Jangan Sepelekan Mata Kita

Kesehatan mata merupakan kepentingan yang harus diperhatikan. Setidaknya dibutuhkan waktu 6-8jam istirahat adalah tujuan agar si bola mata relaks. Akibat mata terlalu lelah, maka daya manfaatnya berkurang, bisa jadi anda malah memakai kacamata, tegang, pusing,   dan bahkan dapat menyebabkan leher belakang terasa sakit. Ini yang saya alami.

Suatu hari nekat ke dokter mata gara-gara hanya soal kacamata yang tak pernah nyaman (ini saking sudah putus asa dgn optik biasa). Kok nekat? lha iya wong cuma baca a-i-u-e-o aja bayarnya Rp.100,000 (glek, beli nasi rendang dapat 10bks, xixi), kalau di optik kan gratis, tapi tetap beli kacamata (sama ajee).. ---> intinya saya lagi cekak :P


Alhasil dokter bilang, 
"matamu hanya perlu istirahat yang cukup dan minum suplemen khusus mata. Minus kacamatanya justru saya kurangi ya, dari 0.75 cukup 0.5 saja. Matamu gak terlalu bermasalah. Kerjaannya apa sih?"
"Online dok, ngetik di komputer." (gak bilang jualan onlen, hehe)
"Ooh, kalau gitu nanti saya kasih obat tetes mata. Yg harian ditetes 6x sehari, dan yang satu khusus ditetes saat MAU TIDUR MALAM saja.
Masih bengong
"Obat tetes itu memaksa matamu untuk istirahat, jangan kaget rasanya perih. Kalau masih mau begadang, jangan ditetes-tetes. Ingat, saat mau tidur malam saja!"
"Oooh...

Setelah saya tebus ternyata botol kecil berisi Hialid 0.1 seharga 60rb-an, ini rasanya memberikan efek mata menjadi segar, dipakai 6x sehari. Dan yang satu Mydriatil Tropicamide 1%, botol kecil juga seharga 80rb-an. Benar saja, setelah dicoba. Weeew, beneran ngajak kita tidur. Periih, pengennya merem aja, lama-lama yaa ketiduran. Rasanya mirip seperti kita mengupas bawah merah, tapi ini lebih lebih perih lagi. Cocok nih buat anda yang sulit tidur, hehe.. dan satu lagi yang saya minum adalah vitamin khusus mata.

Yuk ah, jangan sepelekan mata kita lagi. Terkadang kita lupa terhadap dengan dia, si mata, bagian tubuh kecil yang sebenarnya harus dirawat sebaik mungkin.. ^_^

Merubah Sendal Butut Jadi Cantik (1)

Ceritanya ini adalah sendal minimalis rasa maximalis, hehe.. Maklum deh agak kurang hobi beli sepatu apalagi sendal. Hidupku cenderung hemat, simple dan gak peduli fashion. Jadi kemana-mana selalu menggunakan sepatu sendal yang lebih cocoknya di pengunungan, alias sendal gunung. 

 

Tapi suatu kali aku membutuhkan sepatu sendal untuk pergi ke salah satu walimah. Tak ada persiapan untuk pergi beli, akhirnya tak kehilangan akal. Ide muncul saat kepepet. Malam itu kubongkar sendal lamaku yang sudah usang. Tapi kondisi sol-nya masih layak digunakan. 


 

 Oke, sendal butut udah dapat. Apalagi? ahaa, siapkan:

- Pita bekas, kebetulan pitanya berwarna silver dan blink-blink cantik, dan ikatannya kuat. Pita keren dari hadiah doorprize, hehe.. (kisahnya baca disini). 

- Gunting

- Spidol untuk menandai, 

- Dan lem tembak. 

Siap semua. Kita mulai eksekusi, dirubah jadi cantik yuk!

 

Cara memproses:

1. Gunting pita menjadi empat bagian. Untuk bagian dekat jari (ini kugunting lebih pendek) dan untuk bagian punggung kaki (ini kugunting lebih panjang). Untuk ukuran pastinya aku hanya menggunakan feeling

 

 

 

2. Mulailah pasang dan masukkan ujung pita untuk bagian depan, kedalam sisi dalam alas sol, jangan lupa ditandai dengan spidol sebelum nanti di lem.

 

 

 

3. Lekatkan kedua sisinya menggunakan lem. Untuk sementara aku gunakan ini, nanti tinggal minta bantuan tukang sol untuk menguatkan dengan jahitan benang sol.

 

 

4. Pasang dan masukkan ujung pita untuk bagian belakang, kedalam sisi dalam alas sol, jangan lupa ditandai dengan spidol sebelum nanti di lem.

 


 

5. Nah, sebelah kanan sudah selesai, tinggal lanjutkan untuk kaki sebelah kiri. Caranya pun sama seperti di atas.

 


 

 6. Iseng pengen memberikan kesan pemanis, kasih pita kaya gini oke juga kan?

 


 

7. Sip kan? Gimana, sudah kebayang kan? Yuuk lanjutkan untuk sendal sebelah kiri. 



Hasil akhirnya aku lupa memfotonya.. Tapi akan ada kejutan manis lainnya. Aku bikin model lain. Pokoknya lebih cantiik deh :)


 *** BERSAMBUNG ***

Alasan Memilih Sepatu


Jika dihadapkan untuk memilih sepatu atau sandal, yang paling kucari dan terpilih adalah alas kaki yang bersol lebar pada bagian depan. Aku sadar, ujung jari kakiku tidak cantik meruncing lentik bak peragawati. Jari-jari kakiku justru melebar, kalau orang sunda bilang mah “jebrag”. Rasanya kebutuhanku tidak selalu terpenuhi oleh produsen sepatu atau sandal wanita manapun, karena hampir semua rata-rata sepatu atau sandal itu dibuat sempit meruncing pada bagian ujungnya, agar terlihat anggun nan elok. Tahukah kamu? Akhirnya pilihanku selalu pada sandal gunung yang cocok sebagai alas kaki para lelaki. Aku tidak lagi peduli jika dinilai maupun terkesan tomboy (padahal jiwaku feminine lho), yang penting enak dipakai, daripada tersiksa dengan sepatu atau sandal yang tidak pas di kaki. Padahal sih aku ingin tetap kelihatan keren dan anggun di setiap penampilan. Tapi mau bagaimana?

Pernah suatu kali aku harus tetap berpenampilan modis ala wanita masa kini. Aku coba memakai sepatu hak tinggi (high heel), itu tuh sepatu yang hak-nya tinggi runcing, maksudnya biar nyamain suami yang tingginya sekitar 183cm, sedangkan aku menambah tinggi 10cm lagi untuk mengimbanginya, kan biar serasi  dan kelihatan sexy :D.. Ah ternyata hanya bertahan beberapa minggu karena menyebabkan otot di dekat lututku menegang, sering kram. 

Kuganti lagi dengan membeli wedges. Maksudnya biar tetap tinggi dan gak ngeri kecengklak, karena permukaan karet solnya cukup lebar sehingga dapat menopang tubuh semakin seimbang. Kutemukan kenyamanan dalam melangkah, tetapi tetap saja membuat kulit jari kelingkingku kejepit. Dan ternyata membuat lapisan sol-nya jadi merekah di bagian depan. Sayang, gagal deh tampil cantik tinggi semampai.  

Tapi tak putus asa, akhirnya aku bongkar wedges itu dan  me-make over menjadi terkesan baru agar menjadi lebih pas di kakiku sendiri, terutama untuk memuat jari-jari kaki. Lihatlah.. Ini dia, bagus kan? 
lagi coba-coba ini itu mana yang keren
Ngepasin kaki kanan dan kiri

telapak kaki muat di alas kaki sesuai bentuknya

Tidak sampai di situ. Pernah membeli alas kaki model flat shoes yang ada di toko-toko mall itu. Sumpah, malah membuat menyesal berkali-kali. Bukan hanya kelingking tetapi kulit pada tumit kaki pun ikut merekah alias lecet sampai seminggu. Padahal sudah pakai kaos kaki, tetap saja nyeri. Sudahlah, mungkin kebutuhanku tetap kepada sepatu atau sandal yang lebar dan mempunyai tali yang mencengkram pergelangan kaki. Membuat mantap melangkah bahkan berlari, bukannya pincang tertatih-tatih menahan sakit. Shhh…mendingan pakai sandal jepit kan? Atau kembali pakai sandal gunung.

Follow Me by Email