Rumah Tanpa Televisi

Tepat tanggal 16 April lalu televisi di rumah kami rusak tak mau menyala. Sudah hampir tiga minggu lamanya rumah kami tidak dibisingi suara televisi. Diutak-utik pun tetap tidak menimbulkan gambar maupun suara. Televisi bertabung besar itu diam tak bergeming. Sebelumnya sempat 'berteriak' mendadak. Kami sudah menduga televisi akan mati suatu hari nanti. Maklumlah, televisi warisan mertua. Mereknya dijitak, alias Digitec. Si badan besar rasanya juga sudah tak berdaya jika diservice, onderdilnya mungkin sudah langka.

Si tivi gendut
 Aaah, rasanya memang bikin galau bangeeet
Diprotes anakku karena mereka tak bisa menonton film kartun 3D kesayangan mereka. Sebutlah seperti Ipin-Upin, Masha & The Bear, Code Lyoco, Pororo, Shaun The Sheep, dan satu lagi kartun legendaris Tin-Tin. Ada juga acara reality show seperti CCTV, The X-Game, dan The Comment. Begitu juga tontonan favorit bundanya, yaitu Stand Up Comedy, Kick Andy, Just Alvin, sesekali ceramah (itu juga kalau gak kelewat). Ayahnya? sama juga, salah satu korban yang tidak bisa menonton Moto GP, acara yang kayanya dinanti dan dirindu. 

Itulah acara televisi kami. Untuk acara yang lainnya, mohon maaf, selebihnya kami matikan. Tak sanggup lagi aku melihat berita-berita dan infotaiment yang selalu mengulas keburukan dan kejahatan (menurut kami). Cuek aja deh kalau agak ketinggalan berita. Baca-baca di mbah gugel juga masih bisa. Bagaimana dengan tivi kabel? Apalagi itu, si emak hemat ini tidak kepikiran untuk menyewa. Fikiran ini dipaksa tidak kecanduan nonton film, karena sekali senang film drama, aiih, sepertinya tingkahku mirip anak-anak yang tak mau terlewatkan. Berebut channel itu sering terjadi deh, sekali lagi: maklum tivi kami cuma satu. 

kecewanya Shidqi tivi rusak

Nah apa yang terjadi selama tanpa televisi? 

Ahay, banyak sekali nilai positifnya. Perubahan sikap yang terjadi pada anak-anak sangat terlihat. Seperti Shidqi, sepulang sekolah dia tak lagi sibuk mencari bantal untuk sekedar rebahan di depan televisi. Kini kuperhatikan dia sibuk dengan membongkar mainan kereta mininya lagi. Kadang-kadang malah diambilnya buku-buku cerita yang dulu sempat teronggok di lemari bukunya.
Yang sering dia baca adalah komik Islam sehari-hari, buku kereta keluaran PJKA, bahkan buku peta berbagai negara. Setelah sholat ashar, biasanya dia akan pamit untuk main sepeda. Kalau adiknya jangan ditanya deh, dari pagi sampai sore, sepeda roda tiganya sampai ngos-ngosan diajak main.

komik yang berisi sentilan berdasarkan hadist.


Hari demi hari menjelang kisah ini kutulis, Shidqi dan Selma lebih banyak mengembangkan imajinasinya. Apapun dibuatnya menjadi sesuatu. Entah mainan senter-senteran, lego, buku yang ditumpuk-tumpuk menjadi stasiun keretanya, mencorat-coret kertas, bermain tenda berimajinasi layaknya di sebuah rumah dan berkeluarga, pokoknya jadi lebih kreatif-lah dibanding dulu. Selma tentu saja tinggal mencontoh apapun yang dilakukan abangnya. Jadi semakin gampang deh mengarahkan mereka.


bermain bayangan bintang katanya
bermain face painting
lagi bikin tiang heli
Pengaruh lain yang cukup menggembirakan hati yaitu kedua anakku juga lebih mudah mendengarkan perkataanku. Biasanya tuuuh paling sering dipanggil berulang kali jika sedang asyik menonton televisi. Kini dua kali saja sudah cukup, mereka langsung menjawab panggilanku.
Anda pernah merasakan hal ini?.
"Haloo nak, kupingnya kemana yaa? Serius banget nonton," begitulah kira-kira.
Kini hal itu sudah tidak ada lagi, beneran seneeng deh..*lempar pompom. Semoga terus begitu ya nak, aamiin.

Sttt, padahal panggilan itu hanya ingin bantuan mereka saja, hehehe... 
"Kak, tolong ambilkan sayuran di kulkas dong."
"Kak, tolong bantuin taroin piring nih, bunda yang cuci deh."
"Dek, bantuin bunda beresin mainan yuk, lantai mau disapu nih."
"Dek, tolong buangin sampah ya."
"Kak, naik sepeda gih, beliin bunda gula pasir di warung. Ajak sekalian adiknya!."
*hehhee.. ini sih modus
Semua itu dilakukan mereka dengan tanpa beban. Mereka hanya minta imbalan kue buatanku, sesekali minta dibikinkan teh manis atau susu coklat. Malah lebih banyak minta es krim yang memang sengaja kubuat banyak. Siap di freezer. Apalagi kalau sehabis sholat berjama'ah, Shidqi & Selma selalu kami iming-imingi, "baca do'a yang banyak, minta sama apa yang kalian mau. Allah kan Maha Kaya, Maha Pemberi."
Udah kebaca kan maksudnya? Kalau mereka sedang males dan ngadat, akan kulontarkan kalimat jitu, "katanya mau disayang Allah, ayo dong jangan malas. Mana nih anak pinternya bunda?".


Ada godaan sebenarnya ketika iseng melihat televisi baru di toko. Apalagi lihat tulisan 0%. Waduh, haruskah memaksa menyicil? Tanpa bunga tuh. Hmm.. padahal hutang adalah hal yang sangat kujauhi jika tak terpaksa. Ndilalah, sore kemarin suamiku laporan, katanya ada rencana akan dapat dana segar dari kakak ipar untuk membeli televisi. Tiap bulannya setor Rp.250.000,-. 
Agak kurang antusias sih sebenarnya menerima tawaran ini. Kayanya belum perlu banget deh.
"Nanti aja deh, yah. Lagi pula anak-anak belum nanya lagi kapan beli televisi baru."
"Ya udah, gak jadi berarti ya", balasnya. "Nanti kepengen nonton Stand Up Comedy gimana?"
"Gak papa, masih bisa nonton di You Tube."
Anak-anak pun masih bisa nonton dan main vcd edukasinya di komputer.
Simple.


Terpaksa tanpa televisi nyatanya tidak menimbulkan masalah apa-apa kok. Semua bisa dialihkan kepada kegiatan yang lebih bermanfaat dan mendidik. Benarlah apa yang dikatakan orang bijak, anak ibarat kertas putih, bagaimana kita menorehkannya di dalamnya. Anak ibarat air yang mudah menempati ruangnya. Anak ibarat spons yang mudah menyerap dan menempel apapun yang berada di dekatnya. Tentunya hingga saat ini kami sudah mulai terbiasa. Anak-anak lebih bebas bergerak bermain diluar. Bebas membongkar mainannya (asalkan harus dirapikan kembali). Bahkan Selma lebih banyak mempunyai teman.
Banyak bergerak membuatku berharap mereka akan lebih sehat dan lahap makan. Serta pola tidur mereka menjadi lebih teratur, jam 20.30-an biasanya sudah mulai mengantuk dan tidur. Dengan demikian bangun pagi pun tak sulit lagi. Lain halnya waktu masih ada tontonan tivi, jadwal tidur masih kurang teratur.


Volume televisi tetangga masih sering terdengar. Lucu juga, walaupun sudah lama tak menonton, tapi telinga kami masih hafal suara yang terdengar dari sana. Tercenung, inilah otak kami yang lebih mengenal suara televisi bertahun-tahun lamanya, seumur hidup kita.
Jika ada suara mendengung monoton lalu mendadak ramai, nah kayanya pertandingan bola tuh. Ada suara backsound khas dan alunan suara yang dibuat-buat, ooh itu infotaiment. Ada suara musik-musik dangdut ooh itu acara joget-joget. Malahan yang sering terdengar adalah iklan, iklan, iklan dan iklan. Yap, televisi masa kini hanya dipenuhi hal seperti itu.


***


Aku tak tahu, kapankah televisi baru mengisi kehidupan kami. Yang jelas kami sekeluarga masih menikmati kondisi ini. Hidup adalah pilihan walau terkadang memang harus dipaksakan. Terpaksa TANPA TV.

Pengobatan Penuh, Pasien Patuh, Tuberkulosis Sembuh.


Serial #3: TB Bisa Disembuhkan


“Uhuk..uhuk..uhuk.. UHHUKK..!!” Ahai, batuknya. Dengarnya pun terasa tersiksa. Terasa sangat gatal di tenggorokan.
“ Mas, besok berobat saja yuk. Siapa tahu mas kena batuk TB,” ajak Minah, sang istri.
TB apa itu? Tekanan Batin?” tanya suaminya sinis
“ Itu lho, singkatan dari Tuberkulosis. Yang batuknya lama dan ada darah dari mulut.“
“ Wah bilang saja TBC. Kenapa mesti disingkat lagi jadi TB? Biar keliatan keren?” dengus lelaki itu.
“ Ya, enggak tahu. Pokoknya kemarin Minah baca di koran ya begitu. Batuk mas itu lama sekali sembuhnya. Minah curiga, jangan-jangan benar. “
“ Halah, enggak usah. Wong ini batuk biasa aja kok. Orang yang kena TBC itu biasanya ya lama sembuhnya akhirnya meninggal,” jawabnya pesimis.
sumber foto: disini
“ Ih mas, kok ngomong begitu. Memangnya mas mau mati?. Sekarang di Puskesmas ada pengobatan gratisnya. Masa gak mau coba untuk berobat. Ayolah, besok Minah antar ya. Minah pengen mas sembuh. Kasihan anak-anak, kalau tertular bagaimana?.”

Penanggulangan dan Penyembuhan Tuberkulosis di Indonesia
Kondisi cerita seperti itu di atas mungkin juga lebih banyak ditemukan di tempat yang lain. Indonesia adalah negara ketiga terbesar yang terkena masalah TB, menjadi penyebab kematian ketiga setelah penyakit Jantung dan pernafasan akut. Sebagian besar penderita adalah masyarakat yang berusia produktif yaitu usia 15-55 tahun. 
Pemerintah telah mencanangkan rencana strategi penanggulangan penyakit ini dengan memberikan obat gratis melalui Puskesmas dan Rumah Sakit Umum. Serta adanya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) tentu saja untuk memudahkan masyarakat berobat. 
Indonesia menjadi contoh di dunia sebagai negara yang berhasil memerangi TB. Banyak hal yang telah dicapai dalam penanggulangan TB di Indonesia, salah satunya sejak tahun 2010 angka kesembuhan pasien mencapai 87 %. Dan pada tahun 2013 terdapat angka keberhasilan pengobatan menunjukkan adanya nilai > 90% pada beberapa tahun ini.

sumber foto: disini
Namun kenyataannya setiap tahunnya masih terdapat seperempat juta orang tertular. Penemuan kasus baru TB ini masih sekitar 52%. Mengapa? Karena masyarakat belum banyak mengetahui, tak peduli, bahkan menolak atau malas untuk melakukan pengobatan minimal 6 bulan itu. Padahal beberapa Rumah Sakit Umum seperti RSUP Persahabatan membuka layanan 24 jam untuk pasien yang terkena secara gratis. Amat disayangkan. Seperti lingkaran hitam yang berputar-putar tak kunjung selesai  jika penyakit TB tidak ditanggulangi dari kita sendiri.

Pasien Patuh, Tuberkulosis Sembuh.
Teringat dulu aku pernah mengobrol dengan adik sepupu yang sempat terkena penyakit ini, kayanya sih pada tahun 2008. Dia adalah ibu rumah tangga beranak satu saat itu. Entah darimana dia tertular. Mungkin dari ventilasi yang buruk ketika berada di tempat kontrakannya dahulu sebelum dia pindah menempati rumah baru. Bisa juga karena memang kondisi tubuhnya yang lemah dan lelah, jadi seringkali malas makan bahkan kadang-kadang jajan sembarangan.
Kudengarkan kisahnya, mulai dia berobat hingga akhirnya sembuh. Awalnya dia batuk tak kunjung reda sudah 3 minggu lamanya, dahaknya semakin mengental terutama di pagi hari, dadanya terasa sakit, terkadang terasa demam, berat badannya semakin kurus, tidak nafsu makan, dan berkeringat ketika malam hari. Setelah diperiksa fisik, uji laboratorium sputum dan darah, juga ronsen paru-paru, maka diputuskan memang dia terkena Mycobacterium Tuberculosis.
 Awalnya dia melakukan pengobatan selama 6 bulan, dia diharuskan meminum obat antara lain Isonikotinil hidrazid (INH) yang bersifat tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dan tuberkulosid (membunuh bakteri), Rifampicin, etambutol, streptomycin, dan pirazinamid. Bahkan sudah ada obat khusus TB yang mengandung vit.B6.
sumber foto: disini
 Namun karena hasil ronsen paru-parunya menunjukkan masih belum bersih maka dilanjutkan 3 bulan lagi. Sehingga tepat 9 bulan dia melakukan terapi ini. Setiap pagi dia minum obat, kemudian dilanjutkan siang dan malam. Itu tak boleh putus, harus rutin dan tekun. Tempat makan dan minum dikhususkan, jika sedang batuk dia menggunakan masker. Semua itu demi tidak menularkan kepada anak sulungnya.
Kini dia sudah memiliki dua anak. Dia bisa hamil setahun kemudian setelah pengobatannya selesai. Hei, BENAR, ternyata bisa disembuhkan. Syaratnya? Bisa dibayangkan kan, dia sembuh karena dia patuh.

Tips Agar Pasien Tuberkulosis Sembuh Total
Setelah mengetahui kisah sepupuku tadi, ternyata memang TB bisa disembuhkan. Asalkan rajin menjalani pola hidup sehat dan hindari stress.

Beberapa hal yang perlu diterapkan pasien jika dia ingin sembuh total, antara lain:
1.       Pasien taat pengobatan, tidak putus sampai program 6-9 bulan selesai.
Setelah obat diberikan, segera bulatkan tekad bahwa kita ingin sembuh. Jangan putus meminum obat sedikit pun. Jika perlu pasanglah alarm pengingat minum obat. Karena sekali saja lupa dan putus, kita diharuskan meminum obat lagi dengan kondisi dosis yang harus diubah, karena kuman tersebut menjadi kebal. 
Yakinlah kesembuhan memang dari Tuhan, namun Tuhan juga tak ingin hambaNya berpangku tagan tanpa usaha. Ingat: obat putus, kuman makin tembus ke sel-sel organ lainnya. Ngeriii..

2.       Rajin bangun pagi dan berjemur diri terkena sinar matahari pagi.
Sakit dan lemah memang yang dirasakan oleh pasien, namun jangan menjadi alasan untuk malas bergerak. Bangunlah saat waktunya sholat subuh dan bergeraklah di luar rumah sambil menunggu matahari pagi bersinar. Jemurlah badan kita pada hangatnya sinar itu selama 10-15 menit setiap hari. Hal ini akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, terutama limfosit atau sel darah putih. Untuk terapi TB sangatlah baik karena membantu meningkatkan kekuatan tubuh terhadap serangan kuman. Sinar matahari juga mampu meningkatkan kebugaran pernafasan karena jumlah glikogen akan bertambah setelah berjemur di bawah terik matahari pagi.

3.       Tidak membuang dahak sembarangan.
Memang paling menjijikan dan terkesan jorok jika melihat dahak di jalanan. Hei..hei..tak bisakah kita sopan sedikit?. Mungkin bagi kita membuang dahak di jalanan akan segera hilang tersapu debu. Tetapi tentu saja akan menyebabkan penularan yang lebih cepat. Setidaknya jagalah kebersihan. Buanglah dahak di lubang wc dan siram hingga bersih.

4.       Jauhi Rokok, Begadang, dan Alkohol.
Merokok dapat melemahkan kesehatan paru-paru, ditambah jika kita begadang, tubuh lelah butuh istirahat. Jelas saja jika kuman TB mudah menyerah orang yang lemah. Peminum alkohol juga sangat rentan terkena TB, alkohol yang berlebihan masuk ke dalam tubuh juga akan menurunkan system imun. Tak heran ketiga hal tersebut sebaiknya benar-benar harus ditinggalkan.

5.  Makan makanan Tinggi Karbohidrat dan Tinggi Protein, buah serta sayuran.
Kuman TB membuat tubuh terinfeksi, setidaknya sel-sel tubuh kita pasti ada yang rusak, organ tubuh membutuhkan zat makanan yang baik. Biasanya penderita dianjurkan makan makanan yang tinggi karbohidrat dan tinggi protein. Dan tentu saja menu sayur mayur serta buah-buahan. Diperlukan vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, dan zat besi, sebagai penambah sel darah merah dan mempercepat penyembuhan. Dan jangan lupa minumlah susu secara rutin.
sumber foto: disini


6.       Peran Masyarakat Ikut Membantu.
Seringkali pasien TB akan dijauhi, karena takut tertular. Itulah alasan mengapa pasien  seringkali tutup mulut terhadap penyakit yang dideritanya. Malu. Padahal peranan tetangga dan keluarga sangat diperlukan. Dukungan moril dan tanggap memberikan semangat kepada pasien ini dapat mempercepat penyembuhan. Misalkan saling peduli dan memberikan sumbangsih berupa makanan bergizi, bisa saja kan?
 Apalagi harga bahan makanan terutama buah sudah terbilang mahal. Bagaimana makin menderitanya pasien jika dihadapkan dengan kondisi ini. Libur bekerja karena sakit, makan sehari untuk sekeluarga saja harus dihemat, ditambah kebutuhan pendidikan anak-anak, padahal pasien harus dipenuhi gizinya. Disinilah peran sosial dibutuhkan. Bagaimana mungkin mereka akan sembuh jika kebutuhan fisik dan batinnya tidak terpenuhi. 
Pantas saja TB bukan hanya berarti Tuberkulosis, namun juga seringkali dipelesetkan menjadi Tekanan Batin seperti cerita di atas. Semoga kita terhindar dari hal ini.

***

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua untuk ikut berperan dalam membentuk negara Indonesia bebas Tuberkulosis dan (sssttt..) pengennya sih bebas rokok juga, yuk kita mulai dari sekarang!


Sumber tulisan: