Cara Kirim Pulsa Ke Sesama IM3

Sebagai ibu yang sibuk kerja online, kehabisan pulsa sms itu juga salah satu penyebab bete. Memang sih zaman gagdet canggih ada aplikasi whatsapp, line, bbm. Gak butuh sms. Tapi bagaimana juga masih banyak para pengguna sms di luar sana, contohnya bibiku yang masih menggunakan hp jadul, katanya malah enakan seperti itu.

Well, kali ini saya kehabisan pulsa sms, udah panjang ngetik taunya ditolak, haha.. 

Solusinya:
1. Beli ke warung pulsa, tapi negatifnya malas jalan.

2. Beli via internet banking, negatifnya lagi malas pegang key token bankmandiri.co.id (tambah bete kalau tau saldo kosong, weleh!), atau jaringan lemot, atau malah gak ada pulsa internet, wkwk

3. Nah ini nih solusi lumayan enak, minta pulsa sama ayah. Untungnya sesama IM3.

Minta via bbm: ayah, bunda minta pulsa ya, segera, makasih lho (macam sms palsu ya, untung saja tidak lagi di kantor polisi).
Bersyukurnya ayah lagi banyak pulsa, kalau sama-sama lagi miskin pulsa, yaa baiklaah, kembali ke solusi di atas *wuehehe


Cara transfer pulsa ke sesama IM3:
1. Ketik: Transferpulsa (spasi) no. handphone yg dituju (spasi) nominal pulsa

2. Kirim ke 151

3. Tunggu jawaban untuk mendapat kode token

4. Lalu ketik kembali: OK (spasi) kode token

5. Tunggu beberapa detik balasan bahwa pulsa sudah berhasil dikirim. Oiya, sistem ini akan memotong pulsa pengirim sebesar Rp. 600,- ya


6. Asyiiik, pulsa saya akhirnya masuk, terimakasih ayah *mmuaah..



Sekarang tinggal nikmati pulsa hemat kita. Apalagi setelah mengaktifkan kirim sms sebanyak 3 kali, dapatkan lagi 250 sms gratis. Makin getol deh beramah tamah dengan customer :-)

Begitulah alasan saya masih setia menggunakan kartu ini. Anda mau coba?

Masak Ayam Kecap Dengan Rice Cooker.

Sudah beli ayam, bumbu ada, eh ternyata gas habis. Betenya tuh di sini.. *unjuk perut.
Secepat kilat ambil tabung kosong, beli isi ulang di warung langganan, eh ternyata stok kosong.. *bibir mulai manyun
Keliling komplek gas belum ketemu juga.
Pikiran melayang kemana-mana. Meskipun sudah disimpan dalam freezer, tapi tetap saja kepikiran lapar, mau beli lauk matang, duh sayang ah uangnya.. *bumil lapar :)

Mendadak kepikiran masak saja menggunakan bantuan rice cooker alias magicom. Yaa meskipun agak boros listrik, apalah daya, tak ada rotan akar pun jadi, gak ada gas listrik pun jadi.

Sebelumnya persiapkan bahan (ini selera saya): 
- 1 kg ayam yang sudah dibersihkan dan dipotong sesuai selera.
- 1 gelas air
- 6 sdm kecap manis
- 75 gr gula jawa
- 2 lembar daun sereh
- 2 jari lengkuas, geprek
- 2 sdm minyak goreng
- Daun salam, daun jeruk secukupnya

Bumbu Semur yang dihaluskan adalah:
- 8 siung Bawang Putih
- 4 buah kemiri
- 4 siung bawang merah
- 1/2 jari jahe
- 1/2 sdt ketumbar
- 1/2 sdt lada bubuk
- Garam secukupnya

Cara memasak:
1. Saya mulai mempersiapkan wadah dan mencolok kabel listrik rice cooker.  
2. Tunggu beberapa saat sampai wadah bagian dalam agak panas.
3. Beri sedikit minyak goreng, tumis dan aduk bumbu halus hingga wangi
4. Beri air, lalu masukkan satu persatu potongan ayam.

5. Masukan garam, kecap, gula jawa, lengkuas, daun salam, daun jeruk, dan daun sereh.
6. Aduk sebentar, pastikan air mulai mendidih. Tutup rice cooker. 
7. Tunggu sampai 35 menit. Jika masih ada airnya, tunggu sampai mulai mecek-mecek. Matikan rice cooker, cabut kabel listrikya
8. Lebih enaknya sih kalau sudah dapat gas, yaa teruskan saja di wajan, hehe..
9. Pindahkan ke piring besar. 
10. Cuci wadahnya, dan selanjutnya masak nasi ya, biar klop :D


Selamat mencoba. Lumayan buat persiapan sahur. 

Semoga tidak mati lampu, hehehe..


Dukung Suami Menjadi Ayah Luar Biasa, Bisa!


Dahulu, banyak nasihat yang mengatakan berumah tangga itu indah hanya beberapa bulan pertama saja. Apalagi jika si kecil lahir, ohoo, bersiaplah. Anda akan menemui hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. Kurang kompak dan minim komunikasi antar pasangan akan menyebabkan banyak konflik terjadi dari hal-hal sepele, hmm..

Sepertinya sih benar. Aku pun merasakannya. Apalagi saat kelahiran anak pertama. Agak sulit meminta tolong kepada suami dalam mengurus bayi baru lahir. Hampir pada kenyataannya memang mereka kurang terbiasa. Atau beberapa alasan karena sibuk di kantor, merasa mengasuh anak adalah tugas ibu. 

Minta tolong sama mertua atau orangtua atau sanak saudara? Wah memang asyik tuh, tapi yakin selamanya anda akan begitu?

Peran Ayah Dalam Keluarga
Bagi anda yang tidak dapat bala bantuan dari baby sitter, ibu mertua atau mama kita sendiri, nih saya punya solusinya. Jadikan pasangan kita alias suami menjadi tim yang solid dan kompak. Ternyata penting banget. 


Menurut Ibu Elly Risman, M.Psi psikolog dan penasihat pendidikan yang terkenal itu mengatakan dalam sebuah seminar bahwa Indonesia hampir menjadi negara kehilangan ayah. Peran ayah mendidik anak sudah nyaris dilupakan. Akibatnya banyak kasus yang menyimpang seperti tawuran anak sekolah, sex bebas, narkoba, pencurian bahkan kejahatan yang dilakukan oleh para anak-anak dan remaja. Mereka kehilangan figur ayah. Ayah, kami butuh kalian!

Ih seram banget ya. Yuk ah, kita mulai saja dari keluarga sendiri. Tentunya dukung suami menjadi ayah yang luar biasa. Peran aktif ayah dalam merawat dan mendidik anak sejak awal harus dimulai dari sekarang.

Sulit? Awalnya saja, memang perlu diskusi dan planning. Jangan kaget kalau tidak bisa sepenuhnya terjalani, kenapa? yaa namanya juga dua kepala, isi pendapatnya kadang berbeda, ya kan?
Tapi tenang saja, ada beberapa tips yang saya lakukan dalam menghadapi beberapa kendala-kendala kecil tersebut,  yakin deh, mereka pasti bisa.

antara lain:

- Jangan Menuntut Pasangan-
Beruntunglah anda jika memiliki suami yang siap siaga menyambut sang buah hati. Siap membantu anda kapan saja setelah melahirkan. Apalagi menurut Ibu Anne Gracia, praktisi Neurosains Terapan, peran ayah yang memandikan buah hati dari awal kelahiran dapat membantu dan merangsang IQ bayi menjadi lebih cerdas secara emosional, dapat mengurangi masalah dalam perkembangan sang anak, serta lebih percaya diri. Lengkapnya bisa anda baca Ayah, Mandikan Bayi Yuk.

Stt, tapi dengan teori tersebut, bukan berarti kita harus menuntut suami agar langsung bisa melakukan demikian ya, pelan-pelan saja, perlu adanya komunikasi yang baik. Kembali kepada tips diatas, jangan menuntut orang lain.
Suamiku bukan tipe yang siap memandikan bayi baru lahir. Ngeri katanya, takut leher anak kami kecenglak. Jika anda memiliki kondisi seperti saya diatas, tak perlu berkecil hati. Ternyata dengan sabar, doa, serta tutur kata yag baik dari kita, Alhamdulillah tidak menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan. Mereka masih memiliki gumpalan hati yang bersifat lembut dan penyayang, perlahan bisa berubah dan tetap menjadi pribadi yag didambakan oleh keluarga.
Shidqi usia 8 bulan, takut laut boo..
Suamiku sekarang menjadi idola anak-anak. Dibalik kekakuannya mengurus bayi, diam-diam dia mulai memberanikan diri mengasuh anak-anak dengan caranya sendiri.

Jangan kira saya selalu meminta tolong atau menyuruhnya. Tidak, saya tidak banyak menuntut. Sabar dan terus saja perlihatkan bagaimana kita mengurus bayi dengan baik.
Nyiram tanaman sambil main air
Benar saja, lihatlah perubahannya. Foto-foto di sini adalah gambaran bagaimana kesiapan mental sang ayah terbentuk perlahan-lahan namun pasti. Kita sang istri harus terus mendukung kondisi jiwa suami tersebut.
ceritanya belajar Iqro :)
-Puji dan Dukung Suami Anda-
Teringat saat seminar waktu itu, bersama Dian Sastro, Brand Ambassador Zwitsal, yang mengatakan suaminya tidak bisa memandikan anak-anak mereka. Namun Dian memiliki trik khusus, meliburkan semua babysitter, lalu mencoba sendiri mengurus kedua anaknya. Karena tak tega melihat istrinya begitu, akhirnya suaminya berinisiatif untuk memandikan dan bermain bersama kedua buah hati mereka. Dian seperti diberi hadiah terindah, dan tak lupa memuji serta mendorong semangat bahwa suaminya adalah ayah yang pintar mengurus anak-anak.
andai ada bocengan di ban depan, bunda ikut dong!
Demikian juga saya, tidak cerewet terhadap suami. Sebisanya saya kerjakan sendiri dahulu. Di saat dia dalam keadaan waktu senggang, saya meminta dengan perkataan yang baik untuk mengasuh Shidqi maupun Selma. 

Tetap memberikan petunjuk yang jelas namun tidak menggurui, gunakan intonasi suara yang lembut deh, niscaya suami pun akan luluh dan mendadak terlihat semakin ganteng, ihihi… *ada maunya. 

Kalau sudah begitu, jangan lupa, pujilah dirinya asal tidak berlebihan. Layanilah, buatkanlah makanan atau minuman favoritnya, dan berilah kejutan kecil.
Selma 2 tahun

Sejak kelahiran Selma pun, suamiku secara mengejutkan tak sungkan-sungkan lagi membantu saya mengurus si kecil. Mulai menggendong, memangku, bahkan memandikannya. Tentunya dengan sarana alat mandi seperti Zwitsal yang menjadi celah kedekatan mereka. 

Sejak batita, Shidqi Selma suka banget mandi sambil main busa sabun. Ayah mereka mengambil alih mengasuh sambil ikut main busa sabun dan memandikan mereka. Yaa tentu saja pakai Zwitsal yang aman dan gak pedih di mata, apalagi sekarang Zwitsal kembali ke formula klasik yang tentu sangat lembut dan cocok untuk kulit sensitif karena mengandung ektrak Camomile untuk sabun cairnya dan Canola Oil di dalam shampo untuk mencegah kekeringan kulit kepala. Makin asyik dan bebas mereka bermain busa, hee..


Suamiku gak pernah sungkan mandiin dan membantu Selma saat kesulitan keramas rambutnya yang mulai panjang, lanjut sekalian mandi, badannya digosok ayah, meskipun ia anak perempuan. 

Ada lho yang curhat, suaminya gak pernah membantu memandikan anak perempuannya, karena tabu, atas dasar larangan keluarga besarnya turun temurun, alasannya kurang pasti, takut nanti kenapa-kenapa.
Duh kasian dong, bundanya semua yang urus anak-anak, kalau aku? gak sanggup sendiriaan. Maklum tak punya asisten maupun orangtua yang membantu sejak awal menikah. Yah, sudahlah, cara orang berbeda-beda kan? ambil baiknya saja.

Sehabis dari toko buku

Selma: numpang naik kuda ya yah
-Sabar Dengan Prosesnya-
Sabar bukan berarti nrimo. Saya maksudkan adalah terus lakukan apa pun yang bisa kita kerjakan dengan baik dan benar dalam mengurus anak anda sendiri. Perkaya diri anda dan suami anda dengan ilmu-ilmu baru dalam mengurus kehidupan keluarga. Perhatikan sekeliling kita untuk dijadikan pelajaran. Teruslah berdoa seperti nabi Ibrahim yang selalu meminta kepada Allah untuk kebaikan keluarganya. Perbanyaklah ibadah dan kebaikan sosial.
Anak-anak lebih suka berjalan dengan ayah
 Saya sering memulai diskusi dengan suami, tentunya sehabis dia mandi, makan dan sedang bersantai. Awalnya sih memberikan semacam kasus cerita tentang anak tetangga yang begini begitu. Eh malah menjadi sebuah solusi bagi kami berdua untuk diterapkan kepada Shidqi dan Selma. Akhirnya menjadi kesepakatan berdua dalam mengurus anak-anak.
Slowly but sure!

-Biasa Menjadi Luar Biasa-
Kedua anak kami kini menjelma menjadi anak-anak yang baik dan menjadi penyejuk hati. Shidqi (9 tahun) sudah kelas 4 dan Selma (5 tahun) masuk TK B. Mereka tumbuh semakin percaya diri. 
Tebak mana Shidqi? :)
Terutama Shidqi, semakin besar dia memiliki pribadi yang disukai teman-temannya dan para guru, Alhamdulillah meskipun nilai rata-rata raportnya 89-90 dan bukan juara kelas, namun dia selalu terpilih untuk menjadi perwakilan kelasnya mengikuti aneka kegiatan sekolah. Demikian Selma, menjadi gadis kecil yang sudah mampu bermain sepeda roda dua pada usia 4 tahun tanpa diajari, apapun dia lebih senang belajar sendiri.

Kami selalu berempat (insyallah beberapa bulan lagi berlima). Kemana saja, dimana saja, saya dan suami pergi, anak-anak pasti harus ikut, berdempet-dempetan dalam satu motor tua.

Terkadang ingin sekali menikmati masa-masa berdua, namun yang terjadi malah ikatan emosi suami lebih kuat daripada saya, dia selalu teringat anak-anak. Demikian sebaliknya, tak jarang Shidqi dan Selma selalu saja menanyakan kapan ayah pulang dari kantor.

Pernah suatu kali, saya memiliki dua tiket Kidzania gratis, hadiah lomba dari kampanye produk susu. Dimusyawarahkan akhirnya Shidqi-lah yang mendapat kesempatan menikmatinya. Dan siapakah yang dipilihnya untuk menemani bermain di dalam sana? Ternyata Shidqi memilih ayah. Jreeeng.. sempat iri, kok lebih memilih ayah ya? *kan bunda yang menang lombanya, wuehehe…

Saat duduk berdua dengan Shidqi saya bertanya, “kenapa memilih ayah, nak?”
“Ayah lebih perhatian dan asyik diajak main nanti. Shidqi mau coba permainan pilot, Shidqi mau ngasih tahu ayah di sana. Sayang ya, di sana gak ada profesi masinis,” jawabnya tenang sambil memainkan kereta kesayangan.
“Memangnya bunda tidak perhatian?”, tanyaku penasaran.
“Perhatian sih, tapi bunda sering sibuk sama dagangan, Shidqi gak mau ganggu.”
Nah lho.. 

Ah saya yakin bukan itu jawaban pastinya. Saya merasa memang suamiku itu semakin menjadi sosok yang nyaman dan jarang marah. Makanya dipilih. Hiks.. *masih ngiri.
tuh kan, sama ayah lage :p

Saya memang mengakui, pantaslah Shidqi memilih ayahnya. Saya saja sekarang sering bersandar di bahu suami, karena merasa nyaman. Sudah tak malu begitu di depan anak-anak. Tak perlu tabu memperlihatkan kegiatan itu, tinggal bilang saja: “di dalam rumah ini kita adalah keluarga, saling menyayangi, saling membantu. Boleh bersentuhan, boleh berdekatan. Tetapi tidak dengan orang lain.” Sepertinya mereka mengingat prinsip itu.
***
Kini saya yakin, dengan adanya komunikasi serta sentuhan yang lembut dan sabar, insyaallah semua akan terasa luar biasa. Suami luar biasa, keluarga luar biasa, dan anda pun luar biasa. Serahkan semua kepada ilahi. Inilah anugrah Allah SWT. Semoga terus baik hingga akhir nanti, aamiin.


*Tulisan ini terinspirasi dari Kampanye Zwitsal: Suamiku, Ayah Luar Biasa”.

Follow Me by Email