3/12/2013

Bagaimana Cara Hidup Menjadi Tenang?

Seringkali orang dewasa terlalu pintar, terlalu mengukur, terlalu menggurui (diri sendiri), terlalu pesimis, sehingga apa yg terjadi? KETAKUTAN yang dibuat-buat. Padahal menurut buku Ippho Santosa, itu hanyalah kendali otak kiri yg terlalu besar, sehingga otak kanan yg seharusnya mengatasi ketakutan menjadi terjepit kedudukannya. 

Padahal pula, Allah sudah menjamin akan mengamankan hambaNya dari rasa takut jika manusia menyembahNya (QS.Quraisy {106}: 3-4)  
"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) Ka'bah"
"yang telah memberi makanan kepada mereka utk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan"

Anak-anak kita, mereka menggunakan otak kanan (nyaris seperti tidak pernah berfikir), tapi lihatlah..betapa mereka selalu terlihat tertawa..tertawa..apa-apa tertawa, seperti tidak ada rasa takutnya. Mereka malah sepertinya lebih yakin kepada tuhannya, yaitu ya Orangtua. Mereka yakin bahwa kalau lapar ya minta saja kepada orangtua, kalau takut yaa panggil saja mama papa. Simple. Asaaaal, tetep patuhi anjuran dan menjauhi larangan orangtua. 
Sedangkan kemana orangtua yakin? kemana orangtua lapar dan merasa tidak punya makanan, Yaa kepada Allah.. Kemana orangtua mencari perlindungan? ya kepada Allah juga toh. Bener gak? Asaaaal, tetep patuh  peraturan dan menjauhi larangan-Nya. Nah bagaimana dengan anda?

teringat dulu nasihat ayah yg cukup bijak, bacalah:

my kids on their dreams
dulu alm.ayah berkata, "saat kamu berumahtangga nanti, camkan pesan ayah!"
"apa itu?" tanyaku.


"dalam menghadapi masalah hidup, berfikirlah layaknya anak kecil!"

"hah? kok begitu yah? gak salah?" terasa dahi ini menyerengit saat itu, aneh dan bingung.


"ya, coba kamu ingat dan lihat, betapa santainya anak-anak kecil menghadapi hidup mereka. Apapun masalah, mereka hadapi dengan bahagia, tanpa berfikir macam-macam, tanpa berfikir ketakutan yang belum tentu terjadi. Saat mereka haus, lapar, kedinginan, sakit, sehat, banyaknya keinginan, apa yang mereka lakukan?"



"Tinggal nangis minta sama ayah dan ibu, kalau jadi anak yang baik mereka makin disayang, kalau nakal sempet dicubit sih walau akhirnya dibaikin lagi," jawabku.



"Tepat. Begitu pun suatu saat nanti jika kamu tidak lagi ada ayah dan ibu. Carilah pengganti kami, yaitu Allah SWT, Maha Kasih dan Sayang.

Saat kamu merasa banyaknya keinginan, tapi kamu merasa tak mampu, apa yang nanti dilakukan?". 


Aku mulai meraba arah pembicaraan, " hmm..setidaknya menangis dan memohon kepada Allah, kita juga harus jadi hamba yang baik, dan terus menjalankan apa yang diperintah Allah juga menjauhi apa yang dilarangNya?"

Tempat peristirahatan my parents


"Hebat, kamu pintar, kamu ternyata faham". Senyum ayah mengembang dibibirnya.



#kangen.. kini hal itu telah kujalani, ayah :'(





tulisan ini tertulis juga pada Facebook BundaShidqi Lia, semoga menjadi tambahan catatan amal baik untuk kedua orangtuaku, amiiin



2 komentar:

  1. Seneng banget baca postingan nya mbak.. ☺
    Kita punya jalan yg sama :D

    Semoga amal ibadah orang tua nya di terima ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih doanya mbak, amiiiin.. semoga kita tetap istiqomah ya mbak :)

      Hapus

Hallo teman, terimakasih banyak sudah membaca dan berkunjung ke sini. Tinggalin jejak dong dengan komentarmu, seneng banget rasanya.

Eh iya, tapi mohon maaf, komentarnya tetap dimoderasi agar terhindar dari spammer. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut, monggo hubungi saya via email di: bunda.shidqi@gmail.com

Author

Foto saya

Supermom, blogger, publisher, pengelola onlineshop, lulusan bidang nutrisi, mencintai kehidupan sederhana dan harmonis, suka naik kereta, makan rujak, dan penikmat musik klasik. Contact Person: bunda.shidqi@gmail.com

Pengikut