NarasiLia.com

Berbagi Pengalaman dan Tips Gaya Hidup

22.2.13

CURHAT BISNIS : Mulai Es Mambo, Ikan Hingga Urusan Popok, Bisnisku Bagai Anak Tangga.

SI PEMALU YANG GENGSI JUALAN. CURHAT BISNIS : Mulai Es Mambo, Ikan Hingga Urusan Popok, Bisnisku Bagai Anak Tangga.

Bermula dari kebutuhan mendesak, pada tahun 2007, aku si wanita pemalu dan memiliki sifat gengsi, yang tidak terfikir sama sekali untuk menjadi pedagang, mencoba peruntungan dari berjualan es mambo. Sekedar pengisi waktu kosong. Tiap waktu yang tersisa dalam mengurus buah hatiku Shidqi, kusela waktu untuk memasak air dan gula, kemudian kutambah sirup, membungkus satu persatu air sirup tersebut, memasukkan kedalam freezer, dan keesokan paginya kutitipkan pada warung yang ada di komplek kecilku ini. Tiap sore kuambil dan kuhitung keuntungannya, yah..ternyata minat anak-anak terhadap es mambo pada jualan perdanaku ini belum menyenangkan hati.

Tak putus asa, tiap hari tetap kulakukan hal yang sama, masih dalam jumlah keuntungan yang biasa, sang ibu warung hanya berkata membuat laporan: “kalah saing sama minuman gelas ‘gopek’ mbak”, aku hanya tersenyum. Tiap bulan terus kulalui, sang ibu warung juga tak bosan memberi laporan: anak-anak sebenarnya mau, cuma gak boleh jajan es, jadi yang beli hanya anak-anak remaja saja”, aku hanya bisa tertawa dan ucapkan terimakasih. Hingga dalam waktu setahun, keuntungan yang paling membahagiakanku adalah pada bulan April, hanya satu dari duabelas bulan, es mambo jualanku ludes dalam sehari.

Setahun itu terasa cukuplah bagiku, termenung mengingat kisah dulu almarhum ibu pernah mengingatkan, “dulu waktu ibu masih kerja menjadi suster, ibu tidak pernah malu untuk berjualan combro, dek. Ibu jual kepada dokter-dokter di sana. Kamu keturunan Padang, harusnya kamu mempunyai jiwa pedagang, tidak boleh malu, buang jauh-jauh gengsimu itu!”.  Apa mau dikata? Gak mau kok dipaksa, memang gak bakat, gerutuku. Blep! Terasa kenangan itu terhapus dari ingatanku.


BAWAAN HAMIL, JADI DOYAN JUALAN


Pada akhir 2009 aku hamil anak kedua, mengidam pepes ikan. Kebiasaanku membuat pepes menginspirasi suamiku, ia berkata, “cobalah kamu buat pepes yang banyak, nanti saya bantu menjual kepada teman-teman guru. Daripada kamu makan sendiri, lebih baik sekalian jalan, kan?”. Wow, tawaran yang cukup bagus, toh aku bisa menyalurkan bakat memasak, tanpa perlu berhadapan langsung dengan pembeli, sehingga tidak harus menahan malu dan gengsiku yang besar.

Kusetujui usul suamiku, bisnis kumulai. Dari membeli ikan 5 kilogram di tempat pemancingan, membersihkan ikan, membumbui, menata dan membungkus dengan daun pisang, memasak hingga matang, semua kulakukan sendiri setiap malam, begadang dan hanya hanya bermodalkan panci presto ukuran kecil. Alhamdulillah dalam waktu dua bulan, aku bisa menambah peralatan presto ukuran lebih besar sehingga dapat memuat pepes ikan lebih banyak, lebih menghemat waktu, dan laris manis.

Namun dibalik manisnya usaha bisnisku itu terselip juga rasa getir, saat tiba-tiba motor suamiku mogok tak bisa berangkat ke Jakarta, tempatnya bekerja sekaligus tempat ia menawarkan titipan pepes ikan buatanku. Akhirnya, dengan jarak tempuh pulang pergi 60 KM, suamiku berangkat dan kembali menggunakan sepeda. Sungguh membuatku terharu, apalagi tetap laris manis. Mantap bukan? Mungkin bagi anda itu biasa, bagi kami, itu luar biasa, haha!

Kegetiran yang lain adalah saat ide pepes ikan isi daun singkong buatanku itu ditiru oleh rekan bisnisku sendiri. Awalnya ia membeli banyak untuk dijual kembali di warung makannya, kini ia membuat resep sendiri dan sangat dikenal. Tidak lagi mengambil masakan dariku. Putus hubungan. Namun aku hanya bersyukur, mudah-mudahan hal itu bisa membuat ladang amalku nanti, amin.

Akhirnya seiring usia kehamilanku menginjak bulan ke-7, aku mulai tidak kuat lagi. Sudah kepayahan dengan rasa kontraksi yang tidak kunjung reda. Dokter menyuruhku istirahat total, menasihatiku untuk melepaskan kegiatan bisnisku itu. Ah, terasa gundah. Aku mulai merasakan nikmatnya berjualan, nikmatnya ketika hasil jerih payah kita ada yang menyenangi dan menghargai. Haruskah kulepaskan?
“Ya Allah, di saat aku mulai menyukai bisnis itu, Engkau berkehendak lain, aku pasrah, namun berikanlah petunjuk dan kebaikan yang lain. Aku telah merasakan bahwa Engkau memberikan rizki yang ni’mat dalam usahaku itu,” bisikku dalam do’a, memohon kemantapan hati.

Yap, demi kesehatanku, dengan mantap kulepaskan bisnis itu, walaupun para pelanggan masih sering menanyakan, aku sudah tidak lagi resah. Kuisi waktu luang itu dengan berjualan makanan kering. Kegiatan yang tidak membuatku terlalu lelah. Aku hanya membelinya secara grosir, kutimbang satu persatu dalam bungkus kecil, dan dijual dengan harga Rp. 2.000,- per kantong. Sebagian kutitipkan kepada suami untuk dijual kepada teman-temannya, sebagian lagi kutitipkan kepada penjual jamu dan sayur keliling komplek. Alhamdulillah, laris manis juga. Namun sayang, hanya bertahan dua bulan saja bisnis itu berlangsung, karena saat itu aku harus betul-betul menyiapkan diri untuk melahirkan.

BISNIS PERTAMA, RUGI BESAR


Tak kunjung harapan terhenti begitu saja, disaat hari-hari melahirkan akan tiba, aku masih melirik pada bisnis popok kain anti bocor, bisnis yang pas untuk kebutuhan bayiku nanti. Aku mulai mencari barang dan produsen yang sekiranya pantas untuk modalku saat itu melalui internet. Aku langsung tergiur dengan kalimat-kalimat yang terdapat dalam promosi popok tersebut. Dengan memberanikan diri, langsung menjadi agen. Tanpa teliti terlebih dahulu, tanpa uji coba, tanpa ragu-ragu kupesan popok dalam jumlah yang banyak. Dengan percaya diri, mencoba menawarkan kepada teman-teman serta tetangga yang mempunyai bayi. Meyakinkan para calon pelanggan bahwa produk ini bagus dan menghemat pengeluaran jatah biaya bulanan untuk popok sekali buang. Alhamdulillah mereka mulai memesan walaupun belum menerima barang.

Namun ternyata, bagaikan petir di siang hari tanpa hujan, aku merasa ditipu oleh produsen popok itu. Tak disangka, inilah bisnis online, tanpa bisa memilih dan melihat barang, hanya mengandalkan kepercayaan, pesananku dikirim. Namun setelah paket datang, kuterima popok-popok dengan kualitas yang tidak memuaskan hati, bentuk dan bahannya tidak seragam, sungguh tidak menarik, sedikit merasa pesimis, tetap kujual kepada pembeli yang sebelumnya telah memesan. Ragu bercampur malu kupendam dalam-dalam. Sampai akhirnya Agustus tahun 2010, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang kami beri nama Selma, sang penyelamat yang kehadirannya memberi kekuatan jiwaku untuk terus berani berbisnis.

Dalam keadaan masih lemah sehabis bersalin, aku menghubungi sang produsen, kuceritakan semua keluhanku sebagai pengguna dan penjual, namun yang kuterima hanyalah jawaban membela diri, berbagai alasan dilontarkan, menjelek-jelekan kualitas popok yang lain, dan yang paling menyebalkan adalah ketika kudesak mengapa setiap barang memiliki kualitas yang berbeda dan cepat bocor?, akhirnya mereka mengakui bahwa mereka juga kena tipu, supplier bahan baku mitra mereka memberikan bahan baku berkualitas rendah pula. Sehingga popok yang dijual kepadaku adalah betul-betul popok kwalitas rendah. Namun ketika aku menuntut ganti rugi agar mengembalikan sisa uangku, mereka menolak jika aku mengirimkan kembali popok-popok tersebut. Ah, sungguh menjengkelkan!

Apa daya tak kuasa menahan sedih, sempat putus asa dan sangat malu, akhirnya kujual sisa popok-popok itu dengan harga dibawah harga yang ditetapkan oleh produsen. Sempat pula menerima keluhan beberapa konsumen yang juga sebagian temanku, mengatakan bahwa popok tersebut bocor tidak sesuai dengan harapan mereka, dan ketika kucoba pakaikan pada bayiku, ternyata benar, cepat bocor. Ah, aku tidak berniat menipu, tapi merasa ditipu dan rugi. Sungguh sakit menahan rasa ini, khawatir teman-teman dan tetanggaku itu tidak lagi menaruh kepercayaan padaku. Padahal selalu kuingat pesan almarhum ayah untuk selalu jujur dalam bersikap. Selalu mengingatkan untuk mengambil prinsip Rasulullah SAW dalam beretika dagang: jujur, amanah, cerdas, dan pandai menyampaikan.

Untuk itulah, aku masih mau memaafkan. Dengan niat baik aku selalu memberikan kritik dan saran kepada sang produsen, tak peduli pulsa telepon maupun sms habis hanya untuk berdiskusi bagaimana supaya popok tersebut tidak cepat bocor. Akhirnya lambat laun mereka mau menerima saran, mereka mulai merubah penampakan popok, memodifikasi, dan merubah pola. Mereka memberikan untukku sampel agar bisa kugunakan sebagai percobaan produk baru. Aih, masih bocor.
Saat itu pun aku mulai merasa bosan bekerjasama dengan produsen produk coba-coba. Jujur, aku merasa tetap dirugikan. Kenapa? karena popok yang dulu kubeli banyak hanya teronggok dipojok kamar tanpa ada pembeli. Aku tidak kuasa untuk menjual produk yang tidak memuaskan. Akhirnya kubagikan secara gratis untuk saudara-saudaraku. Itu cukup membuatku puas. Dan dengan izin suami pula, dengan puas kutinggalkan bisnis popok mengecewakan itu. Bye…


ANAK BAWA REJEKI MASING-MASING


Namun kehadiran Selma betul-betul membawa angin segar. 

Dengan rasa penasaran, saat kucari-cari kembali produk popok merk lain, suatu ketika tanpa sengaja kutemukan popok yang lucu dan menarik. Tak mau gegabah, aku membeli popok itu untuk sebagai contoh uji coba, ternyata sangat memuaskan. Popok buatan anak negeri tetapi kwalitas luar negeri. Tidak kutemukan kebocoran yang fatal. Bahkan sempat kupakaikan untuk mengajak pergi bayiku menginap. Namanya PEMPEM

Tidak pikir panjang, segera aku bergabung menjadi reseller. Tak hanya itu, segala kebutuhan Selma, pernak-pernik yang lucu kubeli dengan harga grosir. Sebagian kupakaikan untuknya dan sebagian lagi kujual. Kumulai beranikan diri mengembangkan sayap untuk berjualan melalui media internet, jejaring social facebook, dan layanan iklan gratis.

Semua kegiatan bisnis ini kuabadikan melalui foto, para model dalam foto-foto tersebut adalah suamiku, aku, Shidqi, dan bayiku Selma. Kupajang dengan percaya diri di facebook dan tidak lupa kuberitahu teman-teman. Wow, ternyata tanggapan mereka bermacam-macam, ada yang tertawa meledek, suka, bahkan ada yang ikut tertarik membeli barang-barangku itu. Di titik itulah rasa percaya diriku mulai hidup kembali. Kuberanikan diri mencairkan dana deposito warisan orangtua untuk membuka lahan-lahan baru, untuk produk anak-anak dan bayi dengan tujuan agar kedua anakku Shidqi dan Selma bisa ikut menggunakannya juga. Dari situlah, inspirasi datang dan diriku mulai membuka toko online bernama: Shidqi Selma Shop. 

Pada bulan Oktober tahun 2010, kami mencoba peruntungan membuka lapak kecil di pinggir trotoar kawasan Pemda Cibinong. Tiap hari Minggu, kawasan itu memang menjadi lahan tempat pedagang kaki lima berjualan. Mulai pagi hari aku dan suami mengangkut barang-barang untuk diletakkan di sana. Kami terpaksa bolak-balik karena motor hanya bisa memuat sedikit. Anak-anak terpaksa kami tinggal sebentar. Selesai lapak kami beres, barulah mereka kami bawa mereka untuk ikut berjualan. Ah, membayangkannya saja cukup menyedihkan. Bayi Selma yang baru berusia dua bulan, kutidurkan pada alas kasur, diatas trotoar tempat kami berjualan. 

Sesekali kugendong dengan Hanaroo Babywrap, sebagai contoh dari jualan kami. Keuntungan berjualan tidak seberapa, hanya habis untuk iuran yang dimintai oleh para petugas-petugas nakal maupun preman berkedok seragam. Belum lagi untuk jajan sarapan kami selama menunggu lapak. Setelah melalui beberapa minggu dalam dua bulan, kami putuskan tidak lagi berjualan di sana. Cukup untuk pelajaran kami dan anak-anak, bahwa hidup itu harus berusaha, dimana pun berada.

Seiring anak-anakku mulai tumbuh berkembang, bisnis semua kulakukan sendiri. Membeli barang, menjalin kerjasama, memfoto barang, memasangnya dan memberikan keterangan. Jika ada pemesan yang tertarik, aku merangkap sebagai operator dan distributor. Sambil menyuapi anak-anak, kubalas pesan singkat mereka. Kuberikan simbol senyum pada setiap balasan pesan, agar memberi kesan bahwa aku adalah penjual yang ramah, walau saat itu mungkin aku sedang repot dan kesalnya mengatur Shidqi dengan kedisiplinan, memandikan dan mengganti baju anak-anakku, atau sedang membersihkan tumpahan makanan dan minuman yang dilakukan bayiku Selma.

Bahkan harus tetap bersabar atas permintaan calon pelanggan yang sedikit menggemaskan, menawar dengan tawaran yang tidak pantas, atau pernah sesekali mereka tidak jadi membeli, hilang tanpa kabar. Namun kujadikan angin lalu. Tiada kemarahan yang harus kupendam. Tetap kubungkus rapi pesanan mereka-mereka yang telah membeli dan kukirim segera. Segalanya demi kepuasan pelanggan. Kini mereka pun bagaikan teman dan saudara, ada rasa kangen saat kami tidaklah lagi berkomunikasi. Walau demikian, kami tetap menjaga privasi masing-masing.

Mulai Bangkit
Bulan bertemu bulan, sampai kini tahun 2011, genap setahun perjalanan bisnis online yang kujalani. Dalam waktu perjalanan itu kutemukan mitra-mitra produsen dan supplier yang baik, amanah, dan jujur. Terkadang kami melakukan perdagangan sistem dropship. Kudapatkan juga kerjasama yang baik dari jasa pengiriman barang, mereka mau menjemput barang kirimanku walau hanya satu barang, itu pun tidak sampai 1 kilogram beratnya. Ah, luar biasa profesionalisme mereka. Kubuka rekening pada dua bank, adanya fasilitas internet banking dan mobile banking dunia terasa dalam genggamanku. 

Dengan dua anak-anak yang masih sulit kutinggalkan, segala kerja bisnisku masih bisa diandalkan hanya di dalam rumah. Adanya bantuan dari para reseller bimbinganku, dan dukungan penuh dari suami tercinta, Alhamdulillah semua terasa terbantu. Suamiku mau mengerti. Walaupun rumah kecil kami tidak pernah terlihat rapi, namun ia tidak sekali pun marah, justru sesekali ia membantu memandikan anak-anak, mencuci piring, menyapu bahkan bergantian mengajari Shidqi mengaji. Karena jika suamiku tidak dirumah, aku benar-benar menjalankan semua itu sendiri.

Kini kurasa ini adalah kenikmatan, kuyakini ini mungkin jawaban Allah SWT atas kesedihanku setahun yang lalu. Jika kita tetap optimis, berserah diri kepadaNya, maka Dia bukakan pintu rejeki yang tidak disangka-sangka oleh logika kita sebagai manusia yang lemah. Alhamdulillah, dalam setahun ini kurasakan omset hampir mencapai puluhan juta rupiah, yang terlaris adalah produk popok idamanku, sejumlah kurang lebih 1000 buah popok laris terjual ke seluruh Indonesia. Gendongan ala kanguru, yang juga disukai Selma, serta pernak pernik yang lucu dan unik ikut meramaikan keuntungan bisnis ini. Keuntungannya bisa kurasakan untuk menambah uang saku dapur dan sekolah anakku Shidqi. Sedikit membantu kebutuhan rumah kecil kami. Dan sebagian keuntungan yang lain kubelikan untuk menambah produk bisnis yang lain.

Kini tidaklah lagi ada rasa putus asa dan malu, telah terasa darah dan jiwa semangat dari almarhumah ibuku kian membara. Ilmu yang datang selalu kuterima dengan baik sebagai ajang melatih diri. Serta dukungan suamiku yang baik dan penuh pengertian, aku tetap bersabar menjalani bisnis ini. Akankah bertahan? Insyaallah, kami hanya berusaha dan hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui dan Maha Penentu.




Cerita ini juga diceritakan dalam buku antologi Curhat Bisnis

2 komentar:

  1. wied7.6.13

    Kebetulan saya dan istri sedang merintis usaha yang saat ini baru ditawarkan dari mulut ke mulut. Pinginnya sih mau mencoba untuk buka lapak juga. Insya Allah kami akan menekuni usaha ini sebagai persiapan pensiun dini, sudah capek menjadi kuli heheheh.

    Jika berkenan, mohon informasinya mengenai peraturan dan mekanisme buka lapak di pemda cibinong ini. Kalau harus daftar dulu, ke siapa daftarnya. Kalau ada retribusinya, berapa besarannya dan dibayarkan tiap apa. Sebelumnya terima kasih atas perhatiannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat mencoba bisnis barunya ya mbak, selalu tekun dan mencintai usahanya itu yg paling membuat kita jadi semangat.

      oiya utk buka lapak di Pemda sekarang sudah dilarang pak, sudah tidak ada lagi, kecuali beberapa saja yg masih. Dulu sih gak ada syarat apa-apa, cuma banyak punglinya aja :)

      Hapus

Agar tidak spam pada komentar, gunakan akun Google kamu. Atau kirim email ke: info.narasilia@gmail.com. Thank you ❤

Pengikut:

Lia Lathifa's Medium Audience Badge