannya sehat.

Kental Manis Bukan Susu: Yuk, Sikapi Bijak Dengan Mindfull Parenting

Jika calon generasi muda Indonesia tumbuh sehat, bahagia, dan cerdas, tentu saja negara ini akan mendapatkan bonus demografi, yaitu memiliki penduduk yang berkualitas mencapai kemajuan pertumbuhan dan perekonomian yang baik.


Mindfull Parenting Ketiga: Perhatian Ayah Menjadi Kunci Penting

Wah, semakin menarik ya. Aku pun senang banget deh ketika ibu Rahayu Saraswati, public figur, pernah menjabat menjadi Anggota DPR RI selaku narasumber mencurahkan perasaan sekaligus mengkritisi bahwa jangan hanya ibu yang dibebankan dalam pengasuhan nutrisi dan pendidikan di rumah.

Kuncinya, ayah pun harus sigap penuhi perhatiannya pada istri dan anak-anaknya. Beliau bilang, sepusing apa pun mikirin negara, ASI tetap lancar. Tapi kalau lagi ngambek sama suami karena dicuekin, mendadak ASI pun jadi seret. Psikologi ibu anjlok, anak pun akan menjadi korban.

Banyak kekerasan dalam rumah tangga, mengakibatkan anak menjadi broken home, jiwanya labil, tidak bahagia, sehingga jangan salahkan jika nantinya bonus demografi yang diharapkan menjadi mimpi saja.

Jadi yuk, mulai dari kita dan kalian, lakukan kesadaran gizi ini agar dapat menghadirkan keluarga yang bahagia, sehat, dan hebat. Indonesia bisa #21HariMenujuSehat!

25 komentar:

  1. Bener banget kita harus memperhatikan nutrisi yang diberikan kepada anak. Eh jadi ingat perihal susu yang sering bingung milihnya karena harus mengetahui juga kandungan dan manfaatnya.

    BalasHapus
  2. Nutrisi anak merupakan estafet pemenuhan kebutuhan gizi sesuai petunjuk tim kesehatan dan tumbuh kembang anak

    BalasHapus
  3. setuju, ibu pertama bagi anaknya

    demikian juga dalam hal makanan, apabila ibunya selalu memberi teladan makanan bergizi maka anaknya juga akan meniru

    demikian juga dalam memilih produk susu

    BalasHapus
  4. Saya setuju dengan hal ini, Bun. Dulu, paksu yang suka membuat minuman pakai SKM ini, tapi setelah saya coba berikan pengertian, akhirnya dia sudah tidak melakukannya lagi. Kalau mau menggunakan SKM ya, di roti atau untuk nambah rasa di jus saja. Memang iklan itu suka bahaya, hehehe.

    BalasHapus
  5. Iya, keliru dengan kata awalnya : Susu, kental manis. Akhirnya ya dianggap susu. Saya Kecil dulu suka minum susu kental manis sebagai minuman tambahan 4 sehat lima sempurna hehe

    BalasHapus
  6. syukurlah sekarang sudah banyak orang tua yang tahu ya bahwa SKM itu bukan susu, jadi anak-anak gak kekurangan gizi karena hanya minum SKM. Lagian SKM tuh enak buat topping dan bahan tambahan makanan gitu sih

    BalasHapus
  7. Benar banget, ibu adalah madrasah pertama anak. Sebetulnya mindfull parenting ini lebih kepada pengelolaan rasa sabar orang tua ya mba. Pelan-pelan orang tua akan mengikuti karakter anak, sehingga kelak anak akan berbalik mau mendengarkan orang tuanya.

    BalasHapus
  8. Memang parenting itu butuh banget kerja sama ayah ibu ya, karenanya penting dibicarakan sebelum punya anak, kadang ayah merasa udah capek di kantor, pas pulang ingin istrahata, eh anak-anak minta nemani main, istri minta didengerin, pusing jadinya, hahaha.
    Lalu istri menuntut seharusnya suami begini begini, makin puyeng deh :D

    Btw, semoga semakin maju zaman, semakin banyak yang teredukasi tentang SKM bukan susu.
    Adik sepupu saya waktu kecil minum SKM soalnya, mamanya beliin, soalnya adik saya suka dan lebih murah, kata mamanya *tepok dahi hahaha

    Kalau zaman sekarang, kayaknya udah jarang yang ngasih anaknya SKM karenamenganggap SKM itu susu, yang ada ortu kasih anak SKM, karena nggak sanggup beli susu :(

    BalasHapus
  9. Dari awal kental manis dikenalkan pada saya yang masih bocah bayangan saya adalah minum cairan gula kental hehehe dan saya engga suka banget.. rasanya aneh dilidah saya yang masih bocah waktu itu..ternyata setelah dewasa sy tau itu bukan susu apalagi susu sapi hehehe

    BalasHapus
  10. Sejak kecil emang nggak suka sama kental manis sih. Pas tahu ternyata dia nggak tergolong ke dalam kategori susu jadi semakin biasa saja.

    Sayangnya, emang udah terlanjur terasumsikan sebagai susu sih ya. Jadi emang kudu ubah mindfull parenting. Agar pertumbuhan anak semakin baik lagi.

    BalasHapus
  11. jadi begitu ya mindfull parenting. yang poin ketiga menohok banget sih karena banyak ayah yang memang dirasa masih kurang perannya ya dalam pengasuhan.

    BalasHapus
  12. Penting banget konsumsi nutrisi seimbang selama 1000 HPK. Manfaatnya bisa dirasakan sampai nanti anak dewasa

    BalasHapus
  13. Bijak dengan MINDFUL PARENTING. Setuju banget. Kita harus berpikir dan bertindak cerdas bukan sekedar melakukan sesuatu tanpa kualitas dan arah yang pasti. Termasuk salah satunya memberikan gizi yang benar, pas dan baik untuk anak-anak. Paham akan apa yang bisa dan tidak boleh diberikan kepada anak-anak terutama yang masih dalam tahap tumbuh kembang.

    BalasHapus
  14. Pengaruh media memang besar banget ya Mba, jadinya masyarakat pun merasa kalau udah kasih kental manis udah minum susu. Padahal ini kandungann nutrisinya juga beda.

    BalasHapus
  15. jd inget zaman sy kecil dulu taunya minum susu ya SKM saking belum banyaknya ragam susu pada masa itu..btw itu pudingnya bikin ngiler ijonya cakep, bikin puding apa ka ?

    BalasHapus
  16. Nah iya bener nih, banyak yang ngira susu itu udah cukup susu kental manis padahal kental manis sendiri banyakan gula.

    BalasHapus
  17. 1000 hari pertama ini penting banget asupan nutrisi bagi si kecil agar tumbuh kembangnya semakin optimal. Salah satu nutrisi tambahan untuk memenuhi nutrisi harian si kecil adalah dengan susu, supaya kecerdasan anak juga bisa semakin bertambah karena supan gizi seimbang.

    BalasHapus
  18. setuju mba, susu kental manis kandungan gulanya lebih banyak dibandingkan kadar susu itu sendiri. tulisan seperti ini bisa menjawab kekhawatiran moms yang masih ragu atau malah belum tau ya Mba.. makaish Mba lia :)

    BalasHapus
  19. Saya gak begitu menyukai rasa manis. Apalagi yang manisnya berlebihan. Makanya gak pernah memberikan anak SKM sebagai susu. Dan ternyata memang bukan susu, ya. Penting banget bagi ibu untuk tau asupan gizi anak

    BalasHapus
  20. Kental manis memang enak ya apalagi ditaroh di roti bakar, sayang untuk kandungan gizi kurang bagus. Penting dicatat nih untuk para mommy dan daddy yang pengen anaknya sehat hehe

    BalasHapus
  21. Berarti memang dari semenjak kecil sudah ditanamkan dan diajak untuk mengenal ya bahwa kental manis bukanlah susu, hanya sebagai toping makanan. Yuk..bisa...

    BalasHapus
  22. Susu kental manis memang bukan susu, tapi SKM ini hanya untuk sebagai pemanis kue atau topping

    BalasHapus
  23. Aku masih ngerasa sedih ketika lihat masih ada orang tua yang memberikan kental manis sebagai pengganti susu. Padahal kandungan gulanya lumayan tinggi. Mending dibikin jadi olahan makanan yang lain aja ya..

    BalasHapus
  24. nah bagian ayah nih jleb banget, karena bagaimanapun peran ayah nggak bisa disepelehkan dalam kepengasuhan. Btw sekarang anakku jarang aku kasih SKM kalo buat toping roti atau minuman karena gulanya kebangetan hehe.

    BalasHapus
  25. Tertarik dengan puding daun singkong paya, itu rasanya kek mana ya mbak. Ada postingan tersendiri ngga yang bahas ini? Unik soalnya, baru nemu di sini.

    BalasHapus

Gunakan akun google anda jika ingin berdiskusi atau bertanya. Atau silahkan kirim email ke: info.narasilia@gmail.com