NarasiLia.com

Berbagi Pengalaman dan Tips Gaya Hidup

20.2.18

Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.


www.narasilia.com - Secara kasat mata, kedekatan anak biasanya lebih banyak kepada ibunya. Ibulah yang pertama kali menjadi tempat seorang anak hidup bertumbuh kembang. Sedangkan ayah bertugas mencari nafkah. Tapi apakah tugas ayah hanya mencari nafkah?

Oh tentu tidak. Ayah juga harus membantu mendidik anak-anaknya sendiri. Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.

Jika ingin dikaji, sebenarnya seorang ayah juga harus turut andil dalam membesarkan anak-anak hingga mereka tumbuh besar. Ayah harus menjadi contoh anak laki-lakinya, bagaimana bisa adil dan bijaksana, bagaimana menghadapi masa akil baliq, mandi besar, menahan syahwat, bagaimana memperlakukan orang lain. 

Gak mungkin kan kharisma lelaki didapat dari didikan seorang ibu. 

Ibu itu sebagai pengganti saat ayah tidak ada di rumah, tetapi bukan berarti ayah mudah lepas tangan dan berkata: "halah, ada ibunya ini".

Seorang ayah menjadi panutan bagi anak perempuannya, gimana nanti hormat kepada suaminya kelak. Gimana nanti menjaga diri dari usilan lelaki. Biasanya ayah itu menjadi tempat jatuh cinta pertamanya. Anak akan menjadi hebat dan bahagia.


Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.


Jika ada waktu luang, ayah sebaiknya antusias melakukan kegiatan bersama anak-anak. Sebaliknya, jika ayah sudah sibuk bekerja, pengasuhan dapat dialihkan sepenuhnya kepada ibunya.



Manfaat Pendidikan Ayah Kepada Anaknya



Seberapa dekat anda dengan ayah?
Seberapa lama kita berinteraksi dengan anak?

Jika ingat masa kecil dulu, saya maunya bisa selalu dekat dengan ayah. Ayah yang mau jalan-jalan dan main bareng. Ayah yang mau bercerita, mau dengarkan curhat, bahkan bisa menjadi tempat untuk memperlihatkan hasil karya yang telah saya buat.

Ayah tidak suka memukul, tidak suka membentak, dan ayah tidak sibuk dengan koran, mesin ketik, atau sibuk dengan asap rokok dan burung. Beruntung saya memiliki ayah yang mau peduli dengan keseharian anak-anaknya. Beliau suka menemani saya main. Senang rasanya.

Pada saat ayah dinas keluar kota, komunikasi tetap dilakukan meskipun hanya melalui surat yang dikirim oleh pak pos. Membaca tulisan Ayah menanyakan kabar kami di rumah itu rasanya bahagia.

Dengan perhatian ayah, saya merasa tenang, belajar pun jadi semangat, penuh konsentrasi. Alhamdulillah nilai raport juga selalu baik. Sampai mencari sosok calon suami pun, aku berpatokan kepada sifat ayah yang sopan santun.

Alhamdulillah, aku mendapatkan suami yang sangat direstui ayah

Membentuk Anak Cerdas Dengan Main Bersama Ayah


Nah, jadi jangan kira tak ada manfaatnya jika berinteraksi dan bermain dengan anak.

Apa saja manfaatnya?
  • Anak akan mendapat pengalaman dan  kesan baik karena mendapat contoh dan figur penuh kasih sayang. Hal ini membentuk memory yang amat indah hingga dewasa.
  • Perkembangan kognitif dan emosi sosial anak menjadi optimal karena ada pengaruh  besar dari hubungan ayah yang peduli.
  • anak akan tumbuh lebih percaya diri, karena merasa aman dan nyaman, sehingga mudah menerima kondisi apapun dalam belajar. Susah senang ada ayah, ada ibu. Semoga menjadi lebih cerdas dalam menjalani hidupnya.


Bahkan, Allah juga menitipkan suratan dalam kitab suci Al Quran lho. Terdapat kisah-kisah tauladan seorang nabi yang menjadi ayah. Mereka antusias terhadap perkembangan anaknya.



Kisah Tauladan Para Nabi Menjadi Ayah


Beberapa surat dan ayat yang telah saya baca, membuktikan kalau peranan ayah itu juga penting dalam tumbuh kembang jiwa anak.

Seperti contoh:

a. Nasihat Luqman dan anaknya.

Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.


Namanya tercantum dalam kitab suci Al-Quran. Beliau bukan nabi, tapi sosoknya diabadikan Allah SWT untuk menjadi tauladan para ayah sepanjang masa.


Di sini tersirat bahwa seorang ayah bernama Luqman itu turun tangan dalam mendidik anaknya. Selalu memberi nasihat-nasihat yang sangat baik.

"Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika memberi pelajaran: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu kezaliman yang besar." (QS.31: 13)

Itu sepenggal ayat yang saya tulis. Selanjutnya, kita buka dan baca sendiri terjemahannya dalam Al Quran dalam surat Luqman. Inspiratif dan bagus banget.

Nah, sudahkah kita menasihati anak-anak dengan aturan yang baik?


b. Kekompakan Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail.


Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.

Kisah nabi Ibrahim, adalah contoh seorang ayah yang bijaksana dan sayang kepada anak lelakinya, Ismail.

Saat nabi Ismail akan diuji kepatuhannya untuk dikorbankan, nabi Ibrahim tidak gegabah, tidak otoriter (mentang-mentang jadi ayah, anak harus patuh, kudu nurut).

Tetapi nabi Ibrahim tetap berdiskusi dahulu dengan nabi Ismail, berbincang dengan baik, sampai akhirnya mencapai keikhlasan antara anak dan ayah.


Nabi Ibrahim tetap berdiskusi dahulu dengan nabi Ismail (komunikasi)

Berlanjut hingga nabi Ismail dewasa, ketauhidannya semakin terbentuk. Mereka berdua kompak bekerjasama membuat Ka’bah.

Ka’bah pun tersirat makna, menjadi pusat contoh kisah kasih sayang ayah dan anak yang abadi, bukan hanya menjadi tempat ritual ibadah Haji dan umroh bagi umat Islam hingga sekarang.

Luar biasa, saya semakin mengagumi hal ini. Apakah kita sudah kompak dengan anak-anak?


c. Nabi Ya’kub dan anaknya Nabi Yusuf

Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.

Nabi Yusuf bermimpi tentang sebelas bintang, matahari dan bulan yang bersujud kepadanya. Hal ini tidak dirahasiakan sendiri, tapi beliau ceritakan kepada ayahnya. Nabi Ya’kub mendengarkan dengan seksama mimpi tersebut. Bukan menyepelekan.

Hmm.. Kalau jaman kita mungkin begini ya;
Anak: "ayah, aku mimpi aneh, ada bintang, bulan, matahari sujud. Kok bisa, kenapa ya yah?"
Ayah: "halah, namanya juga mimpi, nak. Mana ada kaya gitu? Makanya kalau mau tidur jangan lupa cuci kaki, tangan, gosok gigi."
Anak: "Glegek! (nelen ludah). Males deh curhat lagi sama ayah."

Itu contoh ya, hehehe.. *kidding

Nabi Ya’kub dan nabi Yusuf sempat terpisahkan pada jarak waktu yang lama karena ulah saudara-saudara yang dengki. Menimbulkan kerinduan yang amat sangat hingga membutakan mata sang ayah. Do’a-do’a nabi Ya’kub tak pernah putus akan untuk anak kesayangannya itu.

Singkat cerita akhirnya mereka bertemu kembali, nabi Ya’kub dapat melihat kembali dan dimuliakan oleh nabi Yusuf yang telah sukses, diberi tempat yang indah.

So sweet..
Sudahkah kita bisa menjadi tempat curhat dan berdo’a untuk anak-anak?


d. Nabi Muhammad bersama kakek dan pamannya.

Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.

Bagaimana dengan anak-anak yang telah ditinggal ayahnya? apakah bisa menjadi sosok yang hebat?

Wahai orangtua, jangan cemas.

Renungilah kisah nabi Muhammad SAW. Beliau adalah anak yatim, ayahnya telah wafat sejak beliau dilahirkan. Tetapi apakah beliau kehilangan figur seorang ayah?

Tidak. Di dalam hidupnya, ada sang kakek yang gembira menyambut kelahirannya. Dan ketika beranjak besar, sang paman juga mengasuh dan mengajarinya berdagang. Sampai nabi Muhammad SAW menjadi salah satu saudagar yang jujur dan sukses.


e. Nabi Muhammad SAW bersama keempat Putrinya.


Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.

Di sini saya cantumkan contoh hubungan antara ayah dengan anak perempuannya, bukan saja keterlibatan ayah dengan para anak lelaki.

Semakin terasa adil bukan?

Rasulullah SAW, bisa kita jadikan contoh, keterlibatan ayah terhadap separuh hidup anak-anak perempuannya. Ada Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kalsum, dan Siti Fatimah Azzahra, para wanita sholihah dan mulia.

Kasih sayang yang sangat menggugah hati, apalagi ketika nabi Muhammad dengan putri bungsunya Siti Fatimah saat beliau mendekati ajalnya, perpisahan yang mengharukan. Kisah-kisahnya dapat anda cari sendiri.


* * *

Look.. so inspiring!

Sebagian kisah-kisah di atas bukan sekedar dongeng. Tetapi bukti nyata, Allah SWT kabarkan, bahwa seorang nabi dan para pembesar di jamannya, merangkap seorang ayah pun bisa meluangkan waktu untuk kebaikan anak-anaknya.

"Ah itu kan nabi. Kalau saya kan manusia biasa."

Please papa, babeh, papi, ayah, daddy...

Mungkin masih banyak anak-anak kita yang mempunyai impian:
Ayah,
Duduk bareng sama aku.
Dengerin cerita aku.
Lihat aksi kepintaran aku.
Ada telepon dan video call, maka hubungilah aku.



Jadi kesimpulannya, keterlibatan ayah penting. Antusias ayah mendidik itu sebagai pelengkap. Agar ada keseimbangan pendidikan antara gaya ayah dan ibu. Ada figur yang disegani sekaligus dikagumi.


Mengapa Ayah Juga Harus Mendidik Anaknya? Ini Alasannya.

Jangan sampai anak kita hanya  bisa mengidolakan superman, batman, ironman, ultraman.
Tetapi lebih keren jika mereka pun bisa mengidolakan ayah sebagai superpapa, ultrapapa, ironpapa, sang super hero yang siap melindungi, menemani, dan menolong mengerjakan PR.

Right? hehe.. All right, dong!




18 komentar:

  1. Semoga anak-anak lebih mengidolakan Bapaknya yaa, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.. Bapak is the best 😍

      Hapus
  2. nah suamiku tuh ditakutin anakku mba karena tatapan matanya setajam silet :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi jadi ngebayangin tajamnya

      Hapus
  3. mencerahkan dan menginspirasi, apalagi banyak kisah para nabi yang patut diteladani, semoga bisa menjadi ayah yg baik untuk tumbuh kembang anak2, thank's sharenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, terimakasih sdh berkunjung 👍

      Hapus
  4. Orangtua itu kan jamak, ada ibu dan bapak. Masing-masing punya tugas yang sama saat mendidik anak. Masing-masing akan mengajarkan hal yang berbeda dan saling melengkapi.

    Pemikiran bahwa mendidik anak itu cuma tugas ibu adalah pemikiran kolot dan akan susah membuat orang maju. Di masa sekarang ini peran ibu dan ayah sama pentingnya dalam hal mendidik anak dan sebisa mungkin harus saling melengkapi.

    Dari seorang bapak, biasanya, anak bisa belajar mengenai ketangguhan dan survival di dunia luar. Dari seorang ibu, anak bisa belajar tentang kelembutan dan fleksibilitas. Dua-duanya diperlukan untuk anak-anak supaya mereka bisa survive di masa datang.

    Iya nggak sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe setuju banget lho mas.. Iya banget

      Hapus
  5. Anak-anak saya sepertinya juga mengidolakan ayahnya. Kalau saya dibilang big boss ma mereka hahaha

    BalasHapus
  6. betul ya, pendidikan di rumah tanggung jawab bersama dan hrs sama visinya

    BalasHapus
  7. sangat sangat setuju, dari ibu, anak mendapatkan kasih sayang, kenyamanan, ketenangan. sementara dari ayah, anak mendapatkan kepercayaan diri, tanggung jawab, keberanian, dan lainya. Semoga para ayah dan calon ayah membaca ini. :)

    BalasHapus
  8. Karena memang tangungjawab mendidik itu ada dikedua belah pihak, ayah jg kudu memdidik anak jgn cuma karena kerja trus lupa waktu buat anak

    BalasHapus
  9. Harus sama2 ya, ibu & ayah

    BalasHapus
  10. Para ayah sangat penting membaca postingan ini neh...
    Sebab, sebagian ayah, masih beranggapan bahwa mendidik anak itu tugas ibunya.

    BalasHapus
  11. Anak-anakku malah kelewat dekat sama ayahnya, apalagi Falda duuh, apa-apa ayah. Emaknya ga dilirik

    BalasHapus
  12. Kalau anakku dekat banget sama ayahnya, karena pas ibunya lagi dandan pasti sama ayah diajakin main. Hihihi

    BalasHapus
  13. Kalau ditanya Mengapa ? Maka saya jawab Mbak ,agar Ibunya tidak terlalu kecapek'an karena banyak urusan yang harus diurus. istilahnya berbagi sedikit tugas.

    Lagi Pula Si Ayah punya kesempatan luas untuk memotivasi sang Anak.

    BalasHapus
  14. Bapak saya zaman old, gak dekat dengan gadget, tapi dekat dengan anak-anaknya. Biasanya bapak lebih sering manut sama anaknya, ketimbang ibue, hahaha... Kalo ibue lebih ketat peraturan mainnya, mungkin karena saking sayangnya kali ya, tapi bukan berarti bapak juga gak sayang, hanya saja cara sikapnya aja yang berbeda.

    BalasHapus

Agar tidak spam pada komentar, gunakan akun Google kamu. Atau kirim email ke: info.narasilia@gmail.com. Thank you ❤

Pengikut:

Lia Lathifa's Medium Audience Badge