Desember 01, 2015

Cahaya Hati Untuk Menuju Khazanah Ilahi

Suatu hari saya iseng membuka file backup di komputer yang kerap kali ngehang, ternyata malah ketemu kumpulan tulisan almarhum ayah yang selama ini menjadi inspirasi jiwa dan fikiran saya sebagai manusia.
Saya buka tiap judul, ah sungguh membangkitkan rasa kangen saya kepadanya. Ayah itu senang ngobrol dan menulis. Kalau tidak ada teman ngobrol, beliau akan menuangkan semua apa yang dipikirkannya ke dalam suatu tulisan. Seperti ini salah satunya yang sedikit saya perbaiki agar tatanannya enak dibaca.
Kata Ayah:
Untuk mengenal dunia ini, manusia membutuhkan cahaya yang menyinari untuk bisa melihatnya, seperti matahari, lampu, obor, dan sebagainya. Begitu pula hati ini, apabila ingin melihat khazanah Allah swt maka dia membutuhkan  nur (cahaya) hidayah yang dapat memperlihatkan dengan jelas segala kebesaran Allah swt.
Tanda-tanda Adanya Cahaya Dalam Hati:
1.   Manusia tidak tertipu oleh keduniaan.
            Dihadapan Allah swt, dunia ini tidak lebih berharga dari sehelai sayap nyamuk, dan karena tidak mempunyai nilai tinggi tersebut maka Allah swt berikan kebebasan kepada siapa saja yang menghendakinya untuk mengambil sepuas-puasnya tanpa batas.
Dan bagi manusia yang tidak menyadari akan nilai dirinya yang sebenarnya lebih mulia dari segala makhluk yang pernah Allah swt ciptakan, maka dia akan merasa bahwa kebahagiaan hidupnya adalah apabila bisa meraih dunia yang tak berharga itu sebanyak mungkin.
Dia korbankan dan habiskan harta, diri, waktu dan segalanya demi meraih dunianya tersebut. Adapun orang-orang beriman justru sebaliknya, dia tidak terkesan dengan kehidupan dunia yang melalaikan, tetapi dia sibuk dengan cita-citanya untuk bisa meraih kehidupan akhirat yang membahagiakannya kelak.
2.   Kehidupannya terpaut dengan kehidupan akhirat.
            Dikisahkan contoh seorang anak kecil berusia sekitar 7 tahun bernama Zainal Abidin, ketika sedang bermain dengan anak-anak lainnya, dia melihat ibunya sedang membakar kayu dalam tungku untuk memasak dengan kayu-kayu berukuran kecil karena mudah menyala. Yang terjadi justru dia menangis karena membayangkan api neraka yang menyala-nyala membakar dirinya. Masya Allah.
3.   Mempersiapkan diri untuk bekal mati.
            Dihabiskan segenap waktu hidupnya untuk berda'wah mengajak manusia taat kepada Allah swt tanpa mengenal lelah dan bosan. Bagaimana Salman Al Farisi berpesan ketika akan menemui ajalnya saat dia sedang sakit, yaitu minta disirami dengan minyak kasturi, karena sebentar lagi malaikat maut akan datang menjemput dirinya, dan dia suka wangi-wangian tersebut.
Abu Bakar ra berpesan agar dimandikan bagaikan Rosululloh saw dimandikan. Begitu pula raja Zulqornain berpesan agar ketika dikafani tangannya dikeluarkan agar rakyatnya melihat dan mengetahui bahwa kematiannya tidak membawa harta benda.
Perbanyaklah permintaan ketika dalam berdo’a:
      -  Iman yang sempurna.
      -  Cinta kepada iman.
      -  Memperoleh cahaya iman.
      -  Kekuatan iman.

Praktek keimanan yaitu:
a. Ketika perut lapar maka ingatlah kepada Allah swt bukan kepada makanan, baru setelah itu upayakan untuk meni’mati lezatnya makanan dengan tidak melupakan adab-adab di waktu makan, karena yang menghilangkan lapar adalah Allah swt.
Allah swt bisa membuat seseorang kenyang tanpa harus memakan makanan. Contohnya Siti Fatimah rha ketika dalam keadaan kelaparan yang sangat, dido’akan oleh ayahandanya Rosululloh saw, maka sejak itu dia tidak pernah mengalami kelaparan.
b. Ketika sakit ingatlah Allah swt dan upayakan sholat dahulu sebelum pergi berobat, setelah itu carilah madu dan minumlah dengan keyakinan Allah swt Yang Maha Menyembuhkan.
Luruskan iman kita, maka amal akan lurus pula.

Terimakasih ayah, sudah menasihati aku saat ini.

5 komentar:

  1. makasih mbak lia atas pencerahannya kayanya aku masih mabuk duniawi T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Evrina mah balance, gak akan mabuk duniawi jika tetap melaksanakan sholat dan ibadah wajib, gitu sih kata ayah :-)

      Hapus
  2. Ya Allah... Sungguh tulisan yang bermakna,

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya robbal aalamiin, terimakasih mbak Sarah

      Hapus
  3. Tulisan yang sangat bermakna.

    BalasHapus

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com