April 05, 2013

Mencoba Panjat Dinding

Panjat dinding adalah olahraga yang sepertinya kurang terekspos oleh media, masyarakat termasuk saya tidak terlalu mengetahui hal tersebut (apa karena saya aja kali yaa yang kuper, hehe). Bagaimana tidak, awalnya saya melihat hal itu hanyalah permainan biasa, permainan para remaja muda untuk terlihat keren. Bukan sesuatu yang fantastis. Namun setelah mencoba merasakan (walau baru coba panjat dinding), wow, ternyata opini saya mulai berubah.

Panjat tebing merupakan olahraga yang memang membutuhkan kekuatan fisik dan mental serta strategi yang bagus untuk mencapai puncak. Melatih keseimbangan koordinasi otak terhadap tangan, kaki, mata, dan keyakinan hati. Jika anda sudah pernah melakukannya, mungkin akan setuju dengan ini. Bagus juga jika dijadikan sebagai filosofi hidup. Butuh kesabaran dan kekuatan untuk mencapai titik puncak kejayaan dan kebahagiaan. Ternyata memang susah lho panjat dinding.

Tak sengaja aku mencobanya saat sedang jalan-jalan pagi di hari Minggu bersama suami dan kedua anakku, Shidqi Selma. Lokasinya di jalan Tegar Beriman, tepatnya di sudut lapangan depan kantor Bupati Kab.Bogor. Wilayah itu lebih dikenal dengan sebutan Pemda Cibinong, karena memang letaknya masih dalam kawasan kecamatan Cibinong. Dulu tempat tersebut menjadi populer karena ada pasar kaget yang cukup komplit dan panjang kawasannya. Bayangkan, hampir sepanjang jalan terisi berbagai pedagang kaki lima, kurang lebih 3 KM panjangnya. Mulai dari pakaian, makanan, minuman, cendramata, cemilan, alat rumah tangga, TV, Motor, Sepeda, perlengkapan bayi,  apa pun yang anda cari, tanpa sengaja pasti ketemu. Walau pun dengan harga yang terbilang tidak terlalu murah, tetapi terlihat selalu ramai.

Saat kami menepi di lapangan, terlihat beberapa anak-anak berlatih panjat dinding (kalau panjat tebing bila berada di alam bebas). Banyak sekali yang gesit. Tap, tap, tap, sepertinya mudah sekali. Dengan rasa penasaran aku bertanya pada salah satu pemandu. Berapa biaya bulanan dan tiap hari apa berlatih? Jawabannya: Rp. 200.000/bulan dengan alokasi jadwal latihan seminggu 2x setiap sore ba’da Ashar. Eh, ternyata di hari MInggu terbuka untuk umum, cukup bayar Rp.5000 saja bagi yang ingin mencoba. Wah, tawaran yang menarik, langsung kami ambil kesempatan itu. Berdua dengan suami menyiapkan diri, pede aja, pengen tahu rasanya bagaimana?

Pertama yang kami gunakan adalah Harnes, alat peyangga tubuh yang dilekatkan pada bagian pinggang hingga bawah panggul dan bokong, menopang badan dengan kuat. Harnes itu tentu saja terhubung dengan tali Karmantel (terbuat dari serat alam) yang dapat ditarik ulur, pastinya berguna untuk menyelamatkan para pendaki jika terpeleset. Dibagian perut tergantung kantong yang berisi tepung anti keringat yang terbuat dari magnesium. Rasanya memang kesat di kulit. Tentu anda tahu kan manfaatnya? Supaya tangan kita tidak licin saat mendaki.

ayah pakai harnes

Setelah semua bersiap, termasuk kedua pemandu yang saling sigap membantu memegang tali saat pendaki naik (digambar atas ya si mbak bercelana merah dan mas yang memasangkan harnes). Saat itu saya hanya bisa bersorak melihat suami jatuh terpeleset saat nyaris sudah mendekati puncak. "Mana semangatmu?? Setelah dia mencoba beberapa kali, akhirnya menyerah dan gantianlah denganku.

Yang pertama kali kurasakan adalah deg-degan, lama-lama ketagihan, penasaran soalnya.. Ingat, yang takut ketinggian jangan suka melongok kebawah ya, seketika semangat anda pasti akan kendur. Pusing ternyata. Hahaha.. Begitu pun aku, memulai strategi menitipkan ujung jari (yang saat itu bukan sepatu khusus panjat dinding tapi benar-benar telanjang kaki) pada batu buatan yang menempel di dinding. Kemudian mengangkat badan dengan kedua tangan ini. Langkah pertama mudah, kemudian cukup mudah, lama-kelamaan semakin tidak mudah, rasanya berat. Nafas jadi tersengal-sengal. Hufft, susah juga ternyata. Benar-benar harus kompak tangan dan kaki.

langkah awal


abis ini bersiap jatuh
Semakin tinggi rasanya bumi makin ingin menarik badan ini. Saya seakan memiliki bobot badan yang mirip tubuh kekarnya si makhluk hijau, Hulk. Apa karena amatir, gak ngerti tekhnik yang bagus, makin ke atas makin sulit mengangkat badan, sungguh berat. Tangan terasa kaku dan nyeri. Kemudian masih mencoba memijakan ujung kaki pada salah satu batu. Tiba-tiba terpeleset, swiiiiinnggg…ringan rasanya badan ini bergantung-gantung dan berayun turun menuju bawah, menuju hamparan tanah. Ini yang paling enak lho. Masih penasaran, ya naik lagi walau tetep gak bisa mencapai puncak. Gak lulus jadi spiderwomen. Senang sih rasanya walau esok harinya tangan dan paha terasa ngilu, ooh akibat tidak pemanasan terlebih dahulu. Ototnya pada kaget kali, maklum atlet dadakan, hehe..

Tingkah laku kami ditiru Selma yang sejak kecil memang terlihat tomboy dan tidak mengenal rasa takut. Dia sudah berani memanjat walaupun masih seusia 1.5 tahun (masih menggunakan popok). Suka kepergok tau-tau dia sudah bertengger di besi ranjang atau di atas televisi. Melihat itu, saya tidak langsung panik, hanya sekedar bicara; "hati-hati ya dek, jangan sampai jatuh! Turunnya pelan-pelan yaa..". Maka dengan tenang dia menyelesaikannya hingga mendarat di lantai. Ya, jika anak diberi kepercayaan, maka mereka memang benar-benar bisa menyelesaikan perintah. Menandakan bahwa daya tangkap mereka ikut berperan aktif menerima informasi.

manjat teruss

tau-tau udah nyampe ke atas, iiih..
Seketika sang kakak yang kebetulan takut ketinggian ikut meniru, tidak mau ketinggalan, ingin menunjukkan bahwa dia bisa, walau cuma sekedar di kayu ventilasi. Jadilah seperti ini. 

kami bisaaa..

Intinya jangan memandang remeh olahraga apapun, karena memang berat dan perlu latihan yang rutin. Dan yang menjadi poin kami adalah, memberikan contoh kepada anak maka akan tumbuhlah percaya diri dan minat anak terhadap olahraga. Bagaimana dengan anda? 


2 komentar:

  1. Hahaha... asli saya ngakak mba liat fotonya. Anak saya juga hobi panjat2, tapi keknya enggak kayak gitu banget hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya gak tau kenapa jd pada agresif

      Hapus

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com