Hati-Hati, Stress Saat Hamil Bisa Berakibat Fatal


Stress Saat Hamil Bisa Berakibat Fatal.

Judulnya bukan mau menakuti ibu-ibu ya, tetapi ini juga merupakan pesan tersirat dari DR. dr. H. Taufik Jamaan, Sp.OG agar ibu hamil gak boleh stress.

Hati-Hati, Stress Saat Hamil Bisa Berakibat Fatal

Kenapa??

Nah, pertanyaan itu akan terjawab di sini. Aku kutip dari materi-materi yang disampaikan para narasumber kepada para undangan pada acara talkshow Sweety Precious Moment di Igor’s Pastry & Cafe Jakarta, bersama majalah Mother&Baby Indonesia dan SweetyCare Parent Academy


Kenapa ibu hamil tidak boleh stress?

Mengalami stress saat hamil bukan saja berbahaya bagi diri sendiri tetapi juga kepada janin di dalam rahim dan bayi yang akan lahir nanti. 

Akibatnya bisa fatal. Janin akan ikut stress. Ke depannya, janin mengalami berbagai masalah seperti akan lahir prematur, berat bayi lahir rendah, kurang oksigen, terlilit tali pusat, bahkan keracunan dan kematian.


Bagaimana cara mengetahui janin stress?

Janin yang stress bisa diketahui pada usia kehamilan trisemester kedua dan ketiga. Bisa di-chek denyut jantung dan gerakan janinnya melalui USG, CTG, dan kurva pertumbuhan janin.

Sebaiknya ibu selalu rajin kontrol ke dokter atau bidan minimal 4 kali agar janin dapat terdeteksi dengan baik, sedini mungkin.


Apa penyebab janin menjadi stress?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan janin ikut stress.
  • Penyebab utamanya berasal dari ibu yang stress dan depresi. Apalagi kalau sering marah. Denyut jantung meningkat, tekanan darah tinggi. Denyut janin ikut meningkat cepat.
  • Bisa juga diakibatkan karena ibu mengalami sakit, demam tinggi, anemia, kurang oksigen, kurang gizi, bahkan kelelahan.
  • Janin juga bisa stress apabila ibu yang hendak melahirkan mengalami kesulitan mengejan atau terlalu lama proses persalinannya. 
  • Ditandai dengan keruhnya air ketuban karena banyaknya kotoran janin (meconium) yang keluar akibat kurang oksigen dan membuat otot anus janin menjadi lemas. Kondisi seperti ini dapat membuat janin keracunan.

Teringat dulu ketika aku hamil anak pertama, ayah jatuh sakit. Beberapa kali aku dan kakak bergantian mengantar ayah bolak balik terapi pengobatan kanker. Aku lakukan seiring makin besarnya kehamilan. 

Sebenarnya sangat stress menghadapinya, tapi aku berusaha bersabar dan berharap bayiku nanti dapat memberikan kebahagiaan bagi beliau. Apalagi ibu memang sudah tak ada, jadi sebagai pelipur lara ayah adalah perhatian kami ini.

Ketika dikabarkan ayah mulai berhalusinasi melihat orang berbaju putih, aku semakin stress, apakah ini tanda-tanda ayah akan pulang ke hadapan Ilahi?. 

Benar saja, belum juga tiba di rumah ayah, aku di telepon lagi bahwa beliau sudah tiada. Ya, Allah, impianku mau "pamer" bayi pertamaku mendadak pupus. Terhempas dan hancur berkeping-keping,

Orang-orang yang datang melayat banyak yang memelukku dan berkata: "sabar ya, de. Selalu istighfar, supaya tidak stress. Kasian bayinya nanti."

Wadezziigg.. pengennya banting-banting gelas minuman melampiaskan kemarahan dan kesedihan. "Gak segampang yang kalian ucapkan."

Beruntung, aku memiliki suami yang mengerti situasi ini. Selama tiga minggu ke depan, menjelang melahirkan, dia selalu mendukung jiwaku dan setia menemani di ruang bersalin. Lahirlah Shidqi ke dunia.

Pasca melahirkan, stress berlanjut. Aku mengalami post partum syndrom, melebihi gejala baby blues. Dimana keinginan mati itu selalu ada.

Kondisi ketakutan, sedih, nyeri jahitan, nifas, tidak bisa sholat, serta kurang siap mengurus Shidqi yang pup dan ngompol setiap saat membuatku merasa sangat lelah. Cucian numpuk. Nyaris tidak ada yang membantu karena sibuk di dalam suasana lebaran. 

Aku masih bisa menyusui Shidqi, namun tidak ada rasa gemas dan sayang. Flat, datar. Hanya ingin menangis dan menangis. Percaya kah? hal ini berlangsung hingga Shidqi berusia 6 bulan. 

Alhamdulillah, kemudian aku mulai sadar, tobat gitu deh, bersujud lama, dan mencoba mencintai Shidqi saat dia beranjak usia 7 bulan, juga atas desakan suami. "Mau sampai kapan, Li?".

Ah, kalau ingat kejadian sembilan tahun lalu, rasanya jadi malu dan ingin selalu memeluk Shidqi terus. Sekarang dia sudah besar dan punya dua adik.

Semoga anda yang membacanya tidak seperti itu ya. Ceritaku hanya salah satu contoh dari bahasan stress kehamilan. Sejak hamil kedua dan ketiga, alhamdulillah aku bisa bahagia, gak stress lagi. Mungkin karena faktor sudah pindah rumah, hehe..


Penyebab stress kehamilan bisa dipengaruhi faktor internal dan eksternal. 


Apa saja itu?

a. Faktor Internal, seperti perubahan fisik dan kesiapan mental. Fisik yang gemuk atau kurus saja bisa membuat ibu hamil kesal dan stress, takut suami gak suka dengan tubuh yang berubah, kalau melirik perempuan lain kan gawat. Baperan deh. Khawatir dengan biaya persalinan, takut tidak bisa mengurus bayi, juga membuat ibu jadi stress. Mental ibu hamil belum siap. Baby blues seperti yang kubaca di dalam tulisan Kamar Kenangan

b. Faktor Eksternal, seperti kelelahan memberesi rumah, stress dengan proyek kerja, pulang pergi menghadapi macet dan rutinitas membosankan, takut suami marah karena rumah berantakan atau belum masak. Atau ada konflik.


Mengatasi stress saat hamil, bisa?

Bisa kok, jangan alasan dipengaruhi hormon, kemudian jadi mudah baper. Solusinya sebenarnya banyak. Supaya ibu hamil tidak stress berlebihan sebaiknya lakukan hal sebagai berikut:
  • Lakukan komunikasi yang baik dari suami, teman, komunitas, sahabat dan keluarga. Mengobrol dan bertukar fikiran membuat ibu hamil menjadi tenang dan lebih percaya diri serta kesehatan mental kita terjaga.
  • Banyak melakukan hal-hal yang positif seperti ikut berbagai kegiatan, seminar, membaca buku, bahkan melakukan hobi.
Hati-Hati, Stress Saat Hamil Bisa Berakibat Fatal

  • Rajin beribadah dan membaca kitab Al Quran. Selalu bersangka baik dan bertawakal kepada Ilahi.
  • Menjaga kebersihan diri dengan mandi, body massage, luluran, sikat gigi.
  • Mengatur pola makan dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Kaya zat besi dan asam folat untuk mencegah anemia, kalsium untuk pembentukan tulang dan gigi, makanan kaya serat agar tidak sembelit.
  • Rutin minum air putih, jus, susu, supaya tidak dehidrasi.
  • Melakukan olahraga secara teratur agar sirkulasi oksigen dalam tubuh menjadi baik. 
  • Rajin jalan pagi setiap hari cukup membuat ibu hamil menjadi lebih sehat dan staminanya terjaga. Keistimewaan lainnya membuat ibu hamil jadi lebih mudah melahirkan nanti.
Buatlah catatan persiapan dan kebutuhan saat kelahiran agar tidak kaget. Seperti:
  • biaya persalinan, mau di rumah sakit atau di bidan.
  • Kebutuhan pasca melahirkan seperti baju ibu menyusui, madu, alat mandi, handuk, pembalut, pakaian dalam, kain, pendil untuk plasenta, dan lain-lain.
Untuk bayi lahir juga persiapkan, seperti:
  • Baju dan celana pendek
  • Selimut, bedong, sarung tangan dan kaki
  • Handuk bayi
  • Popok bayi.

Pijat Hamil Bisa Mengurangi Stress

Semakin lengkap ketika datang mbak Wulan dari Mom n Jo Spa menjelaskan cara memijat diri sendiri. Kondisi ini diajari agar ibu sedang pegal, kram, dan nyeri badan saat hamil bisa mengatasinya sendiri, sebagai pertolongan pertama.

Hati-Hati, Stress Saat Hamil Bisa Berakibat Fatal


Tekhnik yang diterapkan antara lain:

1. TTM (telunjuk, tengah, manis)

Bentuklah kedua jari tangan menjadi telunjuk, tengah, manis. Lalu letakkan di area dahi dan kening untuk sakit kelapa. Dilanjutkan daerah pipi dan dagu, pijat memutar menuju belakang telinga. Enak banget, mata ngantuk jadi berbinar lagi.

2. Sakit Punggung dan Pinggang

Masih menggunakan jari TTM, usaplah pinggang bagian belakang perlahan menuju arah ke atas. Lalu lakukan pukul-pukul manja pada bagian bahu dan tangan, agar pegal berkurang.

3. Pijat Perut

Lakukan usapan I love you di perut.

I = usap pinggir perut kiri, dari atas ke bawah
Love = usap mengelilingi lingkaran perut, dari bawah terus ke atas, lalu ke bawah lagi, searah jarum jam.
You = usap pinggir perut kanan, dari bawah ke atas

Again..again..
Ulangi lagi sampai janin di perut terasa tenang.

4. Kram kaki

Beuuh, memang ya kalau sudah keram kaki, cuma bisanya teriak-teriak manggil suami meminta tolong dipijati agar kaki gak kaku mendadak.

Tapi bagaimana kalau sedang tidak ada suami atau keluarga? Tenang, solusinya adalah:
  1. ambil kain panjang, luruskan kedua kaki (bisa duduk di lantai atau kursi), 
  2. lalu kaitkan kain panjang di ujung jari kaki, dan tarik kain ke arah kita agar telapak kaki sedikit mengangkat. 
  3. Betis akan terasa sedikit ngilu, tetapi setelah dilepaskan, keram akan terasa berkurang. 
  4. Ulangi sampai keram hilang.

Kami semua ikut memperagakannya bersama. Asyik juga bisa pijat-pijat sendiri. Lumayan bisa testimoni mengurangi pusing. Nah, kalau mau lebih enak, reservasi aja ke Mom n Jo untuk daftar dan merasakan sensasi pijat hamil, pijat sehabis melahirkan dan spa di sana. Untuk bayi bisa  mencoba paket baby spa.

[Baca reviewku: Sensasi Baby Spa di Mom n Jo]

Tepat pukul 13.00 acara talkshow selesai dengan sesi foto bersama dan makan siang. Betapa senangnya kami, sudah mendapat ilmu, bertemu teman baru, makan siang seru, dan mendapat oleh-oleh lucu.

Semoga ibu-ibu sudah gak stress lagi yaa, kasian dede bayinya. Boleh diShare jika tulisanku bermanfaat.

Salam...



                                                                                                                                                                          

Tidak ada komentar

Untuk mencegah spam, yuk gunakan akun google untuk berkomentar. Jika ada pertanyaan khusus, silahkan kirim email ke: info.narasilia@gmail.com. Thank you so much ❤