Januari 27, 2013

Rejeki Silaturrahim, Rejeki Luar Biasa


Lathifa termenung. Bingung. Jari lentiknya mengetuk-ngetuk meja kerja, pikirannya buntu, kepalanya terasa pusing. Bagaimana merangkai kata-kata yang baik dan tidak menyinggung perasaan ibu untuk disampaikan nanti. Bagaimana cara menegur ibu yang sering kali memakai telepon untuk menelepon teman-teman beliau. Tagihan telepon rumah akhir-akhir ini terus membengkak. Lathifa agak kesal. Karena gajinya yang seadanya harus menanggung semua biaya kebutuhan rumah. Listrik, telepon, makan sehari-hari, iuran ini itu, belum lagi ongkos ia bekerja tiap hari. Lathifa ingin hidup hemat, setidaknya ia bisa sedikit menabung untuk keperluan hidupnya saat akan berumahtangga nanti. Kedua kakak Lathifa sudah menikah, pisah rumah, namun kehidupan mereka belumlah cukup mapan, sehingga ayah dan ibu pun tak pernah mengganggu meminta ini itu dari mereka.

Ayahnya sudah tidak bekerja, pensiunan swasta, tanpa pesangon, tanpa tunjangan hari tua. Masa tuanya dihabiskan untuk ikut pengajian dan berdakwah di berbagai masjid. Kadang dalam tempo 40 hari ayah tidak pulang. Mungkin ibu kesepian. Sesekali setelah pulang mengajar di majlis ta’lim, ibu segera duduk, memencet angka-angka pada telepon, dan menelepon siapapun yang beliau inginkan. Sore menjelang malam, setiap Lathifa pulang bekerja, sambil ditemani teh hangat, ibu akan langsung bercerita bahwa beliau telah menelepon dan berbicara dengan ibu ini, ibu itu, ibu anu, dan ibu lain-lain. Terlihat raut mukanya gembira. Begitu pun tiap malam selepas sholat Isya, sesekali telepon berdering. Dengan sigap ibu mengangkat gagang telepon, dengan suara ceria membalas setiap obrolan. Ternyata itu dari teman ibu. Pantas saja begitu senang.

Namun lama kelamaan gundah hati Lathifa saat menerima laporan bahwa tagihan telepon mencapai Rp. 150.000. Biaya yang cukup melonjak dari anggaran yang telah diperkirakan sebelumnya oleh Lathifa. Bulan-bulan lalu biasanya hanya sekitar Rp. 80.000 sampai Rp.100.000 saja. Mulutnya berdesis. Hatinya menuntut untuk memberanikan diri bicara kepada ibu. Harus. Ibu harus tahu hal ini. Menjelang isya, Lathifa baru saja tiba di rumah. Letih tubuhnya membuat dirinya semakin gundah. Segera ia masuk kamar mandi dan berbenah diri. Sayup-sayup dari dalam kamar Lathifa mendengar ibunya sedang tertawa terbahak-bahak. Dengan siapa? Kami di rumah ini tinggal berdua saja. Lathifa mengintip dibalik pintu, melihat apa yang terjadi.

Tiba-tiba matanya terbelalak. Ibu sedang menelepon. Grrrr…sudah berapa lama? Sudah menghabiskan pulsa berapa?. Padahal Lathifa cukup lama berada di dalam kamar mandi,. Dengan terburu-buru, ia segera membalut kepalanya yang masih basah dengan handuk. Mendekati ibu yang masih asyik menelepon. Lathifa duduk di samping ibu, menunggunya sampai selesai menelepon. Hatinya berdegup. Bercampur aduk. Antara kesal, lelah, dan khawatir. Ibu meliriknya, alisnya berkerut, namun mulutnya masih berkomat kamit. Suara ibu mulai terdengar aneh bagi Lathifa. Ia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada ibu.

Ibu menyadari. Dengan tenang akhirnya ibu menyelesaikan pembicaraannya di telepon. Setelah meletakkan gagang telepon, ibu bertanya mengapa Lathifa bersikap aneh?. Tanpa memberikan kesempatan lagi Lathifa segera memecahkan kekesalannya kepada ibu. Ia keluarkan seluruh keluh kesah isi hatinya. "Tagihan naik, gara-gara ibu sering menelepon. Lathifa khawatir jika sering seperti ini gaji tak cukup untuk disisihkan menabung. Ayah ibu sudah tidak bekerja. Kakak sudah punya masalahnya sendiri. Beban Lathifa terasa berat. Sungguh berat merasa menanggung perekonomian sendiri", tak lama tangis Lathifa pecah, tersedu-sedu.

Ibu diam tak berkata-kata sedikit pun. Beliau menunggu tangis Lathifa terhenti. Tertunduk dan berucap bahwa yang tadi meneleponnya adalah sahabat lamanya. Bukan Ibu. Ibu baru menemukan nomor telepon sahabatnya itu. Kebetulan tadi pagi ibu membongkar dan membersihkan lemari bukunya. Siang hari ibu sempatkan sebentar mencoba menghubungi nomor tersebut, berharap sahabatnya masih ada. Ibu mengaku, beliau tidak lama memakai telepon, karena sahabat ibu berjanji akan menelepon ibu kembali. Malam ini, sahabat ibu yang bergantian menelepon. 

Ibu sangat gembira, bahagia, namun tiba-tiba sedih jika melihat Lathifa seperti itu. Sepertinya kebahagiaan hati ibu tidak seimbang.  “Ibu kesepian, nak. Ayah masih dinas menjalankan tugas dakwahnya. Sedangkan engkau anak ibu yang masih bersama di sini, pergi pagi hari dan pulang malam hari. Selepas mengajar, tetaplah ibu sendiri. Ibu memang tidak bisa membayar tagihan itu, namun ibu yakin pasti ada jalan jika kita menyambungkan silaturrahim kepada orang yang telah lama putus, lama tidak bertemu. Allah Maha Tahu, nak. Maafkan ibu. Kudoa’akan semoga rejekimu dan rejeki kita bertambah, walau saat ini terasa sempit. Hapuslah air matamu!”

Lathifa kaget. Tidak menyangka bahwa ibu tidak menelepon malam ini. Tidak ada pulsa yang terbuang. Ibu hanya menerima telepon dari sahabatnya itu. Lathifa merasa bersalah. Belum sempat berucap kata maaf, ibu sudah menarik tangan Lathifa mengajak makan bersama. “Mari kesini! ibu sudah buatkan bakmi kesukaanmu. Ayo, ibu temani kamu makan”. Ah ibu, sungguh mulia dirimu.

Keesokan malam, seperti biasa Lathifa menemani ibu menonton televisi. Tiba-tiba ibu keluar kamar dan menyodorkan bungkusan besar kepada Lathifa. “Bukalah, nak!” Ucap ibu. Dengan heran Lathifa membukanya perlahan. Didalamnya terdapat dua setel baju gamis, dua jilbab, tas, dan sandal selop cantik. Dari mana ini, bu?

“Dari sahabat ibu. Yang kemarin malam menelepon itu. Dia sekarang menjadi istri yang hebat, suaminya juga sukses. Ibu diberi oleh-oleh darinya. Lihat itu, dan pakailah salah satu yang kamu suka. Ibu berikan untukmu. Oya, dan iniii…”. Terhenti ucapan ibu. Ada apa ya? Pikir Lathifa. Segera tangan ibu mengeluarkan amplop dari kantung gamisnya. Dan memperlihatkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Lima lembar. 

“Kau lihat, Lathifa? Allah Maha Tahu, ini buktinya. Kita nanti bisa membayar semua tagihan telepon yang memang membengkak karena ibu. Ini ibu serahkan kepadamu. Segera lunasi. Sehingga tidak ada lagi bebanmu itu. Ini mungkin tidaklah seberapa, namun sadarkah kau nak? Rejeki yang tidak disangka-sangka akan hadir jika kita bertawakal kepada Allah yang Maha Kaya dan tidak lupa menyambungkan silaturrahim. Kita akan mudah dalam melakukan apapun, selama kita ingat masih ada Allah yang pasti tidak ingkar janji. Ingatlah itu, nak!”.

Lathifa hanya diam sambil menatap tidak percaya. Wajah ibunya yang sudah tergaris raut tua namun terlihat anggun nan teduh dihadapan Lathifa. Tak terasa air mata Lathifa berlinang, menangis, dan tidak lupa mengucapkan kata syukur. Alhamdulillah, Engkau berikan kesempatan diri ini lahir dari rahim seorang ibu yang penuh ketabahan dan keelokan hati. Maafkan Lathifa, Bu.

Ya, Allah ampunilah dosaku dan ampunilah kedua orangtuaku dan sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku dari kecil hingga besar seperti ini. Amin

Foto Keluarga ibu..
Cerita ini kupersembahkan kepada anak-anakku (mengenang alm.ibu, nenek mereka)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com