be a good life and happy family

Jalani Hidupmu, Kawan.

Status di fesbuk:
tiba-tiba jd kangen sama anak-anak imut spesial yg sesekali masuk ke ruangan berkaca itu, bergerombol saling berebut menanti giliran, menenteng buku nilai dan Qiroati, kemudian duduk manis bersila di hadapan diri ini. Bagaimana kabar kalian nak yg cantik dan ganteng? Sandjaya D AlwiansyahElmodio MaldiniFariz Abirafdi,Fajar Putra NugrahaOlin SetyoraniErvinda RahmaAnnisaa KaruniaUlfah Deizi,Hilma Idzni NadhilahAida Salsabila, @Paramitha (gak semuanya bisa dipanggil, mulai lupa hehe).. Semoga kalian dan semuanya menjadi anak yg sukses ya..

****

Itulah yang terjadi saat itu, spontan. Memang tiba-tiba saja saya sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa berkumpul dengan mereka, yang intinya memang belajar dan mengajarkan Qiroati (panjang pendek, ikhfa, idgham, dll), tapi kebanyakan malah ngobrol dengan mereka. Kangen, apalagi saat kuintip-intip foto-foto mereka melalui fesbuk.. hihi lucu-lucu, kalau dihitung-hitung pertumbuhan mereka 12 tahun sudah, wow. Memang sih tidak semua anak muridku di mention, alhasil tidak diduga ada seorang anak yang tidak disebut namanya seperti protes, bukan maksud pilih kasih, tapi.... dan selanjutnya menjadi ajang obrolan sebagai pelepas rindu :

Alvin Yudistyo Hmmm itu doank nii bun yg di inget..
Hahaha
Apa kabar bun ?

Sandjaya D Alwiansyah assalamu'alaikum bu lia..,,^_^
ntr kapan2 ajarin qiro'ati lagi yaahh..

Olin Setyorani aamiin,smg ibu dan keluarga jg semakin sukses dan sehat selalu. alhamdulillah baik bu

ida Salsabila Amiin, sukses selalu juga buat ibuuu._.

Ulfah Deizi alhamdulillah baik bu.. jadi lucu kalo di inget masa-masa sd 

Jujur, saat itu memang ada rasa bahagia, rasa rindu, rasa pesona, aiih..saya punya banyak anak. Yang sekarang (6thn berlalu) sudah menjadi para remaja-remaji yang wajah imutnya berubah menjadi ganteng dan cantik, menghadapi masa depannya masing-masing.

Lalu hubungannya apa? hmm..begini, yang saya ingin jelaskan di sini adalah, saya adalah lulusan gizi yang saat itu 'terpaksa' menuruti perintah ibu. "Sambil nunggu lowongan kerja yaa gak salah kan ikut ngajar Qiroati dulu." begitu anjuran beliau. Ada sih rasa enggan, wong udah lama menanti-menanti kerja di RS atau institusi kesehatan, eh kok malah disuruh ngajar. Tapi yaa apa salahnya dicoba anjuran ibu. Walah, singkat cerita akhirnya memang terjeblos hingga nyaris 6 tahun di dunia mengajar di sebuah yayasan pendidikan. Sama sekali lupa mau kerja di tempat lain, hingga akhirnya saya memang resign dari sana dengan alasan ikut suami (kebetulan baru nikah 2bln, hihi).

Awalnya mengajar TPA (taman pendidikan alqur'an) bukan TPA yang lain (tempat penitipan anak, hehe) utk usia TK, tidak lama berselang ternyata diangkat menjadi administrasi umum di yayasan itu. Kemudian, tahun demi tahun, diangkat menjadi administrasi khusus SDIT (sekolah dasar islam terpadu), lama-lama khusus nemenin kepala sekolah, lama-lama jadi penerima tamu (khususnya orangtua siswa baru), lama-lama khusus mengajar Qiroati tingkat atas (jilid 6-Ghorib), lama-lama suka bantuin ekskul Pramuka, lama-lama suka jadi pawang anak-anak yg kabur karena takut disuntik imunisasi. Apa aja dikerjain dan semuaaa akhirnya menjadi nostalgia.

Dan lama-lama (halah) jadi merenung.. lulusan gizi yang harusnya ketemu para pasien (sakit atau ingin diet), eh jadinya malah ketemu pasien tipe lain (pasien butuh diajarin).. Melenceng kalo orang-orang bilang mah, "ngapain kuliah gizi, kok malah kerjanya di sekolahan?". Kuping panas, hati dongkol. Tapi ah jalani aja, tetap bersyukur, toh jadi punya sedikit ilmu tentang dunia anak dan cara mengendalikan mereka. Terbantu juga ternyata lho saat kini, saat mempunyai dua anak sekarang ini. Kalau saat itu saya menentang keinginan ibu, mungkin lain lagi ceritanya ya.

Kalau menengok masa lalu hingga sekarang. Rasanya tak mungkin, tapi yang terjadi adalah MUNGKIN dan TERJADI. Pastinya ini atas izin Allah SWT, setidaknya saya sudah memberikan kelegaan hati ibu saya (kini sudah wafat) yang mau menjadi pengajar, walau mungkin saat itu beliau gak tahu kelanjutan masa depanku seperti apa. Kini, semua kembali kubangun asa yang lain, yang lebih matang, yang lebih sensasional. Menjalani saja langkah hidup kita sebaik-baiknya, pada akhirnya akan ada madu manis yang terasa walau saat itu mungkin terasa pahit saat menjalaninya.

So kawan, selamat meniti jalanmu! :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com

Author

Foto saya

Supermom, blogger, publisher, pengelola onlineshop, lulusan bidang nutrisi, mencintai kehidupan sederhana dan harmonis, suka naik kereta, makan rujak, dan penikmat musik klasik. Contact Person: bunda.shidqi@gmail.com

Follow This Blog