NarasiLia.com

be a good life and happy family

Candu Minum Kopi

merangkai kata bersama si dia..secangkir kopi

Meskipun banyak nasihat yang menyatakan bahwa terdapat efek samping yang membahayakan tubuh akibat terlalu sering meminum kopi, namun pada kenyataannya aku malah makin ketagihan minum kopi. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang suka menulis, waktu senggang sangatlah sedikit. Ide-ide muncul justru ketika sedang mencuci, memasak, menyapu, mengepel, bahkan saat menemani kedua buah hati belajar dan bermain. Kesempatan menulis jelas hanya bisa tertuang pada malam hari ketika semua telah lelap tertidur. Jujur, rasanya ingin ikut merebahkan diri, menghilangkan lelah dan penat seharian. Tapi apa daya, keinginan terus menulis mendorong jiwaku agar bisa menahan kantuk. Saat itulah secangkir kopi ikut serta menemani.

            Dulu aku pernah meledek seorang sahabat yang hobinya minum kopi. Dia mengaku sanggup minum kopi di pagi, siang, dan malam hari. “Laila, masa perempuan doyan minum kopi kaya supir bus aja?” kelakarku.  “Eeeh, kamu belom coba aja. Nanti suatu saat…sepertinya kamu akan sepertiku. Jadi raja kopi. Kegiatan kita yang sering di depan komputer itu cukup melelahkan lho, paling nikmat ya minum kopi, lihat saja nanti..!”, jawabnya sambil tersenyum penuh makna. Kulihat diri menghilang hendak pergi ke pantry. Tidak sampai beberapa lama, dia datang kembali sambil membawa secangkir kopi susu, tentu dalam keadaan dingin terkena es batu. “Coba deh, kubuatkan khusus untukmu,” ujarnya sambil mengerlingkan mata.

            Seperti diingatkan kembali pada kejadian saat ngantor dulu. Ketika pertama kali aku terbujuk rayuannya dan luluh pada tawaran untuk meminum kopi buatannya. Akhirnya terbukti, aku benar-benar ketagihan. Sebagai indikasi, aku jadi sering tergoda untuk selalu membeli kopi di toko sembako, padahal saat itu niatnya hanya ingin membeli gula dan telur. Ah, kenapa jadi ikut terhitung belanjaan kopi? Hahaha..terjadi pergolakan dalam diri.

Dilema, tapi malah menyakini, ah sudahlah gak sering-sering kok. Cukup minum kopi saat menulis saja, walau akhirnya suka terjadi pelanggaran. Saat anak-anak tidur siang pun, akhirnya kopi tetap hadir di samping meja komputerku. Perjanjian hati yang dilanggar sendiri. Terkadang tersenyum sendiri, aiiih, dapurku penuh koleksi kopi serenceng. Aneka rasa lho, ada kopi susu, kopi rasa kacang, capuchino, mochachino, ataupun white coffe, persis warung kopi. Sttt, tenang…itu bukan semua untukku, tetapi buat persediaan sewaktu-waktu tamu datang..bener deh.. *terkesan pesan terselubung ya?

Kini kebiasaan meminum kopi bukan hanya saat menulis saja. Malah menjadi kebiasaan yang membuat candu dan rindu. Contohnya saat sumpek diperjalanan menunggu kendaraan (umumnya selalu menggunakan kereta), aku selalu melipir ke mini market sekedar membelikan susu kotak untuk kedua anakku dan tak lupa membeli sekotak kopi instan dingin siap minum demi keegoisanku.

Atau di saat-saat aku berkumpul dengan teman-teman komunitas jejaring sosial, kopi selalu menjadi menu pembuka sebagai sarapan pagi. “Kopi atau teh, mbak?” sang pelayan menyapa ingin menuangkan minuman ke dalam cangkir kosongku. “Oh, kopi”, jawabku spontan. Bukti nyata bukan? Kopi menjadi pilihan utama, tanpa melihat kapan dan dimana pun. Menyeruput secangkir kopi menjadi kenikmatan tersendiri.

kumpul bareng Kumpulan Emak-Emak Blogger
Atau pernah pada kejadian dimana perasaan ini sedang labil. Rasa tegar yang selalu ada sebagai penjual online saat itu agak melemah. Perasaan tertekan dari beberapa konsumen yang terkadang tidak mau tahu kondisi kita sebagai penjual, keterlambatan kedatangan pengiriman yang seharusnya bukan salahku, atau ocehan para penawar barang sudah menjadi warna dalam kehidupan perdaganganku.

Semua itu cukup mengusik kesabaranku, namun akhirnya secangkir kopi masih setia menemani. Sambil mengaduk perlahan, aku amati lamat-lamat alur perputarannya. Tenang mengikuti arus putaran. Seakan menghibur, hidup itu tidak sehitam kopi. Tambahi saja suasana putih, maka hitamnya kehidupan akan berubah menjadi warna yang lain.

Walaupun godaan itu sampai kini tetap ada, akan tetapi semangat meminum kopi harus dikurangi. Usia menginjak 35 tahun telah menjadi tolak ukur, aku harus berubah untuk bisa menjaga kondisi tubuh. Jujur, keseringan minum kopi juga membuatku malas makan. Sejak kebanyakan duduk dan sering minum kopi, ternyata membuat pinggang ini terasa sakit sebelah. Nyeri, seperti orang salah urat. Diurut-urut tapi tetap terasa kurang nyaman. Suami langsung menilai dan menghakimi, ”makanya banyakin minum air putih, jangan ngopi melulu! Ginjalnya kena kali tuuh”.

Hiyy, jangan sampai ya Allah, ngeri. Kondisi kami yang apa adanya, tidak berasuransi, haruslah taat menjaga kesehatan. Solusinya? Ya rajin minum air putih. Minimal 1 jam sekali aku harus minum segelas air putih. Bagaimana dengan kopinya? Yaa, sekarang cukup 2x sehari dengan formula yang sedikit lebih sehat. Perbandingan susu:kopi= 2sdm: 1sdm, cukup bagus tidak? He he.. Bagaimana dengan anda?


- by.Lia Lathifa

4 komentar:

  1. Saya kalau minum kopi bawaannya malah mau tidur.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe kok malah sebaliknya mas? terimakasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. aku mantan pecandu kopi lho.. hampir semua kopi kemasan pernah dicoba, jadi mulai yang paling item sampe yang paling putih.. yang terakhir adalah white coffee luwak..
    Sekarang lebih suka ngeteh, ngesusu atau ngeyogurt.. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih pengennya berenti, sering sebah dan jd pusing sekarang.. pengen ngikutin jejak mbak Rani, ngejus, ngesusu ^_^

      Hapus

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com

Author

Foto saya

Supermom, blogger, publisher, pengelola onlineshop, lulusan bidang nutrisi, mencintai kehidupan sederhana dan harmonis, suka naik kereta, makan rujak, dan penikmat musik klasik. Contact Person: bunda.shidqi@gmail.com

Follow This Blog