Kondisi Transportasi Darat di Jakarta


Datang ke Jakarta dan berkendara? Jangan harap menggunakan mobil, motor saja sering kali kena dampak macet. Kenapa? Kalau sering memantau perkembangan, hal ini dikarenakan jumlah pengguna mobil dan motor sangat membludak, pembangunan jalan juga bisa menjadi alasan penyebab kemacetan. Menjadi pejalan kaki saja sering kali terganggu oleh para pedagang dan motor yang berseliweran menempati trotoar. Mau naik bus umum atau angkot? Mau tidak mau harus merasakan kesal. Karena sering merasa waktu habis terbuang untuk ikut ngetem, si sopir menunggu penumpang. Sangat beruntung jika angkutan tersebut langsung terisi penuh. Belum lagi kondisi di dalamnya seadanya, kumal dan kotor. Sungguh tergambarkan kesemrawutan dan kurang nyamannya transportasi darat di Jakarta.
Bagaimana bila menggunakan kereta listrik? Dengan kenaikan tarif tidak menjamin ketepatan waktu kereta datang, sering beralasan belum tersedianya gerbong di stasiun, sehingga mengalami keterlambatan, tidak sesuai dengan jadwal keberangkatan yang sudah terpampang rapi di papan informasi. Belum lagi peminat kereta kian bertambah, seringkali padat dan sesak bila berada di dalamnya, khususnya pada jam pergi dan pulang kantor.
Demikian pula halnya dengan busway, tidak jauh berbeda dengan wajah perkeretaapian di Indonesia. Ketersediaan bus dengan jumlah peminat belum seimbang, seringkali tetap terjadi kepadatan di dalamnya. Jarak waktu kedatangan juga terasa amat lama. Pelayanan para petugas pun harus perlu ditingkatkan. 

Pernah suatu kali, saya sebagai seorang ibu dengan membawa anak kecil yang kebetulan saat itu pulang malam, terpaksa harus turun di shelter busway. Terlewat, akibat sang penjaga pintu malah mengobrol dengan salah satu penumpang wanita, membuat dia tidak bersiaga menginformasikan di mana posisi pemberhentiaan saat itu. Sungguh kesal saya dibuatnya, terpaksa turun di pemberhentian berikutnya. Jelas saya tidak mau disalahkan, karena memang saya adalah penumpang yang tidak terlalu hafal tiap-tiap shelter. Saya baru kedua kali naik.
Tambah sedih dan kesal, saat kami tidak diizinkan menggunakan busway arah balik jika tidak membayar tiket. Dengan alasan harus membeli tiket baru dan itu bukan jalur transit. Oke, memang sebaiknya begitu, tetapi dalam kondisi malam hari, kondisi kami harus berjalan kaki menuju arah balik ke Stasiun Cawang, Cikokol yang jaraknya hampir 1 kilometer. Bisa dibayangkan, betapa naifnya.
kondisi di dalam Commuterline ketika lengang
Walaupun demikian, kereta Commuterline dan busway masih tetap memiliki poin positif yang tinggi. Akibat maraknya pelecehan seksual di kendaraan umum, sekarang transportasi tersebut memiliki ruangan khusus wanita. Tersedia tempat duduk untuk wanita hamil, membawa anak kecil, penyandang cacat, dan manula, membuat kenyamanan tersendiri dan dilengkapi AC walau biaya tiket yang terjangkau. Ketersediaan kereta hingga waktu malam dan penambahan jumlah personil keamanan pun membuat penggunanya tak perlu khawatir jika pulang kemalaman.


Foto ilustrasi, semoga tidak terjadi di Indonesia
Namun kondisi itu belumlah terjadi pada kereta listrik ekonomi. Sesak, panas, terkesan kumuh, asap rokok, juga masih seringnya para pengemis dan penjual kaki lima berkeliaran di dalam kereta membuat bepergian terasa sangat menyebalkan. Kini dengan bergantinya kepemimpinan PJKA, mereka mulai berbenah. Walau belum maksimal, namun tetap kita harapkan semoga kereta api di Indonesia bisa mewakili menjadi salahsatu alat transportasi yang sangat baik dalam peningkatan mutu dan pelayanan. Demikian untuk transpotasi lainnya, kita tunggu saja.



me and kids

CURHAT BISNIS : Mulai Es Mambo, Ikan Hingga Urusan Popok, Bisnisku Bagai Anak Tangga.

SI PEMALU YANG GENGSI JUALAN
Bermula dari kebutuhan mendesak, pada tahun 2007, aku si wanita pemalu dan memiliki sifat gengsi, yang tidak terfikir sama sekali untuk menjadi pedagang, mencoba peruntungan dari berjualan es mambo. Sekedar pengisi waktu kosong. Tiap waktu yang tersisa dalam mengurus buah hatiku Shidqi, kusela waktu untuk memasak air dan gula, kemudian kutambah sirup, membungkus satu persatu air sirup tersebut, memasukkan kedalam freezer, dan keesokan paginya kutitipkan pada warung yang ada di komplek kecilku ini. Tiap sore kuambil dan kuhitung keuntungannya, yah..ternyata minat anak-anak terhadap es mambo pada jualan perdanaku ini belum menyenangkan hati.

Tak putus asa, tiap hari tetap kulakukan hal yang sama, masih dalam jumlah keuntungan yang biasa, sang ibu warung hanya berkata membuat laporan: “kalah saing sama minuman gelas ‘gopek’ mbak”, aku hanya tersenyum. Tiap bulan terus kulalui, sang ibu warung juga tak bosan memberi laporan: anak-anak sebenarnya mau, cuma gak boleh jajan es, jadi yang beli hanya anak-anak remaja saja”, aku hanya bisa tertawa dan ucapkan terimakasih. Hingga dalam waktu setahun, keuntungan yang paling membahagiakanku adalah pada bulan April, hanya satu dari duabelas bulan, es mambo jualanku ludes dalam sehari.

Setahun itu terasa cukuplah bagiku, termenung mengingat kisah dulu almarhum ibu pernah mengingatkan, “dulu waktu ibu masih kerja menjadi suster, ibu tidak pernah malu untuk berjualan combro, dek. Ibu jual kepada dokter-dokter di sana. Kamu keturunan Padang, harusnya kamu mempunyai jiwa pedagang, tidak boleh malu, buang jauh-jauh gengsimu itu!”.  Apa mau dikata? Gak mau kok dipaksa, memang gak bakat, gerutuku. Blep! Terasa kenangan itu terhapus dari ingatanku.


Balada Blender

Cerita ini bukan hanya cerita biasa, bagi saya ini adalah pembuktian. Pembuktian bahwa keberuntungan sedang berpihak kepada kami. It's All About LUCK.

Hari itu, Senin, kami kebanjiran order pepes ikan mas presto. Ya, total 12 kg pesanannya. Alhamdulillah, di tengah kesempitan keuangan kami ternyata ada aja rejeki yg hadir. Mulai menyicil membeli bawang, cabai, bumbu dapur, daun singkong, daun pisang, daun kemangi, gula dan garam. Sebelum membeli ikan, bumbu harus segera diolah. Tujuannya agar ikan tidak terlalu lama menunggu saat waktunya dibumbui. Jadi tetap dalam keadaan fresh.
Semua mulai lancar, namun tiba-tiba blender Phillip-ku berasap, haduh ada yang terbakar. Gimana nih, tanggung sudah mulai sore, sedikit lagi (padahal masih satu baskom kecil lagi, he he). Blender itu kupaksa tetap menggiling. Tak lama kemudian, pêt!! Mati lampu, blender mati juga.. Listriknya korsleting! Wuaaa, kepanikan mulai melanda. 
Janji pengiriman hari Rabu, harus segera dikerjakan toh. Rencana hari Selasa membeli ikan, menyiangi, malamnya membumbui, membungkus dan proses presto agar segera dimulai. Sepertinya harus ditunda. Apalagi hari Kamis pagi saya harus berangkat ke undangan acara peluncuran buku terbarunya Fira Basuki di Kembang Goela Resto. Janji gak boleh batal mendadak.
Suamiku ikut panik, blender kesayangan yang telah berusia 3th itu teronggok minta dikasihani. Suamiku segera mencari onderdil untuk memperbaiki. Tak banyak pilihan, kenyataannya tidak setiap toko menyediakan sparepart yang dimaksud. Nyaris blender second dia beli, sebelum akhirnya kutolak. Berpikir keuntungan pepes itu tidak sebanding kalau hanya untuk membeli blender yang kwalitasnya belum tentu sebaik yang kita kira. 
“Sudahlah yah kita kerjakan saja pelan-pelan. Bunda sudah pinjam cobek tetangga. Yuk, kita begadang saja!”
Singkat cerita akhirnya kami bisa menyelesaikan semua proses membuat pepes duri lunak. Esok hari siap dikirim oleh suami. Namun tiba-tiba anak kami, Selma, demam. “Ya Allah, ini akibat kami sibuk di dapur mungkin ya? Badannya panas. Bagaimana besok ini? Terpaksa harus dibawa ke acara tersebut. Gak enak kalau tiba-tiba batal,” gumamku dalam hati.
Ayahnya pun tidak banyak bicara, hanya berucap “ memang Selma tetap diajak?”
“Iya, insyaallah gak apa-apalah. Ini kesempatan bunda yah, sayang kalau dilewatkan. Apalagi pesanan pepes kita juga sudah beres kan? Boleh yaa..” ujarku merajuk.
“Ya sudah, berangkat aja. Hati-hati dijalan!”
Keesokan harinya, pagi jam 7, aku dan Selma berangkat menuju Jakarta menggunakan kereta. Turun di stasiun Cawang, dilanjutkan dengan busway sampai di shuttle Semanggi. Dari sana kugendong Selma hingga sampai ke tujuan. Kurang lebih 10 menit berjalan kaki sampai di Kembang Goela Resto, yang letaknya di belakang Plaza Central, dekat juga dengan RS. Jakarta. Kami ikuti acara yang keren itu sampai selesai.
Disinilah “miracle” itu muncul. Ketika sesi tanya jawab, aku hanya seribu bahasa mendengarkan dengan seksama. Selma juga Alhamdulillah anteng, tidak rewel meskipun badannya semakin hangat, sampai akhirnya dia tertidur di pangkuanku. Ketika host Alvin Adam mengajak para undangan untuk bercerita seputar pengalaman “Berani Kotor”, tidak ada satupun yang berebut mengangkat tangan. Suasana justru hening. Tiba-tiba tangan ini spontan mengangkat. Menyusul akhirnya mbak Sumarti Saelan anggota KEB juga ikut menunjuk. Kami berdua berkomentar tentang pengalaman masing-masing tentang mengajak anak berani bermain diluar walau keadaan kotor.

Tak diduga ternyata aku dapat hadiah, didatangi oleh mbak Fira Basuki sendiri untuk menyerahkan kado tersebut. Karena Selma masih tertidur, aku tidak bisa maju ke depan. Kecupan mbak Fira di pipiku dan kilat kamera para wartawan terasa sangat menakjubkan. Iih, Fira Basuki gitu lho! Aku bak pemenang award kali ya? J.. Apalagi hadiahnya cukup tinggi besar lho, apa ya gerangan?

Selesai acara kami beramah tamah dengan sesama peserta, diselingi makan siang. Hari itu benar-benar membuatku merasa beruntung. Acara keren, makan siang yang nikmat, diwawancarai BChannel untuk memberikan kesan dan pesan acara peluncuran buku ini, untuk tayangan Karena Aku Wanita. Eiya, disapa pula oleh mas Alvin Adam yang ramah banget saat tangan ini menggotong kado dan menuntun Selma, "Selamat ya dapat hadiah," ujarnya, serta dapat tanda tangan dan foto bareng dengan mbak Fira Basuki. Hati ini terasa bernyanyi riang, menghibur kelelahan diriku kemarin.

Sesampainya dirumah, aku langsung abadikan semua bawaan. Ada goodiebag yang isinya kaos, buku baru, kendi kecil, daaan sebuah kotak kado yang tinggi. Jepret!
“Apa ini bunda?,” tanya Shidqi, putra sulungku.
“Yuk kita buka bareng-bareng! Bunda juga gak tau.”
Pelan-pelan kutarik pitanya, kubuka lakban demi lakban, sampai akhirnya terbuka sebagian. Makin tak sabar, niat ingin membuka dengan perlahan akhirnya sampul kado robek sebagian. Penasaran dengan isinya, akhirnya.. Kubaca tulisan di kardusnya: ELECTROLUX Blender.

“Ayaaaaaahhh, Bunda dapat hadiah blendeeerr!!!” teriakku sambil sujud syukur. Suamiku terlihat tertegun. “Beneran?”. Aku mengangguk dan menyodorkan kepadanya.
Terimakasih ya Allah, Engkau Maha Tahu kegundahan kami. Walau seperti anak kecil yang kedapatan balon, tetapi kami merasa inilah berkah sabar dan tidak menyalahi janji, it's our luck, wallahu a’lam bishshowab.

Cerita ini sekaligus untuk disertakan dalam , Wish me Luck!

Menikmati Syahdunya Kembang Goela Restoran


Kembang Goela Resto, restoran bergaya rumahan yang apik, tradisional, namun mewah. Terletak ‘nyempil’ diantara belakang gedung Plasa Sentral dan Mc.D, Jl.Jend.Sudirman kav. 47-48, Jakarta Selatan. Kebetulan saya dari daerah Bojong Gede, Bogor. Menempuh perjalanan dari stasiun Bojong Gede sampai di stasiun Cawang. Lalu menyambung dengan busway koridor 9 atau 10 sampai di shuttle Plaza Semanggi. Untuk sampai di sana, anda bisa transit naik busway jurusan kota, atau jalan kaki saja melewati belakang parkir plaza.

Lokasinya pun tak jauh dari RS.Jakarta dan MRCCC Siloam Hospital. Bahkan kalau anda sedang berada di Plaza Semanggi bisa mampir ke sana, karena bisa ditempuh berjalan kaki tak kurang 10 menit. Jika menggunakan busway, bisa turun di shuttle Jl.Jendral Sudirman. Tapi yang membuat saya heran, ternyata tidak semua orang tahu dimana lokasi Kembang Goela Resto itu jika anda bertanya sesaat pada orang-orang yang berlalu lalang, begitu juga satpam RS. Jakarta, wow, apa karena tempatnya sangat ekslusif ya?

             Tiba di Kembang Goela Resto, saya menemui 2 pintu besar. Ternyata di dekat pintu masuknya kita disuguhi kolam berisi ikan dengan gemericik air bening penuh suasana harmonis. Pintu kayu yang besar dan berat saat mendorongnya membuat kita makin penasaran bagaimana lokasi di dalamnya. Taraaa.. nuansa nyaman dan mirip suasana rumah akan kita temui di sana. Ada beberapa ruang ekslusif yang sepertinya diperuntukkan untuk pertemuan khusus. Saat itu sedang digunakan untuk Fira Basuki dan tim yang akan menggelar acara peluncuran buku baru yang ke 27, berjudul Cerita Dibalik Noda, pagi itu tanggal 31 Januari 2013.
    
kolam jernih ditepi pintu masuk

Dan terdapat dua ruangan besar berisi meja-meja makan beserta kursinya yang khas terbuat dari kayu yang kokoh, benar-benar bernuansa alami. Temaram lampu-lampu cantik yang tidak terlalu menyolok, nyaris redup (sampai mau foto-foto aja, suasananya jadi remang-remang, apa mungkin kamera HP saya yang kurang canggih J) cukup menerangi suasana resto tersebut. Oya, langit-langitnya juga dihias hamparan kain tile, tiap sudutnya dibingkai rangkaian bunga dari kain itu sendiri. Ada hal unik juga disana, ada beberapa alat permainan congklak di tiap sudut tempat. Mengingatkan saya pada permainan tradisional klasik jaman dahulu ketika saya kecil. Sepertinya sekarang ini sudah semakin jarang saya temui.
             
Yang membuat semakin nyaman adalah kamar mandinya. Yeah, kamar mandi adalah nomor satu. Tidak saya temui kamar mandi yang jorok dan kotor. Namun justru kebalikannya, kita akan nyaman di dalamnya. Toilet bersekat pintu-pintu cermin yang cantik, disudutnya terdapat bunga-bunga segar, wastafelnya berupa wadah kaca, , ada sebuah meja dan kursi antik (entah buat apa dan siapa, yang jelas enak duduk disana buat narsis foto-foto), serta pajangan baju kebaya yang dipigura dalam ukuran besar.



            Kita akan dilayani oleh para pramusaji berpakaian nuansa kebaya. Soal makanan juga tak kalah nikmat. Ah sampai lupa apa saja namanya. Yang pasti saya menikmati Nasi Goreng, Balado Buntut, Tumis Brokoli, Krupuk, dan lain-lain. Tak lupa menikmati puding dan es campur. Yang paling sedap saat siang itu adalah Asinan Sayoer, bumbu kacangnya lembut, gurih, asam, manis, aseeeemm.. cocok membuat mata ‘melek’ di kala ngantuk.
            
So, bagi yang belum coba kesana. Mampir aja, suasana santai dan nyaman akan anda temui di sana. Untuk keterangan lebih lanjut coba saja hubungi: (021) 520-5651. Tidak ada unsur promosi, saya hanya mengungkapkan suasana hati. ^_^
               

Peluncuran Buku Baru Fira Basuki: Cerita Dibalik Noda


Di penghujung bulan Januari 2013, Fira Basuki (40 tahun) seorang penulis buku-buku Best Seller, ibu dari dua orang anak, dan pimpinan Redaksi majalah Cosmopolitan ini meluncurkan buku terbarunya yang ke-27 berjudul: “Cerita di Balik Noda”. Buku ini bertajuk tentang kisah-kisah inspirasi jiwa keberanian anak-anak yang tak peduli bajunya kotor demi niat baik yang kadang tanpa di sadari orangtua. Dengan menggandeng deterjen brand terkenal yaitu Rinso Anti Noda dan psikolog keluarga Sani B. Hermawan. 
Acara ini berlangsung cukup syahdu di Restoran Kembang Goela yang berlokasi di belakang gedung Kedutaan Kolombia Plaza Sentral, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 47-48. Posisinya juga tak jauh dari RS.Jakarta dan MRCCC Siloam Hospital. Saya ikut hadir dalam acara tersebut bersama para wartawan dan Kumpulan Emak-Emak Blogger. Tak lupa membawa putri kecil saya, Selma, yang kebetulan saat itu sedang demam. Namun karena sudah harus menepati janji saya harus hadir di acara ini, maka saya usahakan datang bersama dirinya. Salut for you Selma!

kalem soalnya lagi demam, hehe
suasana sebagian acara
bersama mbak Nunik penulis buku anak
Buku yang mempersembahkan 42 cerita inspiratif ini diambil dari 38 kisah cerita Ibu Indonesia yang pernah dilombakan oleh Rinso Indonesia melalui sosial media Facebook. Sedangkan 4 cerita lainnya disumbangkan dan ditulis oleh Fira. Antara lain berjudul: Bos Galak, Sarung Ayah, Pohon Kenangan, dan Foto. Ada hal menarik dari cerita: Sarung Ayah, Fira terinspirasi dari pengalaman pribadinya yang amat terkesan dalam lubuk hatinya, yaitu sarung almarhum suaminya yang sering menjadi bahan candaan. Adapun cerita Bos Galak, pada kenyataannya bos galak itu ada sebabnya, mukan semat-mata memang dia adalah orang yang sangat sombong atau ditaktor, namun ada cerita dibalik noda. Baca saja nanti.

asyiiik foto bareng, thanks mbak Fira
Fira percaya buku ini dapat menginspirasi pembacanya dari semua kalangan tak terbatas hanya dari bu, akan tetapi dari ayah, calon ayah, calon ibu, bahkan calon suami. Dan dia berharap buku ini dapat memliki peran dalam hal pengasuhan dan pembentukan landasan moral anak-anak serta merangsang terjadinya komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak mengenai apapun yang mereka rasakan.

Psikolog keluarga sekaligus direktur konsultan di Klinik Daya Insani, Sani B Hermawan, juga sependapat dan mendukung sera merasakan bahwa sangat penting membiarkan anak mengeksplorasikan diri dan dunianya scara leluasa. Saat mereka menjelajahi alamnya, noda adalah hal yang tidak pernah bisa dihindari. Noda tanah, lumpur, pasir, krayon, cat air, spidol tak pelak akan selalu ‘mampir’ di baju anak-anak. Seorang ibu yang mendukung anaknya bebas bereksplorasi akan mendapatkan anak-anak yang berkarakter, percaya diri, dan memiliki perkembangan mental dan fisik yang optimal.

Tak terkecuali Rinso yang merupakan produk nasional deterjen pertama di Indonesia, mendukung penuh karena memiliki visi yang sama yaitu percaya setiap noda yang hinggap di sana terdapat nilai penting dalam perkembangan dan pertumbuhan anak-anak. Rinso mengajak para orangtua untuk memberikan kebebasan berekspresi dalam kreatifitas anak meskipun baju mereka kotor. Dengan kotor itu, anak-anak bisa mendapatkan pengalaman yang kaya sejak kecil hingga dewasa.

Mari sebagai orangtua, kita bebaskan anak kita dalam mengekspresikan diri, berani berlumpur, tidak jijik dengan tanah, dan berani mengaplikasikan diri melalui krayon, cat air, minyak, dan lain-lain. Namun tetap berikan jalur yang baik dan bimbing mereka tanpa menuntut yang berlebihan. Berikan contoh yang baik maka anak akan makin percaya diri dan kreatif.

Catatan:
Judul Buku                  : Cerita Di Balik Noda (42 Kisah Inspirasi Jiwa)
Penulis                         : Fira Basuki
Editor                           : Candra Gautama
Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit               : 2013
Jumlah Halaman        : 248 hal
Harga                           : Rp. 40,000
Dapat diperoleh         : TB. Gramedia, Carrefour, Toga Mas, Gunung Agung, dll

Rujak Tidak Identik Dengan Kehamilan

Siapa bilang yang suka makan rujak itu adalah wanita yang sedang hamil? Tidak semua wanita hamil mengalami ngidam makan rujak. Ada beberapa kasus yang justru membantah perihal tersebut, contoh nyatanya adalah saya. Ini cerita saya yang sempat dimuat di Tabloid Nakita.


RUJAK OH RUJAK

Sejak kecil aku adalah penggemar rujak, sampai sekarang ini. Dari dulu jajananku adalah jambu air, mangga muda, kedondong, gowok (buah ini mulai langka), atau belimbing wuluh, semua sanggup kusantap. Tiada hari tanpa rujak. Pagi, siang bahkan malam hari. Mengunyah buah masam dengan garam atau bumbu rujak pedas manis itu laksana makan nasi dan menjadi daftar menu utama. Keunikan itu membuat diriku dijuluki si cewek rujak. Namun anehnya, saat aku hamil, tidak ada sedikit pun keinginan untuk makan rujak. Ditawari pun, aku hanya menyoleknya sedikit, sekedar menyambut ajakan teman atau menghormati oleh-oleh suami pulang dari kantor. Demikian pula saat hamil anak kedua. Kejadian itu terulang lagi, aku sama sekali tidak mengidam rujak. Lucu ya, entah apa yang membuat aku seperti memusuhi makan rujak. Penasaran bagaimana setelah aku melahirkan? Hoho, kegemaran makan rujak kembali bersemi pada kebiasaanku. Rujak oh rujak, selalu ada dalam benakku.

ini versi setelah dipublikasikan, sedikit ada edit dari redaksi,  sepertinya..
cuplikannya

Itulah tulisan saya.. alhamdulillah dapat bingkisan 2 buah buku Nakita senilai 90rb..

Mau Bahagia Dunia Akhirat? Pakai Jurus 69 deh..

Ini Lho! Gaya “69″ yang Dibenarkan Islam



Money Flower.

Jujur, judul salah satu artikel di LensaIndonesia.Com, membuat saya tergelitik dan sangat penasaran. Setelah saya membacanya, wow, luar biasa!
Angka 69 yang terkenal sebagai simbolik salah satu gaya bercinta ini diulas secara cerdas, berdasarkan pemikiran Islami, tanpa menggurui dan justru sama sekali tidak mengarah kepada pornografi.

Cuplikannya sebagai berikut:
Jika anda seorang muslim/muslimah, maka Anda harus melaksanakan gaya “69″ ini guna memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Coba lakukan 6 gaya dan hindarkan 9 gaya ini, Insya Allah akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa:
6 Gaya hidup yang kita LAKSANAKAN:
1. Yakin dengan sebenarnya kepada Allah SWT dan Rasulullah saw
2. Sholat lima waktu jangan ditinggalkan, usahakan berjamaah di masjid
3. Belajar terus ilmu agama dan jangan lupa dzikir kepada Allah.
4. Sayangi sesama saudara muslim dan berakhlak mulia kepada semua makhluk
5. Ikhlas dalam berbuat sesuatu tanpa mengharap imbalan semata-mata karena Allah SWT.
6. Berjuang membela agama dengan cara mendakwahkan agama dimanapun berada.

9 Gaya hidup yang kita HINDARKAN:
1. Syirik (tidak percaya dengan kekuasaan Allah).
2. Ingkar kepada Nabi dengan cara mendustakan sunnah-sunnahnya.
3. Mengikuti gaya dan pola hidup yang tidak Islami dalam perbuatan sehari-hari
4. Menghabiskan waktu dengan pekerjaan sia-sia demi kesenangan sesaat
5. Tidak mau belajar agama.
6. Tidak pernah ingat kepada Allah.
7. Egois dan individualistis
8. Semua tindakan yang dilakukan harus ada imbalan
9. Terlalu cinta dunia dan takut mati

Itulah gaya “69″ yang Insya Allah akan membawa kebahagiaan kepada kita semua

Ya kan? hehehe.. anda gak akan mengira, jurus 69 ini dirangkai apik, tidak sama sekali terkesan porno, esek-esek, apalagi jorok, sehingga menjadi salah satu resep bahagia dunia dan akhirat.
Semoga menjadi inspirasi dalam melaksanakan kebahagian kehidupan dalam keluarga kita, aamiin.