Piknik Itu Penting: Naik City Tour atau ke Bogor? Nikmati Keduanya.

Liburan itu, lebih enak diisi dengan tidur, nonton seharian, atau piknik?
Bagiku, hari libur itu sebaiknya diisi dengan kegiatan keluar rumah, meluaskan pikiran dengan pemandangan dan situasi yang berbeda. Maklum, sebagai ibu dan istri, piknik itu penting. Tujuannya agar tidak mumet, lebih percaya diri, dan lebih sabar menghadapi tingkah anak-anak yang mungkin saja juga kurang piknik.
sstt, ini kurang piknik?
Piknik itu bukanlah sesuatu yang membuang waktu dan uang, tetapi mengganti suasana yang monoton menjadi lebih berwarna. Dengan menggelar tikar, makan bareng keluarga di alam bebas, mengagumi ciptaan Allah.
Allah SWT memerintahkan manusia untuk piknik lho. Gak percaya? Bagiku, hal itu tersirat dalam Surat Al-Mulk ayat 15, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan kepada-Nya kamu kembali.”
Tuh kan, diperintah menjelajah, pasti ada maksud baiknya bukan? *angguk kepala. Dengan berjalan menyusuri segala sudut penjuru, kedua mata ini akan merekam berbagai peristiwa, bisa jadi membuat jarak pandang semakin luas, agar pola pikir juga terbuka lebar dan hati pun menjadi lapang. Eh, tapi benar sih, manfaatnya anak-anak juga lebih gampang diatur, senyum selalu mengembang dari bibir mereka.
***
“Sudah jam 6 pagi nih. Jalan-jalan yuuk!”, ajakku kepada suami dan anak-anak.
“Mau kemana?”, tanya suamiku.
“Kemana saja. Pokoknya piknik. Ke Bogor boleh, kan pemandangannya bagus tuh. Ke Jakarta juga boleh, naik bis City Tour. Tidak usah ke tempat yang pakai bayar tiket masuk. Aku sudah siapkan bekal nasi goreng, voucher pizza juga masih ada. Hemat.”
“Ya..ya.. Oke lah, kita jalan-jalan. Ayo Shidqi, Selma, mau ikut ayah bunda gak?”.
Horee, permohonanku terkabul.

Piknik Naik Bis Tingkat (City Tour).
Jangan membayangkan pergi ke Jakarta memerlukan biaya besar. Ada cara hemat yang kami lakukan untuk piknik dan membahagiakan anak-anak. Gara-garanya, Shidqi itu pernah punya impian naik bis tingkat. Ternyata terwujud. Di Jakarta sudah tersedia bus tingkat City Tour. “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, mimpi Shidqi terwujud,” begitu gumamnya. Aih, makin sholeh ya nak!
Untuk menuju ke sana, bisa menggunakan kereta Commuterline (jurusan Bogor-Jakarta Kota). Naik dari stasiun Bojong Gede, dekat rumah kami, cukup mengeluarkan biaya tiket Rp. 4000/orang untuk sampai di stasiun Juanda, demikian sebaliknya.
Lihat apa bun?
Kemudian dilanjutkan naik ke jembatan penyeberangan menuju halte dekat gerbang pintu samping Masjid Istiqlal. Kita bisa menunggu bis tingkat di sana. Biayanya, gratis!
dok.pribadi
Sensasi merasakan goyangan bis yang lembut, duduk di kursi di bagian atas dan paling depan membuat anak-anak betah. Rasanya seperti kita yang menyetir bis sendiri. Kami sengaja tak mau turun, pernah sampai tiga kali putaran. Itu kalau penumpangnya sepi sih, kalau ramai dan antri, yaa cukup dua kali putaran saja, ehehe.
Bis berkeliling di lokasi yang sama, berhenti pada tiap-tiap halte khusus. Kita akan disuguhkan berbagai pemandangan seperti Balai Kota, Monas, gedung Sarinah, air mancur di Bundaran HI, patung gajah sebagai maskot Museum Nasional, bangunan tua dekat jalan Juanda, Gerbang Passer Baroe, Gedung Kesenian, Lapangan Banteng, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Piknik penuh edukasi.
dok.pribadi
Ketika masuk jam sholat, kami berhenti di halte Istiqlal. Menuju masjid Istiqlal yang besar dan megah. Kedua anakku kagum melihat luas bangunannya. Karpet yang tebal dan halus membuat sujud terasa semakin syahdu. Rasanya kecil di hadapan-Nya.
dok. Pribadi
Semakin malam, kerlap kerlip lampu di Monas pun semakin nampak menarik dilihat, betul-betul memberikan kesan cantik. Kami terus memandang sambil menghabiskan bekal nasi. “Lihat ayah, Monasnya kelihatan kecil”, seru Shidqi.


Narsis deh, dipotret dengan gaya dan posisi yang unik. Jika tak diingatkan pulang, rasanya ingin berlama-lama di sana. Kembalilah kami menuju stasiun Juanda dan menikmati suasana di dalam kereta. Tidur nyenyak di rumah.
Ayo Ke Bogor!
Minggu itu, mendadak ayah mengajak kami pergi. “Yuk, ikut naik motor ke Bogor sana. Keliling lihat kawasan jalur sepeda yang suka ayah lewati. Bagus deh, kita naik bukit dan kaki gunung. Mumpung masih pagi nih”. Sontak mataku dan anak-anak menjadi segar. Segera mandi dan sarapan. Tak lupa membawa bekal air dan nasi.
di kaki Gunung Geulis, Bogor
Berhimpitan tubuh kami di atas motor, tetapi tetap nyaman dan hangat. Angin dingin Bogor masih menyeruak tubuh. Menyusuri jalan, terkadang melipir melewati jalur sempit. Hanya ayah yang mengerti. Tahu-tahu kami sudah sampai di Bendungan Katulampa, yang dibangun oleh Belanda tahun 1889. Ya Allah, bagus sekali.
Ayah memberi kejutan yang berkesan bagiku dan anak-anak. Lihatlah indahnya air dengan volume besar terjun ke bawah menuju sungai Ciliwung. Selama ini lihatnya hanya di televisi saat laporan waspada banjir di Jakarta. (Eh, kalau sekarang airnya kering gak ya?)



Saat itu kami memandang deras arus air tanpa jemu. Menyesal tak bawa baju ganti untuk Shidqi dan Selma. Mereka tak tahan ingin merendam badan di pinggir sungai itu, tempat penduduk biasa mencuci piring dan baju. 
Shidqi dan Selma hanya bisa bermain air sebatas lutut mungil mereka saja. Padahal di sana ada penyewaan ban untuk merasakan sensasi arus airnya lho. Pokoknya suatu hari harus balik lagi ke sini.

Sejak itu, kami ketagihan keliling di sebagian wilayah Bogor. Masih banyak wilayah yang belum kami sambangi. Mencari lokasi yang seru, indah dan gratis tentunya.
Anda juga bisa, luangkan waktu menjelajah lebih lama. Saatnya menikmati liburan di Bogor dan menginap di Padjajaran Suite Hotel, Bogor. Temanku, mbak Arin dan keluarganya pernah menginap di sana. Infonya, dari jendela kamar kita juga bisa menikmati keindahan gunung Salak. Aahh, semoga suatu hari kami juga bisa menikmati fasilitas hotel itu, biar semakin puas pikniknya.
Hayuk atuh bu, pak, kita piknik. Biasanya kemana nih? ^_^
Danau LIPI
di tepi Setu Cikaret

Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog Piknik Itu Penting"


Follow Me by Email