5 Tips Menjaga Hubungan Keluarga Agar Tetap Harmonis dan Bahagia, Coba Deh!

5 Tips Menjaga Hubungan Keluarga Agar Tetap Harmonis dan Bahagia



"Menikah itu indahnya 3 bulan pertama aja. Selebihnya ya bonus". Begitu nasihat seorang teman kerja. Dia memberikanku wejangan saat aku hendak melangsungkan pernikahan. 

Aku sempat bingung mengapa dia bilang seperti itu? Apa iya. Tapi ketika aku sudah merasakan sendiri, hmm ternyata ada benarnya juga sih.

Satu dua bulan menikah, indahnya terasa milik berdua, namun begitu memasuki bulan ketiga, episode lembaran baru dimulai. Karakter asli aku dan suami mulai keliatan. Aku yang perfect kurang siap melihat tingkah laku suami yang cenderung cuek dan woles.

Dulunya, aku dan suami tidak pacaran, hanya berteman namun cukup dekat. Komunikasi pun kalau ada perlu. Jadi begitu kami menikah, sejujurnya, jadi agak kikuk. Komunikasi jadi kurang terbuka karena takut salah. 

Kata-kata romantis pun amat jarang diungkapkan. Aku sering menangis diam-diam, karena tak puas melihat kondisi yang ada. Bahkan pernah 'minggat seharian', ngadem di mall tanpa izinnya, hanya sekedar ingin menenangkan pikiran. Meskipun minggat, ya tapi tetap balik ke rumah lagi sih.. 😁

Mumetnya hilang setelah minggat? Yaaa enggak, karena memang masalahnya gak diselesaikan berdua, hahayy. Yah, begitulan. Akhirnya aku mengakui, wejangan temanku itu mulai menjadi kenyataan. 

Memang benar menikah itu tak selamanya indah. Kalau tidak ingat ikrar janji, ada rasa ingin berjalan sendiri-sendiri saja, ingin bebas seperti dulu. Ya kan? Kaya minggatnya aku tadi, ke mall..

Jadi tak heran kalau mendengar cerita orang yang mendadak sudah ingin bercerai, padahal baru lima bulan menikah. Sekali lagi, menikah itu tidak mudah, guys

Apalagi jika keduanya tidak siap lahir batin. Biasanya semakin parah jika dibarengi dengan masalah finansial, keturunan, dan lingkungan.

Pernikahan itu ibarat kapal yang berlayar di tengah laut, keduanya harus kompak menjalaninya. Begitu badai ombak menerjang, keduanya harus bisa sama-sama memegang kemudi dan mengatur layar agar kapal tetap seimbang. Bila hanya sendirian, alhasil kapal bisa oleng, jendral..!

Demikian juga aku dan suami, meski keliatan baik-baik saja, tetap saja banyak masalah yang menerpa, kapal hampir karam. Apalagi kami tuh mulai dari nol, gak punya apa-apa.

Namun alhamdulillah kami masih bisa memegang kemudi bersama. Selama 14 tahun ini kami mulai menemukan kepingan-kepingan puzzle yang saling terhubung untuk dirangkai menjadi gambar seutuhnya.

Lantas, bagaimana bisa aku dan suami bisa bertahan? Bagaimana menjaga hubungan keluarga agar tetap harmonis dan bahagia?

Seiring waktu, aku dan suami melakukan tips menjaga hubungan keluarga berikut ini:


1. Kuatkan Jalinan Komunikasi

Menurutku ini yang paling utama. Jangankan kepada suami dan anggota keluarga, kepada teman saja kalau salah ngomong jadi muncul masalah panjang. Itu pun yang jarang bertemu. Apalagi yang hidup serumah, harusnya sih bisa berkomunikasi dengan baik tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Kalau perlu, sampaikan sesuatu menggunakan gambar yang berisikan kata-kata romantis menggunakan Canva. Kan banyak tuh bentuk yang lucu-lucu, inspiratif, relijius, dan sebagainya. Buat kreasi gambar dan foto sebagus mungkin. 

Semoga saja pasangan yang menerimanya  dapat mengerti pesan apa yang tersirat dalam gambar tersebut. Lebay? Gak ya juga dong, namanya juga usaha 😁




Jangan takut mengungkapkan isi hati terdalam, katakan kalau kita tak ingin dihakimi, dikritik atau dipermalukan dengan keras jika memang menurutnya salah. 

Aku suka menyampaikan sesuatu saat kami bercanda berdua, sesekali aku menyisipkan kalimat nyindir dan nyinyir mengomentari kondisi saat kami selisih paham. Biasanya malah lebih mengena tuh, *skak mat..

Kapan waktu dan kondisi yang tepat untuk berkomunikasi?

Waktu dan kondisi yang tepat adalah setelah pasangan itu kenyang dan tubuhnya segar. Jadi jangan sekali-kali bicara saat mereka sedang lapar, belum mandi, dan ngantuk ya, bisa-bisa malah pada berantem, karena pikirannya gak jernih.

Eh, tapi aku pernah menyampaikan maksud hati, suami malah marah tuh, padahal dia sudah makan, sudah mandi. Ternyata dia ngantuk beraaat, kerjaan kantor bikin dia capek, saudara-saudara. Salah deh aku.. 😁


2. Saling Menghargai Satu Sama Lain 

Setiap anggota keluarga, muda sampai tua, berhak untuk dihargai satu sama lain. Yang muda menghormati yang tua, sedangkan yang tua menyayangi yang muda, sehingga bisa memberikan perasaan nyaman dan aman di rumah.



Dengarkan jika pasangan sedang bercerita, tatap matanya agar dia merasa dihargai, meski pun kadang-kadang apa yang dibicarakannya, kita tak mengerti. Tapi yakin deh, siapa pun itu, ucapannya pasti selalu ingin didengar.

Hargai pasangan dan anggota keluarga jika mereka tak mau apa yang kita tawarkan, misalnya suami tak doyan ikan bakar, ya jangan memaksa dia harus doyan, demikian sebaliknya. Slowly but sure..

Seiring waktu, pelajari kepribadian masing-masing, agar bisa memahami dan saling mengerti tanpa ada rasa egois atau mau menang sendiri. Sesekali berikan kejutan indah dan saling memberikan hadiah. Pasti jadi makin harmonis dan bahagia..


3. Habiskan Waktu Bersama 

Semua anggota keluarga perlu untuk menghabiskan waktu bersama. Minggu adalah hari yang paling ideal, semua libur kerja dan sekolah, sehingga dapat memanfaatkan momen tersebut buat sekadar kumpul.

Kalau aku dan suami cukup ngobrol di teras sambil ngopi ngeteh, ditemani pisang goreng hangat. Sambil memperhatikan anak-anak yang asyik bermain pasir kinetik.

Atau pernah duduk bareng sambil nongkrong di warung mie atau kafe es krim sambil mengobrol biar hati plong, kami jadi bahagia, gak gampang marah-marah lagi. Abis itu saling minta maaf deh.

Atau jika tidak bepergian, sebulan sekali aku dan suami suka membersihkan tanaman dari rimbunnya daun, membabat dan memotong dahan yang mulai tinggi agar pekarangan rumah terlihat lebih terang. 

Anak-anak membersihkan daun yang berserakan. Semua ikut terlibat, barengan, agar merasa adil dan saling bahu membahu. Setelahnya kami bisa makan kue dan minum teh manis bareng.

Jika sore hingga malam tiba, sholat berjamaah dan mengaji adalah moment yang tepat untuk berkumpul, saat itu juga kadang-kadang kami suka saling intropeksi lalu saling memaafkan. Indah bukan?


4. Berzikir dan Menjaga Pikiran Tetap Positif 

Memang katanya sih sulit, namun menjaga pikiran tetap positif adalah hal yang juga diperlukan. Biasakan untuk tidak saling mencurigai, becandalah sekedarnya, tidak berlebihan agar tidak ada yang merasa dibully dan disakiti meskipun itu sesama anggota keluarga. Justru kita harus bisa mengakrabkan keluarga.

Termasuk saat suami bepergian sendiri. Aku dipesan oleh almarhum ibu, agar selalu berpikir positif jika suami sudah keluar rumah. Jangan cemburu berlebihan, apalagi sampai mencurigai pada hal-hal yang belum tentu benar.

Berikan kepercayaan bahwa suami dan anak-anak akan baik-baik saja. Doakan semoga langkah mereka ke tempat kerja atau ke sekolah dilindungi dan lancar. Agar keluarga kita selalu selamat di jalan.

Jadikan hati dan pikiran diliputi dzikir kepada Allah, tawakal, Allah Maha Menjaga Hati, Allah Maha Pelindung dari segala keburukan anggota keluarga.


5. Hilangkan Stres dengan Pergi Belanja Bersama 

Bosan, stress dengan kerjaan? Nah, kalau sudah begitu, aku ajak suami dan anak-anak pergi bersepeda bersama. Atau jika ingin pergi keluar, taman kota bisa menjadi pilihan tepat karena suasananya sejuk, menyenangkan, tanpa harus menghabiskan uang yang banyak.

Bisa juga sesekali jalan-jalan ke Mangga Dua Square Jakarta, melihat-lihat baju branded murah dan lengkap. Sesama anggota keluarga jadi senang dan bahagia.

Pokoknya buat suasana santai dan menyenangkan, jangan sampai bikin kerjaan atau bepergian yang malah menambah stress saja. Diskusikan segalanya terlebih dahulu. Ingat, komunikasi itu penting ya!


Mau, seperti itu? 
Yuk, terapkan 5 tips di atas untuk menjaga hubungan keluarga agar tetap harmonis dan bahagia.


12 komentar:

  1. Keceh bgt ini tipsnya kak, aku juga masih belum bisa terbuka sepenuhnya pada suami kalo kesel biasanya aku diam alias mogok ngomong. Karena dia juga sering nggak ngeh kalo istrinya marah. Eh jadi curhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe aku pernah begitu, tapi makin diam makin pengen meledak rasanya. Akhirnya yaa berani ngomong deh, asal yaa itu: gak laper, gak ngantuk, gak gerah 😁

      Hapus
  2. Memang ngak mudah menyatukan dua orang dengan isi kepala yang berbeda, aku aja yang sudah 17 tahun berumah tangga masih suka berselisih paham, tapi gaya meledak-ledak saat berargumentasi sudah turun drastis. Makasih mbak tipsnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama bun, terimakasih sharingnya

      Hapus
  3. Wah kisah yang menarik dalam membangun rumah tangga. Apalagi kita masih muda . Emosi suka meluap-luap.

    Terus belajar dan saling menjaga cinta agar hubungan rumah tangga menjadi awet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeet, masih awal-awal tuh pengennya ngomel mulu hihi

      Hapus
  4. Wah jd tercerahkan baca tipsnya...bener bgt terkdg klo lg ada masalah sk ngebatin pgn sendiri aja ky zaman single lebih enak eh tp berjalannya waktu jd kuat dh, makasih tipsnya kk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu ternyata sama yaa, emang gak seindah yg dibayangkan kalo gak siap lahir batin

      Hapus
  5. Ahh bener banget mba tips tips di atasa sering main bareng, keep positive thinking.. Yg ngejaga pernikahan tetap langgeng. Konflik rasanya wajar tp kalo Kita menerapkan tips di atas insya Allah segera beres ya mba. Semoga pernikahan kita tetap samawa ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya robbal aalamiin, terimakasih Visya

      Hapus
  6. sekarang dah sibuk dengan hape masing2 mba. Komunikasi yang berkualitas sudah susah didapatkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe tapi aku masih suka ngerayu 'nakal' di whatsapp bang, lumayan deh jadi menetralisir suasana 😁

      Hapus